Agus' posts with tag: tausiyah
Saya ini sedang futur, Terbukti dengan mulai ogah-ogahannya saya datang ke pengajian setiap pekan. Dengan alasan klasik: kuliah, lelah, sibuklah, inilah, itulah, saya sedang kalah. Saya ini sedang futur, Baca Qur'an jarang, nonton 21 doyan. Baca Qur'an tak berkesan, nonton VCD ketagihan. Saya ini sedang futur, Tak lagi pandai menjaga pandangan. Senang curi-curi kesempatan. Saya ini sedang futur, Jarang baca buku tentang Islam. Lagi demen main sampai malam. Saya ini sedang futur, Walau takut azab, tak pernah sekalipun terisak. Malah seringnya terbahak-bahak. Saya ini sedang futur, Malas berdo'a. Inginnya pasrah tanpa usaha. Saya ini sedang futur, Lihat perut saya yang semakin buncit selangit. Kalau infaq sedikit, sudah mulai pelit. Saya ini sedang futur, Sibuk ngurusin pekerjaan. Ogah menangani binaan. Saya ini sedang futur, Tak lagi bersyukur. Sudah mulai tidak jujur. Saya ini sedang futur, Senang disanjung. Dikritik langsung murung. Saya ini sedang futur, Sangat susah bangun malam untuk muhasabah dan bertafakkur. Lebih senang peluk guling lalu mendengkur. Saya ini sedang futur, Malas ngurusin keluarga,rajin menggunjing tetangga. Sedikit sekali muhasabah,sering kali menggibah. Saya ini sedang futur, Lebih sering bicara cinta. Walaupun tak jelas kemana tujuannya. Ya, memang saya ini sedang futur, Kenapa saya futur? Kenapa tidak ada seorangpun yang menegur atau menghibur? Kenapa kepura-puraan, basa-basi, kekakuan makin subur? Kenapa diantara kita sudah mulai tidak jujur? Kenapa diantara kita sudah ada yang ngawur? Kenapa ukhuwah diantara kita sudah mulai hancur? Kenapa diantara kita ada yang hanya pandai bertutur? Ya Allah, berikan saya pelipur dan solusi yang terbaik agar tidak semakin futur dan tersungkur ... Futur : menurut Syekh Al Salumy, futur adalah salah satu dari aib sendiri. Dimana melemahnya semangat melaksanakan ketaatan baik berupa hak Allah maupun manusia, setelah sebelumnya ia melaksanakannya dengan semangat. Lebih buruk lagi kalau ia malah tidak mengetahui kefuturannya. Dan jauh lebih buruk lagi kalau dalam keadaan futur ia malah merasa sedang semangat dalam ketaatan.
 | Tauhid | Feb 18, '08 9:11 PM for everyone |
19 Peb 08 07:51 WIB Oleh Rizki Ridyasmara Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan seorang kawan yang sudah hampir dua tahun tidak pernah bersua. Dia seorang bapak dua anak. Penampilannya sekarang lebih rapi, dengan jenggot pendek di dagunya dan jidatnya yang kini menghitam, walau samar. Dia bercerita jika sekarang telah menjadi manusia bebas. Saya heran, “Lho, bukannya sedari dulu Antum sudah bebas?” Dengan tersenyum dia menggeleng. “Dahulu, saya masih menuhankan yang lain selain Allah SWT. Dahulu saya masih tergantung kepada banyak hal selain Allah SWT. Padahal dalam Islam bergantung hanya kepada Allah SWT itu sudah cukup, tidak lagi memerlukan apa-apa selain Dia…” Saya kembali bertanya dan paparannya membuka mata hati saya akan hal-hal yang sesungguhnya sangat sederhana. Sahabat saya yang sudah mengkaji Islam secara intensif dengan kawan-kawan pengajiannya sejak awal 1980-an ini bercerita banyak hal. “Akhi, ” katanya. “Alhamdulillah, Allah telah memberikan saya keinginan yang kuat untuk mempelajari agama ini. Kita tentu sudah sama-sama paham tentang dasar-dasar keimanan seorang Muslim, bahkan cabang-cabang keimanan dan juga pengetahuan tentang hal-hal lain terkait keIslaman, kita juga sudah mengerti.” Saya mengangguk. “Dan orang-orang seperti kita tentunya sangat mendukung dakwah Islam.” Saya kembali mengangguk, dia melanjutkan, “Namun tentunya dakwah Islam yang benar, yang berdasar pemahaman Islam yang lurus, bukan label atau bungkus belaka. Kita tentu harus mendukung dakwah Islam yang benar, bahkan hukumnya fardhu ain. Namun ketika dakwah itu sudah tidak benar, sudah melenceng dari nilai-nilai Islam, dari pondasi Islam, maka tentu kita pun wajib meninggalkannya. Kita cinta dan benci karena Allah SWT, bukan karena hal-hal yang lain.” Saya terus mendengarkan. “Salah satu syarat mutlak dalam dakwah Islam adalah benar sedari awal, yaitu niat yang benar dan lurus, usaha yang benar, upaya yang benar, dan hasilnya pun akan benar pula. Semua bentuk dakwah Islam harus demikian, termasuk dalam tataran dakwah kenegaraan.” “Yang terakhir ini bisa saya umpamakan dengan toko saya, ” ujarnya. Saya tahu sahabat saya ini punya usaha toko di Jakarta. “Saya membangun toko dengan niat yang lurus dan juga bersumber dari uang yang bersih dan halal. Tidak ada sedikit pun dana membangun toko saya ini yang bersumber dari dana yang tidak jelas. Sedikit demi sedikit saya terus mengembangkan toko dan juga strategi marketing saya. Tentunya dengan tetap menjaganya dari nilai-nilai keIslaman.” “Alhamdulillah, toko saya berkembang. Makin banyak pelanggan. Ketika toko saya sudah banyak pelanggan dan ramai, makin banyak salesman yang menawarkan barang-barangnya. Makin banyak pula orang yang ingin bermitra ikut menginvestasikan uangnya ke dalam usaha saya. Dalam bahasa lain ber-musyarokah. Sebagai manusia biasa saya tentu ingin sekali toko saya besar. Namun karena niat saya membuka toko demi dakwah Islam, maka saya tentunya harus selektif memilih barang dagangan dan mitra berbisnis saya. Saya tidak mau ada produk-produk haram seperti rokok dan bir di dalam toko saya. Saya juga tidak mau bermitra dengan orang-orang yang tidak jelas yang tentunya punya dana yang juga tidak jelas. Walau saya pribadi ingin usaha saya ini besar, berkembang pesat, dan omzetnya mencapai miliaran bahkan triliunan, namun dalam kacamata Islam itu semua bukan perimeter sebuah keberhasilan. Karena dalam Islam, yang penting adalah ikhtiar kita menjaga Islam itu sendiri, sedangkan hasil merupakan pemberian Allah SWT.” Saya merasa butuh penjelasan lebih lanjut darinya, “Mengapa dakwah dalam tataran negara diibaratkan dengan mengelola toko?” Sahabat saya tersenyum, “Ya sama saja. Dakwah dalam tataran yang lebih luas sama saja dengan mengelola dakwah dalam tataran yang mini ibaratnya toko. Kecil atau besar, tetap saja kita wajib memegang nilai-nilai dasar Islam. Kita tidak boleh sedikit pun bertoleransi terhadap kebathilan, walau itu dengan dalih demi perluasan dakwah. Dakwah yang benar tidak akan berhasil jika dibiayai oleh sumber dana yang tidak jelas, syubhat, apalagi dana haram. Dakwah yang benar tidak akan pernah bisa berhasil jika kita bermitra dengan para penyembah thaghut, terlebih posisi kita dalam bermitra itu lemah sedangkan posisi para penyembah thaghut itu kuat. Dakwah kita tidak akan berhasil jika melalui cara-cara yang tidak Islami seperti menggelar dangdutan, organ tunggal, dan sebagainya.” Sahabat saya melanjutkan, “Dakwah Islam yang bersih dan suci tidak bisa sedikitpun dicampur dengan hal-hal yang kotor seperti itu. Adalah terlalu murah harganya jika dakwah Islam harus berkompromi dengan hal-hal seperti itu. Rasulullah tidak pernah mengajarkan demikian. Dalam Perang Badar, tatkala menghadapi musuh yang sangat besar, Rasulullah tidak pernah menawarkan gencatan senjata, apalagi bertoleransi sedikit pun dalam beragama. Padahal saat itu bisa saja Rasulullah menawarkan sesuatu agar tidak terjadi peperangan yang sangat tidak imbang tersebut yang dalam nalar manusia biasa pasti umat Islam akan kalah. Tapi itu tidak. Rasulullah malah pergi ke dalam tenda dan berdoa kepada Allah agar memenangkan kaum Muslimin. Dan akhirnya pertolongan Allah itu datang dan berhasil memenangkan kaum Muslimin dengan menurunkan ribuan pasukan malaikat-Nya.” Saya tersenyum lagi. “Jika demikian, di dalam tataran politik yang sangat kompleks dan kotor seperti sekarang ini, mungkinkah cara-cara seperti yang Antum paparkan tadi bisa menuai keberhasilan?” Kini sahabat saya yang tersenyum, “Dalam Islam, manusia itu hanya diperintahkan untuk berikhtiar, untuk berusaha dengan baik dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Ini tidak bisa ditolerir. Sedangkan hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT. Islam tidak menghendaki kita menjadi penguasa jika harus melalui cara-cara di luar Islam atau apalagi harus berkompromi dengan para penyembah thaghut.” Saya bertanya lagi, “Jika demikian, untuk pemilu mendatang, Antum memilih siapa?” Sahabat saya kembali tersenyum. “Jika ada yang benar-benar berjuang untuk Islam, jiika ada yang benar-benar ingin menghidupi Islam, bukan memanfaatkan Islam untuk bertahan hidup, maka saya akan pilih itu. Partai saya sekarang Partai Allah, Hizbullah…Jika ada saya pilih, namun jika tidak ada, saya sudah memiliki Islam. Bagi saya Islam sudah sangat cukup.”
Fatamorgana (Gunung) Jama'ah Gunung. Siapa yang tidak suka gunung bagi para pemuda pecinta alam. Gunung yang dengan bebatuan terjal yang terasa pedih yang melingkupinya, hutan hijau yang melindunginya, bukit – bukit yang merupakan ujian bagi para pendaki untuk menuju puncaknya dan mata air bening yang menggoda untuk meminumnya. Sebagian menganggap gunung adalah keindahan, sebagian menganggap gunung adalah tantangan, sebagian menganggap gunung adalah kesegaran dan sebagain lagi menganggap gunung adalah penghilang dahaga kehausan. Sehingga gunung bagaikan magnet yang memiliki daya tarik untuk mendakinya, menikmati keindahannya, merengkuh pelukan kesegarannya, dan menghilangkan dahaga kehausan yang selama ini mendera. Namun ketika berjalannya waktu, entah akibat keserakahan manusia atau memang semakin banyaknya manusia yang membutuhkan manfaat (‘memanfaatkan’) dari gunung dan seisinya, atau juga karena memang sudah masanya terjadi, maka gunung itu sedikit demi sedikit melukiskan kerusakan – kerusakan yang dialaminya. Keindahan yang dulu nampak hasil perpaduan yang serasi antara bebatuan, bukit, hutan dan mata air, kini terlihat mulai gersang dimata. Seolah hanya bebatuan terjal saja yang tampak, pohon – pohon yang memberikan kesegaran telah bertumbangan disana – sini, mata airnyapun sebagian telah mulai mengering, sedangkan sebagiannya lagi telah sedikit airnya. Maka hanya ada dua pilihan bagi para pendaki itu, memperbaiki gunung dengan reboisasi ataukah mencari gunung yang lain yang sesuai dengan harapannya. Bayangkan andaikata jama’ah yang indah ini, kemudian menjadi gersang. Tidak menyenangkan bagi penghuninya, apalagi bagi orang yang hanya suka memandangnya. Bayangkan jika yang nampak hanyalah kejelekkanya yang terjal melukai setiap kaki, anggotanya yang dulu menyegarkan dengan ruhiyah yang prima kini bertumbangan dan pokok dahannya mulai mengering serta mata air keilmuan yang dulu menggoda siapapun untuk merasakannya, kini sebagiannya telah kering dan sebagiannya telah sedikit airnya. Haruskah beralih ke ‘gunung’ yang lain? Kaum pengganti Anak – anak TPA paling suka mendengarkan cerita. Salah satunya kisah Nabi – nabi. Entah bagian mana yang mereka sukai, tapi yang jelas anak – anak suka cerita. Satu hal yang sama yang bisa diambil dari kisah para Nabi adalah mereka diutus kepada suatu kaum untuk hanya menyembah Allah saja. Namun ketika sebagian besar mereka ingkar maka Allah binasakan dan hanya menyisakan sebagian yang sholeh. Ingatlah, bagaimana kaum Nuh yang hanya tersisa se-kapal, bagaimana kaum Luth yang hanya tersisa beberapa orang yang mau mengungsi dari desa, begitu pula kebanyakan nabi – nabi yang lain. Namun apa daya, manusia tetaplah manusia. Beberapa kurun waktu setelah nabinya wafat, kemudian orang tua – orang tua mereka wafat, maka mereka kembali durhaka kepada Allah. Seolah mereka memang menunggu – nunggu golongan pengganti dari kaumnya, dimana mereka yang durhaka kepada Allah akan kembali dibinasakan. Begitulah kisah nabi dari nabi yang satu ke nabi yang lain. Begitu juga jama’ah ini, jika suatu saat para anggotanya mulai meninggalkan sunnah dan berlari menuju harta, tahta, dan wanita. Apakah susah bagi Allah untuk menggantinya dengan golongan lain yang mereka mencintai Allah dan Allah mencintai mereka? Jadi bukan hanya jika salah satu anggotanya futur dan kemudian insilah, entah menuju dunia atau beralih ke jama’ah yang lain maka Allah akan gantikan dengan sosok yang bahkan lebih baik. Namun jika seluruh anggota jama’ah ini, baik sadar ataupun tidak telah terbawa menuju dunia atau menyamai jama’ah lain yang orientasinya bukan tauhid, maka Allah akan gantikan dengan jama’ah lain yang Allah ridlo dengannya dan mereka ridlo dengan Allah.
Teringat dahulu ketika OSPEK dikampus. Ada 2 pasal yang harus kami hapalkan dan kami laksanakan, yaitu : Pasal 1. Senior tidak pernah salah. Pasal 2. Jika senior salah lihat pasal 1. Ada perlawanan dalam hati sebenarnya, namun atas nama taat dan telah ‘dipilih’ diantara orang – orang yang ‘ tidak beruntung’ karena belum dipilih untuk masuk system maka kami telan saja mentah – mentah dogma itu. Pun, begitu juga tahun – tahun berikutnya sampai kami lulus. Karena jika kami tak setuju dengan dogma ini, maka pilihan satu – satunya adalah keluar dari system yang secara tidak langsung berhadapan dengan ‘menggadaikan masa depan’. Dan ternyata, ketika memasuki dunia kerjapun, dogma yang sama ternyata tetap berlaku. Bahwa atasan tidak pernah salah. Beruntungnya, dari salah satu pojokan kampus yang sama juga kami mendapat pelajaran yang cukup berharga. Bukan hanya memahamkan kami bahwa dogma itu sebenarnya salah, juga memberitahu kami bahwa dogma ini lahir dari prinsip materialisme, yang bukan hanya harus ditentang, namun juga harus dilawan. Karena ia tidak hanya menyengsarakan yang lemah, tidak hanya menipu orang lain untuk keuntungan diri, namun ia pula melawan setiap sendi fitrah ke-Tuhan-an. Dari sanalah kami diberitahu bagaimana Muhammad dalam beberapa event peperangan ditanya oleh para sahabat apakah stratetegi itu dari Allah atau memang hasil pemikirannya. Dan dia menjawab bahwa itu hasil pemikirannya, dimana kemudian idenya itu ternyata diganti oleh ide para sahabat. Bukankah Muhammad seorang Nabi? Bagaimana kedudukan ide atau ijtihad kita? Selalu benarkah atau kadang mungkin juga salah. Karena seperti Nabi, kita juga manusia, yang butuh ide dan ijtihad pembanding untuk menilai ide dan ijtihad kita. Kemudian dalam perjalanan hidupnya, bagaimana Muhammad yang Nabi dan Rosul itu melakukan beberapa kesalahan manusiawi dan ijtihadi yang ternyata langsung mendapat teguran dari Allah. Itulah mengapa ia disebut maksum, bukan tidak pernah melakukan kesalahan tapi selalu dalam penjagaan. Lantas bagaimana kita yang bukan Nabi apalagi Rosul? Mungkinkah Jibril datang – atas perintah-Nya – untuk memberi teguran atas kesalahan yang kita lakukan? Dari pojokan kampus itu pulalah kami diberitahu bahwa ketaatan itu hanya kepada Allah, Rosul dan Ulil Amri. Dan tidak ada ketaatan kepada mahluk dalam bermaksiat kepada Kholik. Dan jika kita tidak mampu melawan dengan kekuatan atau dengan lisan atas kemaksiatan yang dimintakan kepada kita, paling kami gunakan selemah – lemah iman dan kesabaran sambil mohon keampunan atas kelemahan diri. Pojokan kampus itu juga mengajarkan. Bahwa dalam urutan arkanul ba’iah, ketaatan dan ketsiqohan berada jauh dibelakang setelah kefahaman, keikhlasan dan amal. Lantas bagaimana kami bisa ta’at jika kami tak faham, lantas bagaimana kami bisa tsiqoh jika kami tidak ikhlas dan bisakah kami taat jika kami tidak mau beramal? Maka, berapa banyak kefahaman, keikhlasan dan amal yang telah dan selalu diajarkan kepada kami dalam setiap ide dan ijtihad yang harus kami jalankan? Sehingga, manakah yang harus kami ambil untuk kami praktekkan dalam hubungan qiyadah dan jundiyah dalam hal ketaatan dan ketsiqohan? Ajaran OSPEK itukah? Atau ajaran pojokan kampus?
(Diambil dari berbagai sumber) Segala puji hanya bagi Mu Ya Allah, di genggaman-Mu segala apa yang ada di alam, Engkau Yang Maha Pengampun atas segala dosa dan kesalahan, Maha Penerima Taubat dari hamba-Mu yang bertaubat, Engkau Yang Maha Dahsyat siksa-Nya, Engkau Yang Maha Luas Karunia-Nya, Tiada Illah Yang Haq kecuali Engkau, Kepada-Mu Ya Allah kami semua akan kembali. Saudaraku… Sungguh “Tiada suatu haripun yang fajarnya menyingsing dari ufuk Timur melainkan ia berseru: ”Wahai anak Adam! Aku adalah makhluk yang baru dan aku menjadi saksi seluruh amal perbuatanmu, maka ambillah bekal dari padaku, sungguh aku tidak akan pernah kembali lagi hingga datangnya hari kiamat nanti” (H.R. Abu Nu’aim). Saudaraku… Bila detik, menit, dan hari terus berlalu dan tak pernah kembali…lalu apa yang bisa sudah kita lakukan untuk menyongsong Yaumul Hisab? Sekiranya detik dan menit dalam hidup kita ini hanya bernilai rupiah dan dolar atau materi semata, apakah kira-kira yang akan menjadi pemberat amal kita kelak? Jika langkah-langkah kaki kita yang menapakai bumi ini hanya sebatas rutinitas hampa akan nilai kesholihan, mampukah kiranya kita memijak panasnya bumi Mahsyar kelak? Dan kalaulah lemahnya ketaatan diri kita ini yang dominan, bisakah kita menerima raport amal kita kelak dengan tangan kanan? Wahai saudara... Mari kita tengok diri kita, yang saat ini sedang penat dan letih, yang tersungkur di bawah tindihan beban hubbud dunya. Mari kita belai jiwa kita, yang saat ini sedang suntuk dan gelisah dihadapan onggokan noda dan dosa, maksiat dan kesalahan. Mari kita tengok ke belakang tapak-tapak kehidupan kita dan juga pandang ke depan arah perjuangan ini. Saudaraku... Bawa kembali ingatan kita atas – amal – amal kita kemarin. Mata yang merupakan anugerah Allah ini, sudahkah ia dipergunakan untuk beribadah dengan penuh kesyukuran. Ataukah kita pegunakan untuk melihat apa – apa yang bukan menjadi hak kita seperti gambar – gambar maksiat, atau rekan lawan jenis kita dengan syahwat. Maka mari saudaraku kita beristighfar atas dosa –dosa mata kita. Pelan saja karena Allah Maha Mendengar. Astaghfirullah hal ‘adzim.... Kemudian apakah mulut ini, yang setiap saat selalu keluar kata dan canda. Apakah perkataan yang kita ucapkan itu baik dan bermanfaat, ataukah banyak ghibah dan menyakiti orang lain. Berapa banyak dzikir terlantun dari mulut ini setiap harinya. Berapa banyak untaian ayat – ayat Allah yang terucap darinya. Maka mari saudaraku kita beristighfar atas dosa –dosa mulut kita. Atas segala ghibah yang pernah kita lakukan. Atas segala kata – kata pedas yang menyakitkan. Atas segala candaan yang melenakan. Astaghfirullah hal ‘adzim.... Selanjutnya, bagaimana dengan anggota tubuh yang lain. Telinga, tangan, kaki, dan anggota badan lainnya. Apakah kita pergunakan mereka untuk beribadah kepada Allah ataukah untuk bermaksiat kepada-Nya. Maka mari saudaraku kita beristighfar atas dosa –dosa anggota tubuh kita. Astaghfirullah hal ‘adzim.... Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’nan nashir ... Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzolimin... Allahuma Sholli ‘alaa muhammad, wa ‘alaa ali muhammad. Yaa Allah, hanya engkaulah sebaik – baik pelindung, engkaulah sebaik baik penolong. Dan Engkau tahu kami ini adalah hamba yang dzolim terhadap diri kami, maka ampunilah kami. Ampuni tubuh ini jika berbuat maksiat, ampuni jasad ini jika mengandung barang yang haram, ampuni jika tubuh ini sering menyakiti orang lain. ampuni jika hati ini masih dengki kepada orang lain. Ya Allah, berilah kekuatan kepada diri ini untuk menjauh dari maksiat, jauhkanlah diri ini dari menyakiti orang lain, bersihkan hati ini dari dengki kepada saudaraku yang lain. Jadikan umur yang tersisa ini untuk beribadah kepada-Mu
Saudaraku... Segarkan ingatan kita atas kedua orang tua kita. Bayangkan wajah tua mereka. Lupakah engkau dengan beban, kepayahan, dan kesakitan saat ibumu mengandung, melahirkan dan membesarkanmu. Lupakah engkau dengan kerutan diwajah ayahmu yang semakin banyak karena memikirkan bagaimana menghadirkan senyuman dibibirmu dan betapa berototnya beliau atas kerja keras yang selama ini dilakukan untuk menafkahimu. Sekarang tanyakan kepada dirimu sendiri, apakah yang sudah engkau berikan kepada mereka. Kebahagiaan ataukah kenakalan. Senyuman ataukah beban pikiran. Sungguh andaikata engaku hidup ratusan tahun maka tak kan sanggup untuk membalas kebaikan mereka, tapi mengapa kita durhaka kepada mereka. Mengapa sering kita membantah perkataan mereka? Mengapa sering kita membebani pikiran dan hati mereka dengan segala tingkah kita? Saudaraku... Mari kita hadirkan keadaan lingkungan masyarakat kita. Betapa banyak mereka yang melakukan kesyirikan, dan terbelenggu khurafat. Betapa banyak yang haus untuk bisa membaca Al Qur’an. Betapa banyak yang jatuh pada jurang kemiskinan yang menjadi santapan pemurtadan. Maka, apakah amal yang telah kau perbuat untuk membantu mereka. Bukankah Rosul telah mengatakan bahwa barangsiapa seorang muslim bangun dipagi hari tapi tidak memikirkan kepentingan kaum muslimin bukan ummatnya. Ataukah lupakah engkau dengan kewajiban yang termuat dalam Al Qur’an untuk amar ma’ruf, nahyi mungkar dan berjihad dijalan-Nya? Saudaraku... Kullu nafsin dzaiqotul maut... Setiap yang bernafas pasti akan mati. Maka apabila sang malaikat maut itu datang, ketika kita belum mencuci segala dosa – dosa kita. Dosa mata kita, dosa mulut kita, dosa telinga kita, dosa tangan kita, dosa kita kepada kedua orang tua kita. Dan bagaimana jika maut itu datang ketika kita belum berbuat baik kepada kedua orang tua kita, apalagi membalas segala jasanya. Kemudian bagaimana jika maut itu datang ketika kita belum berbuat banyak kepada ummat ini, apa jawaban kita atas kewajiban kita itu dihadapan Allah kelak? Maka istighfarlah saudaraku... istighfar... Astagfirullah hal a’dzim.... Saudaraku... Mari cermati arahan uswah kita Muhammad SAW: "Wahai sekalian manusia, sungguh...dalam hidup kalian ada rambu-rambu petunjuk jalan, maka ikutilah rambu-rambu itu, dan sungguh pada hidup kalian semua ada batas akhir, maka berhentilah pada batas yang telah ditentukan. Sesungguhnya seorang mukmin itu senantiasa berada pada rasa takut: antara kehidupan yang telah ia lalui, dimana ia tidak tahu apa yang diperbuat Allah terhadap dirinya - Apakah Allah catat dia bersama orang-orang yang sholih atau sebaliknya? - dan waktu hidup yang masih tersisa, di mana ia tidak tahu apa yang ditetapkan Allah terhadapnya - husnul khotimah ataukah sebaliknya, na'udzubillah ? Karena itu saudaraku... Hendaklah seorang hamba mengoptimalkan potensi dirinya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, menggunakan kehidupan dunianya sebaik-baiknya untuk membangun kemegahan akhiratnya, menggunakan masa mudanya sebelum tuanya dan mengoptimalkan detik-detik kehidupan ini sebelum ajal, demi Dzat yang jiwa Muhammad digenggamanNya, sesudah kematian tak ada kepayahan, sesudah kehidupan dunia tak ada kehidupan, melainkan Syurga atau Neraka" (H.R. Ibnu Abbas) Saudaraku... Sungguh perjalanan hidup kita masih panjang dan melelahkan, bekal kita amatlah sedikit, sedang tempat kembali kita...? Kita tidak tahu saudarakau...! Apakah Syurga atau Neraka? Maka saudaraku apa yang bisa kita lakukan saat ini untuk meraih keindahan hidup kelak, lakukanlah dengan terus mencermati Kalam Rabb kita (QS. 9:105) "Bekerjalah, berbuatlah, beramallah, Allah dan RasulNya juga orang-orang beriman akan senantiasa melihat amal-amalmu!" Hanya kepada Allah Robb Amiin.
Ah ada SMS masuk, langsung kubuka. “Aslm, mas thu info rombongan Cibodas yang bisnya jatuh ke jurang gak? Tlg confirm klo ada info. Syukron.” Langsung ku putar otak. O, ya. Ada 2 rombongan pengajian yang sedang keluar kota. Satu rombongan ke Serang dan satu rombongan ke Cibatok? Tapi, bukannya yang jatuh ke jurang itu rombongan dari salah satu sekolah di Depok? Bingung juga …. Kemudian ku hubungi saja salah satu rekan pengajian yang ikut rombongan ke Serang. Dia mengatakan kalo rombongan dari Serang baru saja tiba dengan selamat, Alhamdulillah.. Cuma katanya rombongan Yayasan Al Amanah yang ke Cibatok-lah yang mengalami musibah. Informasi sementara ada 2 Akhwat yang meninggal, yang lainnya luka – luka. Sekarang semuanya ada di RS PMI Bogor. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…. Kemudian ku hubungi rekanku yang SMS tadi dan mengabarkan info yang baru kudapat. Ternyata diantara temannya ada yang ikut rombongan tersebut, itulah mengapa ia menjadi khawatir. Dan ternyata tiba – tiba istriku setengah berteriak, “Jangan – jangan temenku ikut juga bi?” Tanpa tunggu lama dia menghubungi HP temannya tersebut dan ternyata benar dia ikut. Kondisinya luka dengan beberapa jahitan dan salah satu yang meninggal adalah Mia, akhwat yang dikenal istriku walau tak terlalu dekat. *** Saudaraku, musibah adalah hal yang tidak bisa kita duga. Begitu pula tak pernah terlintas sekalipun dalam benak kita untuk mengharapkannya. Musibah adalah sepenuhnya rahasia-Nya sebagai ujian bagi orang beriman atau azab bagi mereka yang bermaksiat. Saudaraku, janganlah sampai sekalipun kita yang tidak terkena musibah itu mengatakan, atau terbetik dalam hati kita sebuah ungkapan,”Tuh kan, untung saya gak ikut rombongan itu”. Seolah kita menyalahkan mereka yang ikut, sehingga dengan keikutsertaan mereka maka mereka mengalami musibah. Tapi ketidakikutsertaan kita seharusnyalah meningkatkan kesyukuran kita. Anggap saja mungkin bukan giliran kita musibah kali ini. Mungkin Allah telah menyiapkan ujian bagi keimanan kita di lain waktu dengn bentuk yang hanya Allah yang tahu. Saudaraku, coba lihat dari sisi yang lain. Mereka yang meninggal ini sedang dalam kondisi ruhiyah yang tinggi, dalam acara untuk bertaqorub dengan Ilahnya. Bahkan bisa jadi mati mereka adalah khusnul khotimah, atau bahkan amalan mereka ketika meninggal itu setara dengan amalan mati syahid… Saudaraku, ingatlah kematian itu pasti kan datang. Yang perlu kalian khawatirkan bukanlah kematian itu, atau bagaimana cara kita mati, tapi dalam kondisi apakah kita mati kelak. Apakah dalam kondisi khusnul khotimah ataukah suul khotimah? Jangan sampai kita mati saat kita sedang bermaksiat kepada Allah seperti yang sering kita baca di surat kabar. Kemudian, ketika kematian itu tiba. Berapa banyakkah bekal yang telah kita kumpulkan untuk menghadap-Nya. Jadi, saudaraku. Persiapkanlah kematian itu dari sekarang. Karena ia akan datang kepada kita tanpa bertanya “Wahai fulan engkau siap atau tidak”. Ia akan datang tanpa harus ada musibah. Bisa saja ia datang lewat sakit, atau bahkan saat sholat sekalipun. *** Selamat jalan sahabat, walaupun mungkin saya tidak terlalu mengenal engkau. Pun ku tahu dirimu kala istriku menunjukkan foto dirimu ketika hadir pada pernikahan kami. Semoga Allah menerimamu di sisi-Nya, menghapus segala kealpaan dan dosa, menerima segala keikhlasan amalmu di jalan dakwah ini. Dan semoga keistiqomahanmu di jalan dakwah yang berat ini, menjadi pelajaran bagiku untuk tetap tegar di dalamnya. Selamat jalan Mia, … Tangerang, 10 Juli 2007
“Maaf Ustadz, Tidak adanya diriku tidak akan berpengaruh pada dakwah ini. Maka ijinkanlah aku insilah. Ijinkanlah aku tidak aktif lagi untuk beraktivitas bersama kalian. Ijinkanlah aku tuk tak lagi menjadi da’I (penyebar)….. " Untuk engkau tahu ustadz, aku malu disebut da’I dan bahkan beberapa orang memanggilku ustadz karena kesenioranku …. Karena aku lebih tua dari mereka … Karena aku lebih dulu menjadi aktivis dibanding mereka … Namun tetap saja, "...ana basyaru mitslukum yuha ilayya …." Aku tetap manusia yang fana … yang tidak sempurna … yang memiliki berjuta kelemahan … yang kadang dikalahkan nafsu dan syahwat …. yang kadang terpukau oleh godaan dunia … yang kadang mengejar materi sampai kaki ini tersandung sandung …. Dan masih banyak lainnya, yang intinya … aku tetap manusia biasa…. Sebagai seorang yang katanya da’I, yang katanya tiap mukmin sejatinya adalah da’I, tiap jiwa yang mengaku islam adalah da’I, maka lihatlah ruhiyahku sungguh amburadul…. tilawahku tak seberapa, tergantikan canda tawaku dengan keluarga dan teman sahabat …. sholat malamku terlewat tergantikan dengan tidurku yang pulas terlena … puasa sunnahku ku reshufel dengan makan yang yang mengenyangkan hanya karena takut sakit magh … belum sholat wajibku yang kudirikan dengan kemalasan dan kulakukan diakhir waktu …. Sebagai orang yang katanya da’I, aku malas belajar… aku malas menghapalkan ayat – ayat Al Qur’an…. Aku malas menyimak tausiyah – tausiyah para ulama. Buku – buku hanyalah penghias di rak – rak lemariku, acara kajian adalah ajang ngrumpiku …. Sebagai seorang yang katanya da’I, berat rasanya aku beramal. Berat rasanya aku mengeluarkan 2,5% penghasilanku untuk zakatku, apalagi jika aku harus mengeluarkannya untuk infaq dan sedekah … berat … berat … apalagi untuk berjihad dengan jiwa … Sebagai seorang yang katanya da’I, sedikit sekali aku menyisihkan waktuku untuk menyeru… karena aku takut akan menjadi orang yang dibenci Allah : “ Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan “. (Ash Shoff 2 – 3) Sungguh aku malu ustadz, sampai – sampai ada saudaraku yang mengingatkanku dengan menuliskan dipintunya sebuah kalimat : “Katanya Ikhwan ….” Kemudian ustadz, materi – materi yang telah engkau berikan, dan materi – materi yang telah para murobbi berikan… dengan kefahaman yang kusimpan di dalam dada, masih tak mampu untuk bergerak, untuk beramar ma’ruf, apalagi untuk nahi mungkar …. Lidah ini masih kelu untuk mengajak orang lain mendalami islam yang katanya Indah…. Dan bahkan dulu sekali sempat kucoba untuk mengajak, kemudian mereka menyambut seruan ini…. Tapi sekarang mereka telah jauh sebagai akibat atas pilihan untuk masuk ke dalam dakwah ini… tapi apa yang kulakukan …. Tak ada …. Ampuni hambamu ini ya Allah…. yang telah mengajak mereka berjama’ah tapi kemudian kutinggalkan setelah musibah mereka terima …. Tangan ini begitu lemah untuk berbuat, lidah ini telah kaku untuk mengingatkan para junud dan qiyadah untuk menolong mereka … maka kepada-Mu lah aku berharap untuk menolong mereka … Maka akal ini berkata untuk apa menyeru, untuk apa merekrut, jika setelah itu aku telantarkan… tanpa kuperhatikan kebutuhannya, tanpa ku obati kejenuhannya, tanpa kusinari ruhiyahnya …. Sungguh aku takut disebut tidak beriman karena tidak memperdulikan saudaraku yang lain yang tertimpa musibah. Sungguh aku takut disebut tidak beriman karena seharusnya aku mencintai mereka seperti mencintai diriki sendiri …. Sesuai materi – materi itu …. Maafkan aku ustadz, aku menganggap rumah ini tak lagi nyaman untuk di huni… tak lagi indah untuk dipandang … tak lagi bersih untuk dibanggakan … dan tak lagi ikhlas dalam kepedulian …. Atapnya telah bocor disana – sini dan tiang serta dindingnya makin rapuh. Kulihat ada hukum – hukum yang sudah pasti hitam putihnya, sekarang telah dibuat menjadi remang – remang dengan alasan fiqih realitas. Tapi memang siapakah diriku, aku bukan ustadz, apalagi tidak memiliki kafaah syar’I untuk menelaah hukum Kulihat juga kita mencoba – coba untuk melegalisasi kebatilan dalam dakwah kita, goyangan wanita tlah kita undang dalam pengajian kita … bukankah “…wala talbisul haqqo bil bathil …” Kemudian pertemuan – pertemuan ilmiyah ruhiyah kini pun telah tergantikan dengan syuro – syuro hizbiyah yang sebenarnya telah memiliki perangkat dan waktunya sendiri. Mengapa tidak manajemen waktu, mengapa tidak tawazun dalam kegiatan … bukankah kita ummat pertengahan yang tidak condong ke salah satu sisi…. Bukankah jasad, ruh dan akal memerlukan porsinya masing – masing … seperti kata murobbi dulu …. Selanjutnya, apakah sholat ini tidak begitu membekas sehingga kita selalu terlambat datang dalam pertemuan. Bukankah sholat itu mengajarkan kita untuk disiplin dan tepat waktu. Namun mengapa hampir semua kegiatan kita selalu terlambat setengah sampai satu jam dari jadwal semula …. Yah, memang benar kita adalah manusia biasa. Yang tidak sempurna, yang memiliki kealpaan, yang membutuhkan orang lain untuk mengingatkan. Namun bagaimana jika hati ini telah begitu mengeras membatu …. Yaa Allah…. Ayat pertama yang kau turunkan adalah perintah untuk mentarbiyah diri “Iqro… kata-Mu”. Seolah Engkau mengatakan jika aku muslim maka aku harus Tarbiyah. Namun hati ini telah begitu berat dan ingin Insilah, maka jika aku keluar dari Tarbiyah…. Apakah tidak diartikan aku keluar dari Islam karena Islam harus Tarbiyah …. Dan benar, jika aku keluar dari Tarbiyah yang secara nggak langsung dianggap keluar dari Islam, maka dakwah ini tak kan goyah, islam ini tetap tinggi, karena seperti kata-Mu yaa Allah : ”Hai orang - orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Al Maidah 54) Jadi masih mungkinkah aku untuk insilah (keluar) ya ustadz …..
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Ad Dzariyat : 56) Jadilah kamu orang yang bersemangat di dalam menunaikan sholat wajib tepat pada waktunya secara berjama’ah, maka apabila waktu sholat telah dekat, bersegeralah untuk berwudlu, dan janganlah boros dalam menggunakan air. Apabila muadzin telah mengumandangkan adzan, maka menghadaplah kiblat, dan sholatlah qobliyah, lalu duduklah dengan tenang dan tentram sampai ditegakkannya sholat, sholatlah berjama’ah dengan khusyu’. Dan ketika sholat sesungguhnya engkau sedang bermunajat dengan Rabbmu dan kamu berdiri dihadapan-Nya, maka hati – hatilah dengan bisikan syaithan, janganlah tertawa – tawa dihadapan Allah, hindari sibuknya hati kepada selain bermunajat dengan-Nya. Jika telah selesai sholat wajib, maka sholatlah ba’diyah dan berdoalah kepada Allah dengan doa – doa yang mudah bagimu dan doa – doa kebaikan dan banyaklah minta ampun kepada Rabbmu serta mintalah kesuksesan kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Maha Pemberi Rizki lagi Maha Mengetahui. Beberapa hal berikut ini adalah alasan orang – orang yang enggan menegakkan sholat, kitakah didalamnya? 1. Belum tahu syarat dan rukunnya Kepada anda yang beralasan demikian, kemana anda selama ini? Bukankah disekitar anda tersedia buku – buku panduan sholat yang lengkap? Bukankah disekitar anda banyak orang – orang yang siap membantu anda dengan ikhlas agar bisa sholat tanpa menghina atau mencemooh anda karena tidak bisa sholat? Oleh karena itu belajarlah saudaraku, karena belajar itu adalah seumur hidup kita sebagaimana perintah Rosulullah“ Tholabul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi”, menuntut ilmu itu dari engkau masih di buaian ibumu sampai engkau dibaringkan di liang lahat. Maka tidak ada kata terlambat, tidak ada kata sudah tua, dan tidak ada kata malu untuk menuntut ilmu, karena shahabat Nabi pun memeluk islam ketika mereka sudah tua dan mereka tidak merasa terlambat, dan merasa malu untuk menuju Rabbnya.. 2. Nggak punya waktu, sibuk bekerja Kepada anda yang beralasan demikian, Berapa banyakkah waktu yang diminta Tuhanmu untuk engkau menghadap-Nya. Bandingkanlah dengan waktu yang telah Dia sediakan untukmu. Bandingkan waktu 24 jam sehari dengan 25 menit sehari untuk engkau ruku dan sujud 5 kali dihadapan-Nya. Bukankah selama waktu kerjamu ada waktu istirahat? Bukankah KKB telah menjamin anda untuk bebas beribadah? Dan bukankah atasanmu tidak mempermasalahkanmu ketika engkau minta ijin untuk menegakkan sholat? 3. Akan sholat, saat umur sudah 50-an Kepada anda yang beralasan demikian, bahwasanya setiap jiwa pasti akan mati. Dan sampai hari ini tidak ada orang yang tahu kapan ia kan mati, nanti malamkah, sebulan lagikah atau saat umur 70-kah? Lantas jika Izroil menjemput anda ketika belum memiliki bekal amalan sholat. Apakah anda bisa meminta penangguhan? Maka, segeralah sholat ketika nafas belum sampai ke tenggorokan, ketika nyawa masih bersatu dengan jasad, ketika belum datang kiamat kecil pada diri kita. Karena ketika ia datang, maka segala penyesalan sudah tidak berguna, segala usaha sudah tidak bermakna dan segala do’a penangguhan tidak akan diijabah-Nya. 4. Nggak usah sholat, yang penting baik hati Kepada anda yang beralasan demikian, Sudahkah engkau mendengar sabda Rosulullah : “Tiada jarak antara seorang hamba dengan kekufuran kecuali meninggalkan sholat. Apabila meninggalkannya maka ia syirik” (HR Ibnu Majah dan Suyuthi). Dan berapa banyakkah perintah Allah dalam Al Qur’an agar engkau sholat? Apakah dengan tidak mengerjakan sholat engkau dengan terang – terangan mendeklarasikan dirimu untuk menjadi kafir? Sungguh suatu kerugian ketika engkau telah berada dalam gemerlapnya cahaya iman kemudian beralih menuju kepada gelapnya kesesatan dan kejahilan. Wahai saudaraku, menjadi baik bukanlah satu – satunya tujuan Islam, karena disana ada kewajiban – kewajiban sebagai tanda tunduk dan berserahmu kepada Allah. Dan sholat selain sebagai tiang agama, ia juga adalah pencegah dari perbuatan dosa dan mungkar. 5. Sholat nggak ada manfaatnya Kepada anda yang beralasan demikian, pahamilah bahwa kedudukan sholat dalam Islam bagaikan kepala atas jasad. Ia juga penyejuk jiwa bagi yang menegakkannya, penenang hati dan penghubung antara hamba dengan Tuhannya. Ia adalah tangga yang mengantarkan ruh orang – orang yang sarat dengan cinta menuju Rabbnya. Dialah kilatan bagi orang – orang yang yang ingin menerangi jiwanya. 6. Sedang sakit Kepada anda yang beralasan demikian, bukankah Tuhanmu telah mensyariatkan kepadamu untuk sholat dengan berbagai keadaan. Jika engkau tidak bisa berdiri maka duduklah, jika tidak bisa maka berbaringlah, jika tidak bisa maka engkau boleh menggunakan isyarat. Bukankah Tuhanmu tidak menyulitkanmu? Oleh karena itu segeralah berwudlu untuk tunaikan kewajibanmu. Mintalah Allah untuk menyembuhkanmu dan menjadikan sakitmu sebagai pelebur dari dosa – dosamu yang telah lalu. Karena itu lebih baik bagimu jika engkau mengetahui. 7. Malas Kepada anda yang beralasan demikian, malaskah engkau memasuki syurga yang luasnya seluas langit dan bumi? Malaskah engkau untuk beristerikan bidadari? Dan malaskah engkau untuk merasakan nikmat yang di dunia tidak pernah engkau temui? Dan mengapakah engkau bergairah untuk bersegera ke neraka-Nya dengan melanggar perintah-Nya? Oleh karena itu bangkitlah segera, buanglah kemalasan dalam dada. Segera sambut seruan-Nya untuk ruku dan sujud dalam cinta kepada-nya. Ucapkanlah selamat tinggal kepada kemalasan yang memang tidak berguna, bahkan menjerumuskanmu ke dalam siksa neraka. Wahai saudaraku muslim, anda paham sekarang, maka yakinlah sebelum segala aktivitas kita yang lain, adalah memperbaiki sholat. Wallahu’alam bish showwab.
Aduh, dia melirik lagi. Sorot mata tajam nan teduh itu kembali menatapku. Andai aku bisa, ingin rasanya aku lari dari pandangannya. Sepasang mata yang dimiliki oleh sesosok pria tampan yang tinggi tegap dengan wajah bercahaya penuh makna. Siapa yang tidak berdetak jadinya? Eeeit, dia melirik lagi. Wah jadi Ge eR nich. Sejak 20 menit yang lalu telah lima kali dia melirikku. Dan diruangan 3 x 4 meter ini hanya ada aku dan dia. Ingin rasanya aku menyapanya, berkenalan dengannnya. Tapi lihat, dia kelihatan gelisah. Sesekali dia memandang ke luar. Apakah ada yang ditunggunya.? Wah, jadi jealeous nich. Apa aku gak cukup untuk menemaninya? Dan ditangannya ada secarik kertas. Jadi penasaran ama isinya. Ehmmm, kopnya sich sebuah institusi dakwah. Truzz kubaca sampai bawah. Oh, ternyata sebuah surat undangan. Kalau melihat tanggalnya sih hari ini, dan tempatnya diruangan ini. Dan jamnya, ternyata 20 menit yang lalu. Pantesan dia gelisah. Peserta rapat yang lain belum datang dan sudah cukup lama dia menunggu. Sssst. Ada yang datang tuch. Dua orang lelaki yang memakai baju koko dengan kopiah Mesir. “Assalamu’alaikum akh Rahmat. Afwan terlambat ane ada acara. Baru selesai beres – beres kontrakan,” kata yang lebih tua. “Wa’alaikum salam akhi udin dan akhi Syaiful. Ayo silahkan duduk. Yang lain belum pada datang nich”, jawabnya. Jadi yang sedari tadi melirikku itu namanya Rahmat, dan yang datang adalah Udin dan Syaiful. Selanjtunya, 10 menit kemudian semua peserta rapat baru hadir semua dan 5 menit kemudian rapat baru dimulai. Jadi ingat dengan yang disampaikan seorang ustadz dua minggu yang lalu. *** Saudaraku, kita telah ikrarkan diri kita adalah jundi – jundi dakwah – para anshorullah yang selalu siap untuk mempersembahkan segala yang kita miliki untuk mewujudkan izul Islam wal muslimin. Namun, adalah sunatullah bahwasannya setiap yang Haq akan memiliki pesaing tunggal yaitu kebatilan. Kebatilan yang terorganisir akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Saudaraku, salah satu ciri suatu kelompok yang terorganisir adalah bagaimana ia menghargai waktu. Waktu yang dimiliki oleh tiap manusia semua sama yaitu 24 jam sehari dan 3600 detik tiap jamnya. Tidak ada seorangpun yang mendapatkan kurang atau lebih dari jumlah tersebut. Tinggal bagaimana kita memanfaatkandan mengatur waktu tersebut sebaik – baiknya. Sehingga, para pakar manajemen yang meneliti masalah waktu merumuskan dua teori manajemen tentang waktu berdasarkan pengalaman orang – orang yang sukses dengan waktunya. Pertama, teori yang disebut Just In Time ( JIT ) atau yang mudahnya dijabarkan dengan waktu yang tepat untuk melaksanakan sesuatu sehingga sasaran tercapai. Kalau kita mempelajari siroh nabawiyah, maka akan kita lihat Rosulullah melaksanakan JIT dengan bagus sekali. Kapan saat yang tepat untuk dakwah secara rahasia (siriyah), kapan saat yang tepat untuk dakwah secara terang – terangan (Amniyah), kapan berhijrah, kapan berperang dan sebagainya. Kedua, teori yang disebut sebagai Just On Time ( JOT ) yang mudahnya diartikan sebagai tepat waktu. Disini Islam telah mengajarkan kita untuk selalu tepat waktu. Sholat lima waktu kita telah mengajarkan kita untuk tepat waktu dalam pelaksanaannya. Shoum kita telah mendidik kita untuk tahu kapan mulai berpuasa dan kapan dapat berbuka. Tidak ada yang sholatnya diluar waktunya atau kita baru sahur ketika adzan shubuh selesai dikumandangkan. Semua pasti tepat waktu. Dan sebagai kader dakwah hendaknya pengajaran dan pendidikan ini bukan hanya kita rasakan saat itu saja, namun harus diaplikasikan dilain bidang juga. Jadi, kalau kita ingin memenangkan dakwah diatas kebatilan, maka kita harus mempraktekkan JIT dan JOT tersebut semaksimal mungkin. Agar apa, agar kita lebih terorganisir dalam mencapai tujuan dakwah tersebut.
Dan akhi, manusia adalah makhluk yang diciptakan sebagai sebaik – baik penciptaan. Dengan akalnya dia mudah menciptakan 1001 alasan untuk membela diri ketika terjadi hal – hal yang tidak kita inginkan akibat perbuatan kita. Namun, sebagai prajurit Allah hendaknya kita sadar untuk mengkoreksi diri dan selanjutnya berazam untuk memperbaiki diri agar dakwah ini mendapat kemajuan yang berarti. Dan membuat alasan, atau mencari – cari alasan adalah bukan termasuk melakukan koreksi diri. *** Andai saja semua kader dakwah bisa melakukan JIT dan JOT, tentu dakwah ini akan berjaya. Tidak perlu ada lagi orang yang dikecewakan karena harus menunggu peserta rapat yang lain. Tidak perlu ada rencana untuk membuat undangan sejam sebelum acara dimulai. Tidak perlu ada orang yang beralasan terlambat karena baru bangun tidur, baru makan, baru nyuci baju, dan baru – baru yang lainnya, karena ia tahu kapan saat yang tepat untuk melakukannya dan ia tahu ia harus tepat waktu hadir di kegiatan yang lain. Yang terpenting tidak perlu lagi mendengar ungkapan “Afwan Ane Ada Acara” ketika dia terlambat. Jangan khawatir, aku tak akan kecewa andaikata tidak ada lagi sorot mata yang melirikku berkali – kali, tidak lagi berduaan dalam ruangan kecil ini dengan seorang lelaki yang tampan, tidak lagi berdetak – detak diri ini, karena aku hanyalah jam dinding tua yang sudah usang.
Rindu Kami padamu Ya Rosul
Rindu Tiada Terperi Berabad jarak darimu ya rosul
Serasa dikau di sini
…….. By Bimbo
Yaa ayyuhal ikhwah. Mata siapa yang tidak berkaca –
kaca, tubuh merinding, dan dada sesak dengan perasaan yang membuncah kala
mendengar syair itu. Seolah menggambarkan betapa besar rindu yang dimiliki oleh
setiap jiwa yang mengharapkan pertemuan dengan Rosulullah.
Betapa penasarannya kita untuk bisa menatap wajahnya yang
teduh berwibawa, untuk menjabat tangannya yang perkasa dan untuk berbicara
dengannya, yang hanya mungkin terjadi bila kita bertetangga dengannya di
Syurga.
Yaa ayyuhal ikhwah. Mungkin bagi orang lain akan
terasa aneh bila kita mengatakan rindu dengan orang yang hidup berabad yang
lalu, yang tidak pernah kita lihat dan tidak pernah mendengar suaranya. Karena
lazimnya kita rindu dengan orang yang pernah kita lihat atau dengar suaranya.
Atau mudahnya rindu dengan orang yang istimewa dan hidup semasa dengan kita.
Namun ya ayyuhal ikhwah. Tidak rindukah kita dengan
seseorang yang Allah utus untuk menyampaikan risalah dari Allah SWT kepada kita
sebagai panduan untuk bahagia dunia dan akhirat. Tidak rindukah kita dengan
sosok yang begitu mulia dan begitu terhormat bahkan dimata non muslim sekalipun.
Tidak rindukah kita dengan manusia yang tidak hanya berbicara, tapi memberikan
contohnya kepada kita akan apa yang dibicarakannya.
Bahkan ketahuilah. Bahwasanya Rosulullah sendiri sangat
merindukan perjumpaan dengan kita. Perjumpaan dengan ummatnya yang hidup
berpuluh abad setelahnya, yang tidak pernah berjumpa dengannya, tidak pernah
melihatnya, tetapi membenarkan segala yang disampaikannya. Mari kita bersama
cermati potongan hadits berikut :
Rasulullah : “Ayyul khalqi ajabu ilaikum imanan ? Mahluk
manakah yang keimanannya mencengangkan kalian ?”
Sahabat : “Malaikat, Ya Rasul Allah”
Rasulullah : “Bagaimana malaikat tak beriman, bukankah mereka berada di
samping Tuhannya ?”
Sahabat : “Para nabi, Ya Rasul Allah”
Rasulullah : “Bagaimana nabi tak beriman, bukankah kepada mereka turun wahyu
Tuhan ?”
Sahabat : “Kami, para sahabatmu, Ya Rasul Allah”
Rasulullah : “Bagaimana kalian tidak beriman, bukankah aku ditengah-tengah
kalian ?“
Sahabat : “Kalau begitu, siapakah mereka Ya Rasul Allah ? Siapa gerangan mereka
yang imannya paling mempesona ?”
Rasulullah : “Yang paling menakjubkan imannya adalah mereka yang datang
sesudahku beriman padaku, padahal tidak pernah melihatku dan berjumpa denganku.
Yang paling mempesona imannya adalah mereka yang tiba setelah aku tiada tapi
membenarkanku tanpa pernah melihatku.”
Sahabat : “Bukankah kami ini saudaramu juga, Ya Rasul Allah ?”
Rasulullah : “Kalian adalah sahabat-sahabatku. Saudaraku adalah mereka yang
tidak pernah berjumpa denganku. Mereka beriman pada yang ghaib, mendirikan
salat, menginfakkan sebagian rezeki. Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka.”
Yaa ayyuhal ikhwah. Seberapa besarkah rindu kita kepada Rosulullah.
Mungkin kita perlu bercermin kepada seorang Ibu di daerah Jakarta seperti yang
dikisahkan oleh Bobby Herwibowo, Lc pada acara Belajar Dari Kisah di Indosiar
beberapa pagi kemarin. Bercermin pada sebuah kerinduan yang luar biasa. Subhanallah
….
Dikisahkan bahwa pada suatu malam muncul perasaan Rindu yang
sangat kepada Rosulullah. Maka, tak henti malam itu dia bersholawat … Allahumma
Sholi ‘alaa Muhammad …
Disepertiga malam terakhir, dia bangun untuk sholat tahajud.
Dilaporkanlah perasaan rindunya itu kepada Allah SWT. Selesai sholat tahajud,
ia kembali bersholawat sampai waktu shubuh dan setelah shubuh ia kembali
bersholawat.
Ketika makan pagi, sambil memberikan priring berisi nasi
yang baru diambilnya kepada suaminya dia berkata :” Pak, tahun ini kita naik
haji ya”.
Suaminya menjawab :” Lho Bu, bukankah kita sudah pernah
naik haji, apakah tidak lebih baik dana itu kita salurkan kepada hal yang
bermanfaat buat ummat”.
Sang istri kembali berkata :” Iya Pak, tapi ibu begitu
Rindu kepada Rosulullah”.
Sang suami menjawab :” Baiklah, tapi Ibu saja yang
berangkat”
Singkat cerita sang Ibu berangkat haji. Pukul 12.00 malam
dia tiba di penginapan di Madinah. Sang ibu langsung mandi dan memakai pakaian
putih yang paling terbaik. Ketika rekan – rekannya yang lain masih beristirahat
setelah perjalanan jauh, sang ibu bergegas berjalan ke masjid nabawi. Pukul
02.00 pagi tiba di gerbang masjid yang belum dibuka. Bersama – sama ratusan
orang lainnya dia menunggu , berdiri di depan gerbang masjid Nabawi. Pukul
03.00 pagi gerbang dibuka, maka masuklah dia ke dalam masjid.
Namun, tidak lama kemudian muncullah kasyaf. Tiba – tiba
dalam pandangannya masjid Nabawi menjadi asing baginya. kemudian dilihatnya
orang – orang yang berpakaian serba putih sedang mendengarkan ceramah dari
seseorang. Bertanyalah sang ibu kepada seorang perempuan disampingnya : “Siapakah
dia ?”
Jawabnya :” Huwa Rosulallah, Dia Rosulullah”.
Kemudian sang ibu kembali bertanya :” Lantas, siapakah
anda ?”
Dijawab kembali :”Saya sahabat Rosulullah”
Sekejap kemudian, semua pemandangan kembali normal.
Dilihatnya disebelah kirinya makam Rosulullah, orang yang di rindukan.
Yaa ayyuhal ikhawah, sebuah kisah yang boleh saja kita tidak
percaya. Namun diatas semua itu sebenarnya ada pertanyaan yang harus kita jawab
:”Seberapa rindukah kita pada Rosulullah”.
Allahumma Sholi ‘alaa Muhammad … How i miss you Ya Rasulullah....
| |