Agus' posts with tag: umum
Coba di cerna dulu sebelum protest...!! Ada yang punya analisa: Harga BBM Naek, Jumlah rakyat miskin turun..?! Kayak yang dibilang LPEM bahkan sampe 14% lebih kalo. Analisanya sbb : >- Harga BBM naek - tadinya rakyat miskin yang naek bis, sekarang jadi jalan kaki.. trus dijalan ketabrak metromini yg ngebut karena nguber setoran (soalnye BBMnya naek) trus mati.. --> RAKYAT MISKIN BERKURANG >- tadinya rakyat miskin makan sehari sekali.. trus jadi makan sekali buat 3 hari ( karena daya belinya turun).. lama - lama mati.. --> RAKYAT MISKIN BERKURANG >- tadinya rakyat miskin yang pada sakit masih bisa beli obat generik.. trus gak bisa beli lagi .. ato tadinya ke puskesmas bisa naik angkot sekarang jalan kaki jadi malah mati di jalan..--> RAKYAT MISKIN BERKURANG >- ada rakyat miskin yang jadi stress... mikirin BBMyang naek, saking mikirnya.... ampe lupa makan dan minum....akhirnya mati juga. --> RAKYAT MISKIN BERKURANG >- ada rakyat miskin yang kreatif dan berinisiatif. ... buat menuhin kebutuhan dia nyolong ayam tetangga.... ketangkep, digebukin massa .....ampe mati juga. --> RAKYAT MISKIN BERKURANG >- rakyat miskin di RT 004 berebut kartu BLT yang masih lagi di print, antem-anteman sampe mati --> RAKYAT MISKIN BERKURANG >- rakyat miskin RT 004, gak puas dengan kepemimpinan pak RTyang gak adil, lalu pak RT diantemi sampe mati --> RAKYAT MISKIN BERKURANG >- rakyat miskin dari RT004, antri mencairkan dana BLT di kantor pos Nunggu berdesak-desakan berjam-jam, berhari-hari, berminggu-mingu ahirnya mati di kantor pos --> RAKYAT MISKIN BERKURANG kenapa bisa dapet angka 14 %.. karena dari 100 orang miskin itu.. yang mengalami kejadian diatas ada 14+5 orang maka dapet angka 8+4+2+5 dibagi 100 kali 100% = 14 % + 5%
Demikian analisa ini dibuat secara sederhana, mudah dicerna, anti njlimet.. Jadi kesimpulannya : Langkah pemerintah naekin bbm sudah cukup tepat.... hanya saja naeknya kurang tinggi. Coba kalo dinaekin tinggi2.... pasti makin cepat lagi pengurangan rakyat miskin di negeri ini. Semoga pemerintah kita membaca analisa ini.... dan segera saja naekin lagi bbm setinggi - tingginya biar tambah banyak org jadi maling ayam, kalo digebukinnya gk sampe mati kan lumayan tuh bisa makan gratis di penjara ketimbang di rumah mau beli makanan yg semakin naik harganya karena makanan diangkut pake transportasi, lha wong bbm naek kok tarif makanan gak boleh naek .
(Serius Amat, termasuk orang miskin ya.... he he he)
Sumber : Milis tetangga
Beberapa media cetak nasional memberitakan bahwa kenaikan harga BBM masih dihantui ketidakpastian. Ketidakpastian ini menimbulkan efek ketidakpastian dimana – mana. Rakyat kecil antri di SPBU, di pangkalan minyak tanah, dan di kios LPG adalah beberapa contoh reaksi masyarakat yang juga dipicu oleh penimbunan BBM untuk mendapatkan keuntungan lebih, baik melalui selisih harga jual atau bisa jadi dijual kepada industri. Belum lagi berimbas pada kenaikan 9 bahan pokok yang semakin mencekik rakyat kecil. Kenaikan BBM ini - yang katanya pernah dijanjikan tidak akan naik - adalah untuk mengurangi subsidi yang membebani APBN. Opsi menaikkan selalu dikatakan merupakan opsi terakhir, namun pertanyaannya adalah jika ini opsi terakhir maka opsi yang lain manakah yang SUDAH dilakukan oleh pemerintah sehingga opsi terakhir ini harus dilakukan.
Definisi Subsidi Definsi Subsidi versi pemerintah adalah pembiayaan yang ditanggung oleh pemerintah atas selisih harga jual di pasar bebas dengan harga jual kepada rakyat. Sehingga jika disebutkan pemerintah melakukan subsidi atas BBM atau minyak goreng, berarti terdapat pos dalam APBN untuk membiayai selisih harga tersebut. Padahal seperti kita ketahui bahwa BBM itu sebagian besar diambil dari dalam tanah Indonesia, yang sesuai dengan amanat UUD 45 maka harus digunakan untuk kemakmuran rakyat. Jadi mengapa harus menggunakan istilah subsidi untuk sesuatu yang diambil dari dalam tanah Indonesia?
Sudahkah Opsi Lain dijalankan? Rakyat sangat tidak mengerti apakah pemerintah memang tidak mampu mencari opsi lain, ataukah tidak mau melaksanakan opsi lain tersebut sehingga menaikkan BBM adalah ‘satu – satunya’ opsi yang mungkin dilakukan oleh pemerintah. Mari kita khusnudzon bahwa pemerintah kita sebenarnya ‘mampu’ mencari opsi lain, namun ‘belum mau’ sehingga membutuhkan kita untuk mendukung dan mendorong dilaksanakannya opsi lain tersebut. Dan sekedar untuk mengingatkan, dibawah ini beberapa opsi yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi krisis energi yang diakibatkan oleh kenaikan harta BBM.
1. Opsi Efisiensi Anggaran APBN dan APBD kita ternyata berisi hal – hal yang seolah – olah negara kita adalah negara maju yang seolah – olah tidak perlu lagi efektif dan efisien dalam pengelolaan anggarannya, ini belum bicara berapa banyak yang dikorupsi. APBN dan APBD yang disusun bersama pemerintah dan legislatif masih kurang berpihak kepada rakyat. Andaikata pos – pos didalamnya bisa diefesienkan, maka sebenarnya opsi menaikkan harga BBM bisa dipertimbangkan. Beberapa contoh efisiensi yang bisa dilakukan adalah : Efisiensi pertama adalah pengurangan biaya dinas antara lain untuk pembelian dan perawatan mobil dinas, seragam dinas, rumah dinas, perjalanan dinas/kunjungan/studi banding, laptop, dll. Saya ambil dua contoh saja. Jika satu kota/kabupaten terdapat 45 orang anggota dewan ditambah 2 orang bupati/walikota/wakil dan di Indonesia terdapat 400 kota/kabupaten maka akan ada 18.800 orang. Ditambahkan dengan 33 provinsi kita dengan jumlah anggota dewan 100 orang dan 2 orang gubernur/wakil maka akan ada 3.366 orang. Tambahkan lagi dengan pejabat pusat yaitu 550 orang anggota dewan, dan 30 menteri maka akan ada 580 orang. Sehingga total pejabat yang harus disediakan mobil dinas tiap lima tahun sekali adalah 22.746 orang. Asumsikan mobil yang mereka minta sama (walau dalam kenyataanya lebih besar) dengan kisaran harga 300 juta maka biaya yang harus ditanggung negara adalah 6.823.800 juta atau sekitar 6,8 triliun rupiah. Nilai ini belum termasuk biaya BBM yang dipakai dan biaya perawatan bulanan. Bandingkan jika mereka hanya diberikan motor dinas yang harganya cuma 13 juta rupiah per unit. Selanjutnya, dari 22.746 pejabat itu setiap tahun dianggarkan untuk mendapatkan jas dengan kisaran harga 2 – 4 juta rupiah perbuahnya. Jika kita ambil harga 2 juta saja maka biaya jas yang harus ditanggung negara adalah 45.492 juta atau sekitar 45,5 milyar rupiah pertahunnya, apalagi konon kabarnya harga mark up nya bisa mencapai 5 juta rupiah. Bandingkan jika jas dinas itu kita ganti dengan baju batik yang harganya Cuma 60 ribu rupiah perbuahnya Efesiensi kedua adalah hilangkan biaya - biaya proyek mercusuar seperti anggaran sepakbola untuk menyewa pemain asing, pembangunan patung dan tugu, pembangunan sarana ibadah dan rumah dinas super mewah yang hanya menjual gengsi daerah. Bukankah seharusnya dalam kondisi krisis pangan dan krisis energi dana – dana itu bisa dialihkan untuk hal – hal yang lebih bermanfaat untuk rakyat banyak? Efisiensi ketiga adalah mencantumkan proyek pembuatan kilang BBM untuk mengurangi impor. Selama ini ketika ditanyakan mengapa harus impor BBM padahal produksi nasional sedemikian besar maka jawabannya adalah kilang minyak kita tidak mencukupi kapasitasnya. Sungguh sangat memalukan semala 63 tahun merdeka ternyata kita tidak mampu menyedikan BBM yang cukup untuk negeri kita sendiri dan lebih mengandalkan pada proses impor saat produksi minyak juga melimpah. Efisiensi keempat adalah beralih kepada sumber energi alternatif. Beberapa anak bangsa sudah menciptakan hidrofuel - bahan bakar air. Kemudian potensi gelombang air laut, panas bumi, dan angin di beberapa daerah mengapa tidak dimanfaatkan. Apakah memang BATAN dan LIPI tidak tahu ataukah memang pemerintah kita kurang care terhadap temuan mereka.
2. Peningkatan Pendapatan Selain opsi efisiensi maka pemerintah sebenarnya bisa dan harus melakukan langkah kongkret untuk menambah pendapatan negara. Pendapatan ini haruslah bukan dari utang negara, baik dalam maupun luar negeri yang akan semakin membebani generasi di masa datang. Pendapatan negara juga bukan dari menaikkan pajak – pajak atas segala hal yang berhubungan dengan rakyat kecil. Pajak yang harus dinaikkan adalah pajak – pajak untuk barang mewah seperti mobil mewah dari pajak bea masuk sampai STNK, barang – barang elektronik mahal seperti home theatre, dan biaya fiskal saat seseorang akan berkunjung ke luar negeri. Selain itu pemerintah harus mengambil langkah berani merevisi kontrak karya dengan perusahaan asing, khususnya perusahaan tambang yang sangat menikmati kenaikan harga BBM maupun bahan tambang lainnya. Kemudian harus berani membeli kembali aset – aset negara baik BUMN maupun sitaan BLBI yang potensial yang telah diprivatisasi oleh rezim sebelumnya seperti perusahaan telekomunikasi seperti Indosat, perusahaan penghasil CPO seperti Socfindo, perbankan seperti BCA, dan lain – lain. Kemudian, pemerintah juga harus berani menyita aset- aset debitor BLBI yang melarikan diri keluar negeri karena terbukti merugikan negara dan rakyat, sedangkan sekarang mereka enak – enakan membuat perusahaan baru di negara lain dari dana negara dimana negara (baca: rakyat) yang harus melunasi hutang dan bunganya.
3. Penegakan Hukum Sudah diketahui bersama bahwa ada permainan antara aparat penegak hukum, sektor industri dan pengusaha BBM (SPBU) dalam menyelewengkan BBM bersubsidi untuk sektor industri seperti yang terjadi di kabupaten Tangerang dan beberapa daerah baru – baru ini. Mereka menimbun Solar, Premium dan minyak tanah bersubsidi yang seharusnya dinikmati oleh rakyat kecil, untuk kemudian dijual kepada industri dengan harapan mendapat keuntungan dari selisih harga. Tidak sedikit pula yang meng’kapal’kan BBM keluar negeri karena harga disana lebih mahal. Pemerintah harusnya bisa bersikap tegas, atau mengeluarkan peraturan hukuman mati kepada para spekulan, para penimbun dan para penyelundup BBM karena rakyatlah yang jadi korban mereka. Karena rakyatlah yang akhirnya harus antri di SPBU, anti gas, antri minyak tanah atau membeli BBM dari pengecer dengan harga selangit diluar harga resmi pemerintah. Jikalau pemerintah bisa TEGAS menindak mereka, niscaya ‘subsidi’ tidak akan salah sasaran dan BBM tidak perlu dinaikkan. Dan jika BBM tidak dinaikkan maka Presiden dan kabinetnya dapat tidur nyenyak tanpa harus dihujat oleh para demonstran dan dimaki oleh rakyat kecil di seluruh Indonesia. Semoga, dengan tulisan ini mata hati para pemimpin di negeri ini dapat terbuka dan dapat kembali kepada fitrah mereka sebagai pelayan rakyat bukan melanjutkan penjajahan Belanda atas rakyatnya sendiri, seolah istana negara buatan Belanda dan mantan hunian gubernur jendral tidak menjadikan mereka sebagai gubernur jendral baru bagi negara asing.
(Artikel 1) Kamis, 15 Mei 08 Dalam tulisan ini saya membuat beberapa kalkulasi tentang jumlah uang yang masuk karena penjualan BBM dan uang yang harus dikeluarkan untuk memproduksi dan mengadakannya. Hasilnya pemerintah kelebihan uang. Mengapa dikatakan pemerintah harus mengeluarkan uang untuk memberi subsidi, sehingga APBN-nya jebol. Dan karena itu harus menaikkan harga BBM yang sudah pasti akan lebih menyengsarakan rakyat lagi setelah kenaikan luar biasa di tahun 2005 sebesar 126%.
Mari kita segera saja melakukan kalkulasinya. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Menteri Ani) memberi keterangan kepada Rakyat Merdeka yang dimuat pada tanggal 24 April 2008. Angka-angka yang dikemukakannya adalah angka-angka yang terakhir disepakati antara Pemerintah dan DPR, yang sekarang tentunya sudah ketinggalan lagi. Maka dalam perhitungan yang saya tuangkan ke dalam tiga buah Tabel Kalkulasi saya menggunakan angka-angkanya Menteri Ani yang diperlukan untuk mengetahui berapa persen bagian bangsa Indonesia dari minyak mentah yang dikeluarkan dari perut bumi Indonesia. Berapa jumlah penerimaan Pemerintah dari Migas di luar pajak. Jadi yang saya ambil angka-angka yang masih dapat dipakai walaupun banyak angka yang sudah ketinggalan oleh perkembangan, seperti harga minyak mentahnya sendiri. Angka kesepakatan antara Pemerintah dan Panitia Anggaran harga minyak masih US$ 95 per barrel. Sekarang sudah di atas US$ 120. Saya mengambil US$ 120 per barrel. Keseluruhan data dan angka yang menjadi landasan kalkulasi saya tercantum dalam tabel-tabel kalkulasi yang bersangkutan. Setiap Tabel kalkulasi sudah cukup jelas. Untuk memudahkan memahaminya, saya jelaskan sebagai berikut. Menteri Ani antara lain mengemukakan bahwa lifting (minyak mentah yang disedot dari dalam perut bumi Indonesia) sebanyak 339,28 juta barrel per tahun. Dikatakan bahwa angka ini tidak seluruhnya menjadi bagian Pemerintah. (baca : bagian milik bangsa Indonesia). Kita mengetahui bahwa 90% dari minyak kita dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan minyak asing. Maka mereka berhak atas sebagian minyak mentah yang digali. Berapa bagian mereka? Menteri Ani tidak mengatakannya. Tetapi kita bisa menghitungnya sendiri berdasarkan angka-angka lain yang dikemukakannya, yaitu sebagai berikut. Menteri Ani memberi angka-angka sebagai berikut. Lifting : 339,28 juta barrel per tahun Harga minyak mentah : US$ 95 per barrel Nilai tukar rupiah : Rp. 9.100 per US$ Penerimaan Migas diluar pajak : Rp. 203,54 trilyun. Dari angka-angka tersebut dapat dihitung berapa hak bangsa Indonesia dari lifting dan berapa persen haknya perusahaan asing. Perhitungannya sebagai berikut. Hasil Lifting dalam rupiah : (339.280.000 x 95) x Rp. 9.100 = Rp. 293,31 trilyun. Penerimaan Migas Indonesia : Rp. 203,54 trilyun. Ini sama dengan (203,54 : 293,31) x 100 % = 69,39%. Untuk mudahnya dalam perhitungan selanjutnya, kita bulatkan menjadi 70% yang menjadi hak bangsa Indonesia. Jadi dari sini dapat diketahui bahwa hasil lifting yang miliknya bangsa Indonesia sebesar 70%. Kalau lifting seluruhnya 339,28 juta barrel per tahunnya, milik bangsa Indonesia 70% dari 339,28 juta barrel atau 237,5 juta barrel per tahun. Berapa kebutuhan konsumsi BBM bangsa Indonesia? Banyak yang mengatakan 35,5 juta kiloliter per tahun. Tetapi ada yang mengatakan 60 juta kiloliter. Saya akan mengambil yang paling jelek, yaitu yang 60 juta kiloliter, sehingga konsumsi minyak mentah Indonesia lebih besar dibandingkan dengan produksinya. Produksi yang haknya bangsa Indonesia : 237,5 juta kiloliter. Konsumsinya 60 juta kiloliter. 1 barrel = 159 liter. Maka 60 juta kiloliter sama dengan 60.000.000.000 :159 = 377,36 juta barrel. Walaupun kesepakatan antara Pemerintah dan DPR seperti yang dikatakan Menteri Ani tentang harga minyak mentah US$ 95 per barrel, saya ambil US$ 120 per barrel. Walaupun kesepakatan antara Pemerintah dan DPR seperti yang diungkapkan Menteri Ani tentang nilai tukar adalah Rp. 9.100 per US$, saya ambil Rp. 10.000 per US$. Hasilnya seperti yang tertera dalam Tabel III, yaitu Pemerintah kelebihan uang tunai sebesar Rp. 35,71 trilyun, walaupun dihadapkan pada keharusan mengimpor dalam memenuhi kebutuhan konsumsi rakyatnya. Produksi minyak mentah yang menjadi haknya bangsa Indonesia 237,5 juta barrel. Konsumsinya 60 juta kiloliter yang sama dengan 377,36 juta barrel. Terjadi kekurangan sebesar 139,86 juta barrel yang harus dibeli dari pasar internasional dengan harga US$ 120 per barrelnya dan nilai tukar diambil Rp. 10.000 per US$. Toh masih kelebihan uang tunai.
Apalagi kalau kita merangkaikan semua data kesepakatan terakhir antara Pemerintah dengan Panitia Anggaran DPR. Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Ani kepada Rakyat Merdeka tanggal 24 April yang lalu kesepakatannya adalah sebagai berikut. Lifting : 339,28 juta barrel per tahun Harga : US$ 95 per barrel Nilai tukar : Rp. 9.100 per US$ Penerimaan Migas di luar pajak : Rp. 203,54 trilyun. Kalkulasi tentang uang yang harus dikeluarkan dan uang yang masuk seperti dalam Tabel I. Kita lihat dalam Tabel I tersebut bahwa kelebihan uang tunainya sebesar Rp. 82,63 trilyun. Ketika itu Pemerintah sudah teriak bahwa kekurangan uang dalam APBN dan minta mandat dari DPR supaya diperbolehkan menggunakan uang APBN sebesar lebih dari Rp. 100 trilyun, yang disetujui oleh DPR.
Dalam Tabel II saya mengakomodir pikiran teoretis dari Pemerintah yang mengatakan bahwa Pertamina harus membeli minyak mentahnya dari Menteri Keuangan dengan harga internasional yang dalam kesepakatan antara Pemerintah dan Panitia Anggaran US$ 95 per barrel dan nilai tukar ditetapkan Rp. 9.100 per US$. Seperti dapat kita lihat, hasilnya memang Defisit sebesar Rp. 122,69 trilyun. Tetapi uang yang harus dibayar oleh Pertamina kepada Menteri Keuangan yang sebesar Rp. 205,32 trilyun kan milik rakyat Indonesia juga? Maka kalau ini ditambahkan menjadi surplus, kelebihan uang yang jumlahnya Rp. 82,63 trilyun, persis sama dengan angka surplus yang ada dalam Tabel I. MENGAPA? Mengapa Pemerintah mempunyai pikiran bahwa subsidi sama dengan pengeluaran uang tunai? Mengapa DPR menyetujuinya? Itulah yang menjadi pertanyaan terbesar buat saya yang sudah saya kemukakan selama 10 tahun dalam bentuk puluhan tulisan di berbagai media massa. Dibantah tidak, digubris tidak. Sekarang saya mengulanginya lagi, karena masalahnya sudah menjadi kritis dalam dua aspek. Yang pertama, kesengsaraan rakyat sudah sangat parah. Kedua, kenaikan harga BBM lagi bisa memicu kerusuhan sosial. Kali ini jangan main-main. Semoga saya salah. PIKIRAN BINGUNG YANG ZIG-ZAG Ketika harga BBM di tahun 2005 dinaikkan dengan 126%, bensin premium menjadi Rp. 4.500 per liter. Ketika itu, harga bensin ini ekivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 61,5 per barrel. Pemerintah mengatakan bahwa mulai saat itu sudah tidak ada istilah subsidi lagi, karena harga BBM di dalam negeri sudah sama dengan harga minyak mentah yang setiap beberapa kali sehari ditentukan oleh New York Mercantile Exchange. Memang betul, bahkan lebih tinggi sedikit, karena ketika itu harga minyak mentah US$ 60 per barrel. Ketika harga minyak mentah turun sampai sekitar US$ 57 dan Wapres JK ditanya wartawan apakah harga BBM akan diturunkan, beliau menjawab “tidak”. Lantas harga minyak meningkat sampai US$ 80. Wartawan bertanya lagi kepadanya, apakah harga BBM akan dinaikkan? Dijawab : “Tidak, dan tidak akan dinaikkan walaupun harga minyak mentah meningkat sampai US$ 100 per barrel.” Lantas Presiden mengumumkan bahwa kalau harga minyak sudah US$ 120 pemerintah akan kekurangan uang untuk memberikan subsidi kepada rakyatnya dalam jumlah besar, sehingga APBN akan jebol. Maka terpaksa menaikkan harga BBM pada akhir Mei dengan sekitar 30 %. Jadi sangatlah jelas bahwa Presiden menganggap subsidi BBM sama dengan uang tunai yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah. Pada tanggal 13 Mei jam 22.05 Metro TV menayangkan Today’s Dialogue, di mana Wapres Jusuf Kalla mengakui bahwa pemerintah akan kelebihan uang, yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur. Jadi dalam pengadaan BBM pemerintah kekurangan uang karena harus memberikan subsidi, atau kelebihan uang yang akan dipakai untuk membangun infrastruktur? Penutup Tulisan ini baru awal dari sebuah perdebatan publik. Ayo, saya mohon dibantah. Wahai media televisi, selenggarakanlah debat publik tanpa batas waktu siapa yang benar dan siapa yang salah? Buat urusan perut rakyat yang termiskin yang notabene pemilik minyak, janganlah lebih mementingkan iklan – iklan. Tunggu artikel-artikel berikutnya di KoranInternet ini. Artikel-artikel berikutnya akan membahas masalah penentuan harga BBM untuk rakyatnya ini dari segi disiplin ilmu cost accounting beserta landasan falsafahnya yang nampaknya tidak dikuasai dan tidak dipahami oleh para teknokrat, tetapi selalu bersikap gebrak dulu dengan sikap ”biar bodoh asal sombong”. Pokoknya gebrak dan gertak. Boleh – boleh saja, tetapi kalau lantas menyengsarakan rakyat ya ayolah berdebat keras!
Mau tahu kalo subsidi BBM itu bohong semata.
Silahkan lihat attachement.
Bukan provokasi, tapi itu hak kita sebagai rakyat indonesia
Yang Merdeka Berdaulat Adil Dan Makmur
Bukan Neo Kolonialisme, Attachment: TidakAdaSubsidi+BBM!.ppt
Proses perpanjangan sim ditangerang (berlaku untuk Kodya dan Kabupaten) sudah bisa melalui sim keliling yang jadwal lokasinya adalah sbb : 1. Senin = Taman Cibodas, depan Bank Danamon 2. Selasa = Perumahan Sangiang, depan Kelurahan Sangiang/Alfamart 3. Rabu = Taman Royal sblh kiri dr tangerang, depan ruko 4. Kamis = Plaza Shinta 5. Jum'at = Pasar Anyar, depan bioskop mega 6. Sabtu = Taman Cibodar, depan Bank Danamon Persyaratannya dan jam : 1. Mulai jam 09:00 (mobil datang) 2. Hanya mengeluarkan 50 buah sim/hari baik SIM A dan C 3. Fotocopy SIM lama = 2 lembar 4. Uang tunai = 125.000 (sim msh aktif) dan 150.000 (sim mati wlaupun br 1 hari) Strategi pelaksanaan : Untuk pelaksanaannya, jangan datang diatas jam 08:00 untuk setiap lokasi sebelum mendaftar. Tidak akan kebagian ngisi kertas pendaftaran. Jadi rekan2 yang berminat datang dulu kelokasi pagi2 kira2 jam 06:00. Dilokasi sudah disediakan kertas pendaftaran dan dilihat sudah berapa banyak yang minta sim bukan jml orang sebab mobil keliling hanya mengeluarkan 50 sim baik A dan C. Setelah mendaftar bisa pulang dulu, baru jam 09:00 kembali ke lokasi. Proses paling lama sampai jam 12:00 untuk semua sim. Untuk lokasi di taman cibodas, ada toko sebelah bank yang menyediakan fasiltas pendaftaran, rekan2 bisa mendaftar malam sebelumnya dan biasanya membayar 5000 rupiah. Dilokasi tidak ada calo atau orang yang dimintai bantu proses apalagi bila simnya sudah mati 1 tahun lebih. Sim keliling hanya melayani perpanjangan sim aktif maupun sim mati yang tidak lebih dari 1 tahun. Demikian sedikit info yang bisa saya berikan, mudah2an berguna buat rekan2 sekalian. Salam Komang 2374 (Sumber)
Mencermati pendapat dan komentar para pengamat politik di media masa beberapa hari ini atas kemenangan ‘hasil quick count’ beberapa pilkada, maka kami sebagai rakyat akan menyampaikan kebenaran. Benar, kami adalah rakyat yang sudah bosan. Bosan dengan para pemimpin yang sudah ubanan. Makanya kami pilih pemimpin yang masih mudaan. Apalagi mereka yang ganteng menawan. Walaupun kompetensi belum ketahuan, karena mereka masih belajaran. Namun minimal masih ada harapan, harapan untuk perubahan, perubahan yang berkeadilan dan berkesejahteraan. Benar, kami adalah rakyat yang sudah bosan. Bosan dengan para pemimpin yang suka cakar – cakaran. Paman dan keponakan cakar – cakaran, guru dan murid pamer kepalan tangan, teman sekelas adu pengadilan, bahkan nyindir poco – pocoan sampai tukang sihir naik sapu terbang di lapangan. Makanya kami pilih pemimpin yang bermoral dan sopan, sesama teman tidak saling ‘tukar’an, agar Indonesia ini benar – benar aman, yang bukan hanya sekedar slogan. Benar, kami adalah rakyat yang sudah bosan. Bosan dengan para pemimpin yang mata duitan. Padahal selesai menjabat mereka dapat pensiunan, pensiunan yang bernilai jutaan perbulan, atas kerja mereka lima tahunan. Sedangkan pas menjabat mereka jualan, jualan Undang – undang sampai Peraturan pemerintahan, jualan pasir pantai sampai hutan, jualan tambang minyak sampai emas intan, dan jualan BUMN untuk pendanaan dua ribu sembilan. Makanya kami pilih pemimpin yang beriman, dengan prinsip hidup kesederhanaan yang jauh dari kesan kemewahan, kebutuhan ‘wong cilik’ benar – benar diperjuangkan, yang bukan hanya sekedar ucapan pengisi iklan. Benar, kami adalah rakyat yang sudah bosan. Bosan dengan para pemimpin yang doyan main perempuan. Perempuan sejawat partai ataupun ‘bonus’ rekanan. Makanya kami pilih pemimpin yang setia kepada komitmen pernikahan, dengan tidak menyediakan ‘space’ buat simpanan, apalagi wanita pinggir jalan yang ditawarkan ke senayan. Benar, kami adalah rakyat yang sudah bosan. Bosan dengan para pemimpin yang mengumbar sembako dan uang untuk menarik hati kami yang hidup pas – pasan. Tahukah kalian yang kami rasakan, perilaku ini seolah ‘ngece kere sak stasiun balapan’. Padahal mereka sudah punya rencana yang mapan setelah menduduki jabatan. Rencana ‘ngapusi’ rakyat untuk menutup defisit pendanaan, dana kampanye yang ngutang kepada pengusaha dan rekanan. Makanya kami pilih pemimpin yang bersikap jantan. Perilaku korupsi, kolusi, nepotisme dan manipulasi sangat tidak ‘doyan’. Karena mereka selalu melihat pengadilan akhirat sebagai pertimbangan. Jadi, tolong jangan bilang kalo kemenangan rakyat ini hanya kebetulan. Atau dengan alasan ada dua partai besar yang saling berhadapan, seolah karenanya kami diuntungkan. Karena, Kami yang Rakyat, Bung…
 Jika ini yang dilakukan oleh Dunia Maka apa yang kita harapkan untuk mereka Bawa
Wahai Amerika, Inggris, Australia, Israel dan Sekutunya... Sadarlah sebelum datang kehancuran yang lebih menyedihkan 
Sahabat Mp-ers... Ada tema yang cukup menarik hari ini, yang mau tak mau saya harus menyempatkan mengeluarkan uneg - uneg di antara kesibukan kantor. Sebuah tema untuk meremove atau mengeblok sahabat MP (yang walau hanya di dunia maya) Adalah benar hak kita untuk menolak, meremove dan mengeblok diluar mengadd contact seseorang. Ada beragam alasan untuk melakukannya. Dan alasan masing - masing kita tentunya berbeda... Saya kayaknya sampai hari ini belum pernah meremove, atau mendecline seseorang. Mungkin belum menemukan alasannya. Entah nanti . . . Hanya, kali ini saya ingin memberikan sebuah paradigma berbeda diluar 'HAK' kita dengan masalah tersebut. 1. Jika ada contact kita yang hanya numpang lewat, trus tidak ada coment sebagai jejaknya maka bisakah kita memperkirakan bahwa memang masalah tersebut tidak perlu dikomentari atau dia sedang tidak ingin berkomentar tapi ingin berinstropeksi diri dan langsung ingin dia praktekkan tanpa perlu berkomentar atau atau dia malu untuk memberi komentar karena takut diketawakan...  2. Entah jika seseorang hanya numpang lewat, atau ternyata MP-nya hanya berisi guest book saja maka bisakah orang tersebut hanya pengin belajar dari para sahabat - sahabat MPnya yang lain atau bisa jadi ia belum PeDe untuk menulis 3. Bagaimana kalau paradigmanya adalah kita berbagi ilmu, berbagi pengalaman, dan mempererat tali silaturahmi diluar kevakumannya di MP dari sekedar liat - liat sampai mengeluarkan tulisannya. Bukankah kalau seseorang mendapatkan hidayah atas ilmu atau pengalaman yang kita tuliskan atau tampilkan di MP maka bukankah kita mendapatkan satu downline dalam MLM PAHALA. Dan bukankah seseorang yang menunjuki orang lain sehingga mendapat hidayah Allah itu kata Rosul imbalannya lebih baik dari unta merah... Jadi, diluar paradigma yang berbeda tadi, bisa saja suatu saat nanti saya akan meremove atau mendecline seseorang yang saya anggap -dengan alasan saya- untuk tidak melanjutkan hubungan per-contact-kan dengan saya. Atau suatu saat nanti saya juga harus siap di remove atau di decline atau bahkan direport abuse oleh seseorang dengan alasannya masing - masing. *) Mohon maaf atas uneg - uneg ini, moga tidak membuat saya di remove, di decline atau bahkan di report abuse oleh sahabat sekalian.
 Sahabat .... Apa yang kalian rasakan ketika melihat gambar ini .... Semangat ... ya semangat ...
Semangat seorang suami dalam mencari nafkah untuk keluarga Atas ikrar yang telah diucapkan dihadapan mertuanya Atas ikrar yang telah disahkan oleh syari'atnya Atas amanah yang Allah berikan berupa anak - anaknya
Dan bisa pula ... Itu adalah semangat seorang bocah yang tinggal di suatu perkampungan Yang mengharuskannya menyebrangi sungai untuk belajar Ya... belajar ... Karena Allah telah memerintahkannya untuk Iqro Karena Rosul telah memintanya untuk menuntut ilmu
Jadi ... sahabat ... Ia adalah sosok Lelaki Pemberani abad ini... Sosok dengan lengan tangguh menghadapi kerasnya kehidupan Sosok yang tidak loyo menghadapi tantangan Ketika semuanya Ia pasrahkan kepada Robb semesta alam
Maka ... renungkan ... Adakah semangat itu dalam diri kita ... Apakah kita ini adalah Lelaki Pemberani ... Andalah yang bisa menjawabnya!! 
| Start: | May 23, '07 | | End: | Jun 15, '07 | | Location: | Gg Ki Mulud Kavling Pemda Kec. Karawaci Kota Tangerang |
Buat yang memiliki relasi, keluarga, atau dirinya yang ingin menyumbangkan ilmunya bisa mendaftarkan dirinya untuk Guru Tahsin, bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Guru Kelas. Syarat min S1, khusus tahsin sudah hafal 3 juz Al Qur'an Info dari istri yang juga beraktivitas disana.
Hari ini dapat edaran dari Direktur Keuangan tempatku bekerja. Isinya adalah permintaan data pengurus, komisaris, pemegang saham, dan pegawai untuk pembuatan NPWP Perorangan. Bagi pegawai baik swasta maupun negeri yang sudah memiliki penghasilan diatas PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) harus memiliki NPWP atas nama dirinya. Nilai PTKP adalah Rp. 1.100.000,00 per bulan atau Rp. 13.200.000,00 per tahun. Nah, karena penghasilanku Alhamdulillah berada diatas PTKP, so otomatis aku harus buat NPWP lewat perusahaan tempat aku cari makan sekarang. Denger - denger sih berlaku nasional, cuma pilot projeknya perusahaan BUMN terlebuh dahulu.
Yah, memang mau dari mana lagi negara ini membiayai dirinya kalau bukan dari Pajak. Dah ketahuan BUMN akan diprivatisasi setelah kinerjanya bagus (INDOSAT, TELKOM, menyusul Dirgantara Indonesia, Garuda Indonesia dll), Area pertambangan dieksplorasi oleh pihak Asing dan hasilnya cuma gak lebih dari 10% untuk Indonesia, selebihnya buat mereka (lihat Freeport, Cepu, dll), lalu hutan dah gundul menyisakan banjir dimana - mana. Sehingga, makan diwarteg dipajekin, beli bawang merah dipajekin, mau mandi sabunya dipajekin, .... pokoknya yang penting bisa buat pemasukan 'Negara' ya Pajak.
Padahal, dalam setahun APBN 400 Triliun dikorupsi, rakyat dimana - mana antri nasi aking, Trus banyak orang bunuh diri karena stress ekonomi.....
Kapan sosok Umar hadir ....
Kalau bukan kita yang create sosok Umar ini, trus siapa lagi ...
Bukankah Allah tak akan mengubah keadaan kita kalau kita tidak mengubahnya ....
*) Jadi, sudahkah anda bayar pajak tahun ini ....
Gunung akan terlihat indah dari kejauhan Namun bagi siapapun para pengagumnya Akan sangat terkejut kala mendekatinya Maka nampaklah semak belukar yang berserakan Dan bebatuan yang gersang menghadang Begitulah ungkapan seorang anggota komunitas kala salah satu anggota barunya mengkritik keadaan komunitas tersebut yang tidak seindah pandangan orang luar. Sebuah ungkapan yang menggambarkan bahwa ketika kita menjadi orang luar maka dalam pandangannya komunitas tersebut sangat ideal, sempurna, dan tanpa cacat sehingga membuatnya berminat untuk menjadi anggota komunitas tersebut. Komunitas tersebut bisa saja organisasi, jama’ah, groups, kelompok, perusahaan, kelurahan, ormas, orsospol, blok perumahan, atau bahkan sebuah keluarga. Mereka akan sangat nampak indah kala kita memandangnya dari kejauhan. Yah, rumput tetangga terlihat jauh lebih hijau dari rumput sendiri. Namun ketika kita mendekatinya, atau bahkan menjadi bagian darinya maka akan sangat banyak kita temui kekurangan – kekurangan yang memunculkan hasrat kita untuk mengkirtik dan memperbaikinya. Memang, No bodies perfect …. Gawatnya adalah jika kritikan atau perbaikan yang dilakukan anggota tersebut tidak mendapatkan angin segar maka terjadilah apa yang disebut mufaroqoh (berlepas diri), insilah (memisahkan diri), keluar atau perceraian. Sekarang kita bisa melihat bahwa berapa banyak partai yang memiliki kepengurusan ganda, berapa banyak firqoh islam yang mengaku ahlu sunnah wal jama’ah, berapa banyak organisasi mahasiswa yang pecah, atau tingginya angka perceraian di sekitar kita. Semua itu terjadi hanya karena perbedaan pandangan yang kadang karena tidak di akomodir oleh anggota lama atau yang di’sepuh’kan atas nama ‘perbaikan’. Sebenarnya kalau kita cermati, maka kita akan menemukan 3 langkah yang akan diambil oleh seseorang jika ia menemui kekurangan pada komunitasnya. Pertama, Make a change. Ya, melakukan perubahan. Ia akan berusaha melawan arus, menyebarkan ide – idenya, melobi orang – orang yang disegani dan bahkan mencoba memahamkan seluruh anggota bahwa ‘pemikirannya’ yang benar. Dan komunitas harus mengikuti pemikirannya itu agar maju. Efeknya adalah ia akan dimarginalkan oleh rekan – rekannya yang tidak se-ide, terlebih jika mereka adalah yang berkuasa. Kedua, Follow the stream. Bisa disebut ‘ikut arus’ atau dengan kata lain ambil jalan aman dan menguntungkan. Biasanya golongan ini adalah orang – orang yang berpikir pragmatis. Ia berpikir jika melakukan perubahan atau mengkritik akan berefek buruk padanya yang bisa berujung pada tidak tercapainya tujuan atau cita – citanya berada di organisasi tersebut seperti mendapatkan jabatan tertentu. Sehingga walau ia tahu bahwa komunitasnya banyak kekurangan ia diam, dan bahkan berusaha ‘menjilat’ rekanya yang berkuasa agar bisa menjadi ‘konco’nya dalam komunitas itu. Ketiga, Quit. Keluar. Nah untuk yang satu ini akan terbagi menjadi 2 (dua) golongan yaitu : Quit but stay dan Quit and Quit. ‘Quit but stay’ atau keluar tetapi tinggal adalah mereka yang meyakini bahwa ada ketidak sempurnaan pada komunitasnya namun karena merasa tidak mampu untuk mengubah dan di tidak mau menjilat, maka ia tetap tinggal tapi tidak peduli dengan keadaan sekitarnya lagi. Atau istilahnya cuek dengan apapun kondisi komunitasnya. Untuk ‘quit and quit’ atau keluar dan keluar, adalah golongan yang setelah berusaha melakukan perubahan, memberikan kritikan tapi tidak dipedulikan bahkan dirinya dimarjinalkan, maka ia mengambil kesimpulan bahwa keberadaanya di komunitas tersebut sudah tidak berguna. Sehingga ia memutuskan untuk keluar dari komunitas untuk mencari komunitas lain yang kelihatan lebih ‘hijau’ dari komunitas yang selama ini ia ikuti. Bagi saya, akan lebih setuju untuk point pertama ‘make a change’ dan point ketiga bagian kedua yaitu quit and quit sebagai langkah yang kita tempuh. Tentunya point ketiga adalah point ‘darurat’ yang kita perlakukan sebagai ‘exit door’ kala terjadi kebakaran di rumah kita. Yang namanya melakukan ghoyir (perubahan) pastilah memerlukan pengorbanan, waktu dan kesabaran. Kesemuanya membutuhkan energi yang besar dari manusia – manusia yang luar biasa. Keluarbiasaan ini tentunya karena ia bergantung kepada yang Maha Luar Biasa yaitu Allah SWT. Karena tentunya kita semua faham bahwa kita tidak akan Allah uji diluar batas kemampuan kita. Dan kita tahu kalau kita tidak pernah melangkah untuk melakukan perubahan, maka kondisi tidak akan berubah. Bahkan lebih buruk lagi. Jadi, kitakah manusia luar biasa itu. Kitakah anasir – anasir taghyir ….
Pagi ini seperti biasa aku sampai
ke tempat kerja jam tujuh lewat 40 menit. Telah ada dikursinya seorang rekan
kerjaku yang kebetulan mejanya persis di sebelah kiri meja kerjaku. Dialah
Bernard Sihombing. Walaupun dia bermarga Sihombing namun dia seorang muslim,
sebuah hidayah telah menghampirinya.
Mulailah kubuka percakapan dengannya tentang ada nggak
razia PJR (Patroli Jalan Raya) di jembatan Tol Ciledug. Oh, ya. Rumahnya berada
di Pasar Bengkok Ciledug. Tempat tinggal yang lumayan jauh dari tempat kerja
kami di Pancoran Jakarta. Setiap hari dia harus menunggu Bis jurusan Kampung
Melayu atau Kampung Rambutan di bawah jembatan tol itu. Memang hanya dua
jurusan itu yang melewati Pancoran sebelum dia harus nyambung lagi naik
Metromini 640. Atau kalau tidak ia harus naik jurusan lain yang membutuhkan
waktu lebih lama.
Bukan petualangannya untuk
menunggu bis di jalan tol yang harus kucing – kucingan dengan PJR. Bukan pula usaha kerasnya untuk jalan kaki
lebih dari setengah kilo dari jembatan itu ke pompa bensin yang sekarang
digunakan sebagai terminal bayangan agar ia tetap bisa berangkat kerja kala PJR telah berjaga di bawah jembatan tol itu. Bukan,
bukan itu . . .
Sebuah semangatlah yang ingin
kuambil pelajaran darinya. Bagaimana tidak semangat, jam tujuh pagi dia sudah
berada di kantor, yang katanya jam enam pagi dia harus sudah berangkat. Itu sekarang. Dahulu sebelum tahu bahwa dia
bisa berangkat lewat tol, ia selalu berangkat melalui jalur Ciledug - Blok M –
Pancoran. Yang untuk rute ini dia harus sudah berangkat paling lambat setengah
enam karena kemacetan yang dia alami.
Sosoknya segera kuperbandingkan
dengan rekan kerjaku yang lain yang tinggal di belakang gedung tempat kerjaku
yang sampai di kantor beberapa menit sebelum jam delapan. Jarak yang dekat membuatnya tidak terlalu semangat untuk
berangkat kerja.
Jadi, pelajarannya adalah tentang
semangat. Semangat untuk tetap disiplin waktu. Semangat untuk menafkahi
keluarga. Semangat untuk membuat diri ini tetap semangat. Hmmm….
Ah, teringat dengan ucapan pak
Kyai bahwa semakin jauh masjid dari rumah kita, maka semakin banyak pahala yang
kita terima saat mendatanginya untuk sholat jama’ah. Karena sering kulihat
orang yang rumahnya jauh dari masjid telah datang dulu menunggu adzan,
dibandingkan mereka yang tinggal disamping masjid yang bahkan datang setelah
iqomat dikumandangkan. Apalagi yang tidak suka mengunjungi masjidnya kecuali
hari jum’at.
Berarti semakin jauh jarak
semakin semangat, semakin semangat berarti semakin banyak pahala. Berarti pula
pahala itu seolah hadiah atas semangatnya kita untuk beribadah. Karena kalau
seseorang semangat ia pasti ikhlas, dan keikhlasan adalah salah satu syarat
diterimanya amalan kita. Dengan diterimanya amalan berarti tiket masuk syurga
kita dapatkan.
Kalau begitu, secara tidak
langsung semangat itu adalah tiket masuk syurga. Oleh karena itu, marilah kita
bersemangat menyambut rahmat Allah yang luasnya seluas langit dan bumi.
(Ah, Jadi malu sama diri sendiri . . .)
“BU Fatma .... Bu Fatma, Udah beli Sabun “A” belum, sekarang tiap beli 2 sabun mandi “A” gratis satu gelas cantik lho ....Buruan sebelum kehabisan “ adalah ungkapan yang sering kita dengar ketika seorang ibu rumah tangga bertemu dengan temannya. Atau sering pula kita dengar rajukan seorang anak umur 3 tahun kepada ibunya, “Ibu, pokoknya dede minta dibelikan ayam goreng “XYZ”, kan ada gratis mainan”. Ungkapan atau percakapan itulah yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari – hari. “Gratis”. Singkat tapi bermakna. Satu kata yang paling diminati oleh makhluk bernama manusia, bahkan sampai urusan makanpun walau aslinya nggak enak, karena gratis (ditraktir teman) maka menjadi enaaaa...k. Berikut ini akan dipaparkan beberapa gratis yang sering kita temui pada kehidupan sehari – hari : - Hadiah “Gratis”.
Pada kesempatan ini, kata gratis akan kita jumpai pada iklan produk – produk industri. Apabila kita membeli barang mereka, maka kita mendapatkan sesuatu sebagai hadiah dengan gratis atau ungkapan “Beli 2 dapat 3”. Perlu diwaspadai bahwa gratis kita kali ini sebenarnya tidak sama sekali gratis. Hal ini karena biaya hadiah gratis terasebut diambil dari harga produk tersebut sebelum atau setelah masa gratis. Jadi pada dasarnya pengusaha tidak akan pernah memberikan sesuatu yang gratis kepada konsumennya. - Sekolah “Gratis” (Beasiswa)
Untuk yang satu ini biasanya diberikan oleh pemerintah dan perusahaaan besar. Bagi siswa yang sekolah disitu tidak dipungut bayaran, dan bahkan disalurkan atau isilah kerennya “Ikatan Dinas”. Waspadalah untuk yang satu ini, karena yang “Gratis tadi” ternyata setelah di renungkan tidak gratis juga. Para lulusan sekolah kedinasan milik pemerintah biasanya terikat dengan ikatan dinas dan mau ditempatkan dimana saja, biasanya di”daerah pedalaman” dengan gaji dan sarana seadanya. Untuk perusahaan, selain mereka harus menjadi robot industri yang loyal, rajin dan pekerja keras, gaji yang mereka terimapun biasanya hanya setengah atau bahkan dibawah dari gaji yang diterima oleh orang lain dengan status pendidikan yang sama karena ada potongan untuk biaya pendidikan. - Pemberian “Gratis” (Suap)
Untuk kasus berikut adalah umum kita lihat dilingkungan para birokrat dan politisi. Banyak dari mereka yang diberi amplop gratis, mesin cuci gratis atau bahkan rekening gratis. Kata pemberinya sih memang “Gratis” karena ia tidak meminta apa – apa atas barang yang diberikannya. Tapi jangan salah, jika suatu saat pemberi tersebut mendapat kesulitan, maka ia akan meminta bantuan kepada orang yang telah digratisinya dan orang tersebut mau tidak mau harus memuluskan jalan pemberi tersebut. Maka jadilah pemberian tadi menjadi sesuatu yang tidak gratis. - Senyuman “Gratis”
Ada sebuah ungkapan :”Ungkapkanlah Isi hati anda dengan Senyuman”. Sering kita memberikan senyuman kepada orang lain atau kita mendapat senyuman dari orang lain. Kita atau orang lain yang memberi senyuman, sering mengatakan kalau kita tidak mengharapkan apa – apa dari senyuman kita, tapi tunggu dulu apa iya kita tidak mengharapkan apa- apa alias “Gratis”. Ternyata senyuman kitapun tidak gratis, coba kalau kita tersenyum dan orang yang kita senyumi diam saja tidak membalas dengan tersenyum atau menyapa maka kita akan berang dan selanjutnya saat ketemu lagi dengan orang tersebut, kita tidak mau tersenyum lagi. Nah lho, kan jadi tidak gratis. Sebenarnya kalau kita masih mau mengulas tentang tindakan manusia yang katanya gratis, maka akan masih banyak lagi kita temui dan ujung – ujungnya tidak ada yang gratis. Hanya Allah lah yang telah memberikan berbagai kenikmatan kita, rizki yang melimpah, kesehatan, dan lainya tanpa pernah meminta imbalan alias gratis. Satu contoh kecil saja, coba kalau udara yang kita hirup setiap hari itu diharuskan membayar kepada Allah. Apa kita kuat untuk membayar? Truzz, bagaimana dengan ibadah kita, sholat kita, puasa kita kan semuanya untuk Allah. Jadi apa yang Allah berikan ke kita, kita harus membalasnya dengan ibadah. Tunggu dulu, jangan terburu – buru. Yang tidak gratis ternyata kita, bukannya Allah. Coba kalau kita sholat, puasa, atau ibadah lainnya dan tidak dijanjikan surga oleh Allah apa kira – kira kita akan melakukannya. Ternyata 99% jawabannya adalah tidak. Nah lho. Oleh karena itu wahai manusia, ingatlah yang gratis itu hanya dari Tuhanmu, sedangkan manusia sebaik apapun dia tidak akan memberikan ke”Gratis”an kepada kita. Ada yang masih mau “Gratis”?
| |