Agus' posts with tag: penguasa

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag penguasa
Blog EntryBurung PilkadaAug 15, '07 9:45 PM
for everyone
Proses Penghitungan Suara Pilkada DKI Jakarta (Yahoo! News/AP Photo/Dita Alangkara)Kata munafik, kabarnya, berasal dari akar kata nama burung yang hobinya menyembunyikan kepala ke dalam pasir. Misalnya, pas ada sesuatu yang menakutkan hatinya: badai, awan yang mengerikan, atau ada binatang lain yang mengerikan hatinya.

Si burung itu menipu dirinya sendiri. Ia menyembunyikan diri dari pengetahuannya tentang dirinya sendiri di depan kenyataan yang tak bisa diatasinya atau keadaan yang akalnya sendiri tak bisa menerimanya.

Jelasnya: burung apa itu? Terserah. Yang pasti: itu adalah diri kita sendiri. Termasuk saya, tapi bukan Anda. Saya munafik, Anda pasti bukan.

Saya hampir tidak pernah melakukan suatu perbuatan apa pun yang saya maksudkan benar-benar untuk perbuatan itu sendiri. Hati saya penuh pamrih tersembunyi, pikiran saya sarat strategi penipuan --tak hanya kepada orang lain, melainkan juga kepada diri saya sendiri.

Kalau saya salat, bukan saya benar-benar salat. Saya ngakali Tuhan. Salat saya hanya alat untuk mencari kemungkinan tambahan agar tercapai kepentingan tertentu yang saya simpan. Anda tak boleh tahu. Misalnya, salat saya bertujuan agar cita-cita saya tercapai di bidang kekuasaan, kenaikan pangkat, atau pembengkakan deposito. Tapi, apa aslinya pamrih saya, Anda tak akan tahu. Sebab Anda terlalu meremehkan atau under-estimate terhadap tingkat kejahatan dan keserakahan saya.

Kalau saya pergi umrah, Anda harus cerdas dan waspada. Karena sebenarnya Tuhan dan rumah-Nya bukan fokus dari kepergian saya. Anda sebaiknya jangan terlalu lugu. Hidup ini sangatlah luas dan canggih, jumlah kemungkinan tak terhingga. Semesta nafsu kehidupan serta karier saya melebihi luasnya cakrawala kemungkinan.

Kalau saya berbuat baik, misalnya bikin pengobatan massal, memacu pemberantasan narkoba, memberi bantuan dan santunan, jangan dipikir tujuan utama saya adalah deretan kebaikan itu. Ada yang lebih fokus di kandungan hati saya, misalnya pilkada.

Kalau saya memberi slogan "Kampung Beriman", Anda jangan terjebak oleh kata iman. Sebab yang saya maksud sebenarnya tak ada hubungan mendasar dengan iman. Umpamanya saja, iman adalah indah dan nyaman. Anda jangan berpikir linear: sebab tidur semalaman dengan pelacur di cottage itu indah dan nyaman. Korupsi sejumlah uang yang bisa dipakai untuk menyejahterakan penduduk juga sangatlah indah-nyaman.

Itu sekadar contoh. Intinya, jangan percaya kepada saya dan apa pun yang saya lakukan. Belajarlah meningkatkan dan merangkapkan kewaspadaan intelektual maupun spiritual. Saya seorang yang fasih, mampu mempesonakan orang banyak dengan ayat-ayat Tuhan yang saya bacakan. Serta sanggup memukau publik dengan uraian ilmu sosial aplikatif empiris. Tapi, kalau parameter yang Anda pakai untuk menilai saya adalah ucapan-ucapan saya, maka Anda orang dungu.

Saya burung yang piawai menyembunyikan kepala dalam pasir. Wajah saya yang sampai ke pandangan mata Anda adalah wajah yang sudah saya poles. Setiap saya ucapkan kata "demokrasi", sebenarnya bukanlah demokrasi itu sendiri yang saya maksudkan. Anda perlu bikin simulasi: mungkin saya sedang mencari keuntungan pada momentum dan jenis kasus tertentu dengan menunggangi demokrasi.

Kalau saya menginformasikan sesuatu, asahlah kepekaan balaghah, ketajaman ilmu komunikasi. Bahkan bukalah lembar buku spionase: memang saya sedang memaparkan informasi, tetapi saya batasi pada sisi-sisi yang menguntungkan. Dalam ideologi dan strategi komunikasi informasi saya, terkandung keharusan disinformasi taktis sesuai dengan posisi saya dalam peta kepentingan-kepentingan.

Kalau Anda tertipu atau tersesat oleh informasi yang disinformatif dari saya, itu semata-mata karena Anda masih berpikir manual. Sementara saya sudah sampai ke micro-digital. Bahkan setara dengan lelembut yang tak terukur tingkat samarnya. Demikian juga kalau saya ucapkan kata "rakyat", "Tuhan", "religi", "pemberantasan korupsi", "transparansi", "reformasi", atau ratusan kata, idiom, jargon, dan ikon lainnya.

Tetapi, percayalah, saya tidak punya niat sedikit pun untuk menghancurkan Anda atau merusak keadaan masyarakat. Saya tak sehebat itu. Mana mungkin saya punya kemampuan menghancurkan. Yang saya lakukan sederhana saja: jangan sampai ada kata saya ucapkan, jangan ada langkah apa pun yang saya putuskan, yang tidak saya yakini akan menguntungkan saya pribadi secara materi, kekuasaan, atau nama baik.

Saya seorang munafik. Tujuan dan cara harus saya bolak-balik sesuai dengan apa yang pada momentum tertentu memberi saya laba. Wasilah wa ghoyah: mana sarana mana goal, mana tujuan mana cara, harus patuh kepada kepentingan saya. Menjadi pejabat dan mengabdi rakyat: yang mana sarana yang mana tujuan? Menjadi pejabat supaya bisa mengabdi rakyat ataukah mengabdi rakyat supaya jadi pejabat? Menjadi pejabat itu cara atau tujuan?

Kedua-duanya bukan pilihan mantap bagi saya. Kurang valid. Terserah mau jadi pejabat atau jalannya dengan mengabdi rakyat, yang penting kepentingan pribadi saya tercapai, keuntungan materiil saya terpenuhi.

Saya beralamat di pintu, satu kaki saya di dalam rumah, kaki lain di luar rumah. Kalau ada makanan di dalam rumah saya cepat dapat, kalau rumah kebakaran saya duluan lari. Saya tidak di dalam atau di luar rumah. Saya tidak lelaki tidak perempuan. Saya banci. Itulah posisi paling strategis dan marketable.

Emha Ainun Nadjib
Budayawan
[Kolom, Gatra Nomor 39 Beredar Kamis, 9 Agustus 2007]

Blog EntryJalut, Thalut, dan DaudJul 23, '07 10:15 PM
for everyone
Oleh ASEP SALAHUDIN

JALUT adalah seorang raja zalim dengan kekuasaan yang besar. Salah satu kelompok masyarakat yang menjadi objek perasannya adalah Bani Israel. Kebalikan Jalut ialah Thalut. Thalut adalah raja dengan kekuasaan dan pasukannya yang kecil, namun memiliki karakteristik yang berbanding terbalik dengan Jalut. Kekuasaan yang ada di tangannya dikelola dengan cara-cara santun dan senantiasa berkhidmat kepada Allah dan kemanusiaan.

Ketika Jalut semakin agresif dan perangainya kian tak terkendali, segala persoalan diselesaikan lewat pendekatan represif (kekerasan). Di titik inilah Thalut mengibarkan perlawanan. Mengobarkan semangat juang pasukannya untuk menghadapi dan menghentikan kezaliman Jalut (Q.S. Al-Baqarah/2:246-249).

Seperti dicatat Alquran, alur cerita selanjutnya, berkat iman yang kokoh, komitmen, dedikasi yang tinggi, praktik hidup yang lurus, disiplin serta diiringi munajat yang tidak pernah terlewat dalam praktiknya kelompok kecil ini dapat menjungkalkan Jalut.

Salah saeorang pahlawan yang sangat berjasa dalam mengalahkan Jalut bahkan Jalut sendiri terbunuh di tangannya dalam pertempuran pembuka duel satu lawan satu adalah Daud. Daud pun yang semula sangat tidak diperhitungkan (seorang petani dari pelosok) sontak menjadi buah bibir bahkan popularitasnya nyaris mengalahkan Thalut itu sendiri. Tumbangnya Jalut di satu sisi, telah mengangkat Daud menjadi ikon dari tertambatkannya harapan akan terbitnya sebuah kehidupan yang lebih beradab. Perubahan itu sekarang berada di pundak Daud apalagi setelah Thalut meninggal (anak perempuannya dikawinkan dengan Daud) nyaris kekuasaan pun tergenggam sepenuhnya di tangan Daud.

Karena Daud berperang bukan atas nama popularitas apalagi meraih jabatan yang bersifat sementara, tapi semata demi tegaknya nilai-nilai kebenaran dan terwujudnya kehidupan bermartabat, maka pascakemenangan itu, di tengah masyarakat yang terus mengelu-elukannya, menyebut-nyebutnya dengan decak penuh kagum, Daud justru lari bersembunyi ke tengah hutan. Menyepi. Ia mengasingkan diri dari hiruk pikuk manusia yang tidak pernah henti menceritakan kehebatan sepak terjangnya dalam menumbangkan kedigjayaan Jalut.

Ia larut bersama alam dalam keheningan, meraih damai di tengah pepohonan rindang, hutan belukar, dan beragam binatang yang sama-sama ikut bertasbih menyucikan Sang Pencipta. Dalam kesendirian dengan jiwa yang luruh ia kembalikan semua yang dimiliki dan yang ada dalam dirinya semata kepada Allah. Ia bersimbah dalam tobat yang sungguh-sungguh, "Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia Kami (Kami berfirman), 'Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud...'" (Q.S. Abasa/80:10).

Daud yang rendah hati inilah, sekali lagi, yang di kemudian hari sepeninggalnya raja Thalut melanjutkan estafeta kekuasaanya. Daud yang memiliki keterampilan (mukjizat) untuk merakit produksi-produksi "teknologi tinggi", melunakkan besi, membuat pakaian antipeluru dan sebagainya (Q.S. Saba'/34: 10-11, al-Anbiya'/21: 79-80).

Negara yang dikelola oleh Daud betul-betul sejahtera. Hikmah dan kebijaksanaan dijadikan sebagai alat untuk menyelesaikan segala persoalan. Setiap kebijakan yang menyangkut hajat orang banyak selalu diacukan kepada rasa kemanusiaan yang mendalam. Kekuasaan di tangannya dengan sempurna menjadi sarana untuk bersama-sama seluruh makhluk mengagungkan Allah Zat Penguasa yang paling hakiki (Q.S. Shad/38:17-20).

Di tangan Daud a.s. (dan Sulaiman a.s.) tidak ada konflik kecuali konflik itu dituntaskan dengan meresapkan rasa keadilan yang merata kepada semuanya, "Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat), dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu" (Q.S. Al-Anbiya/21: 78-79). Q.S. Shad/38 ayat 21-25 lebih jauh mencerminkan ihwal bagaimana Daud a.s. selalu memutuskan perkara dengan objektif dan apabila keputusannya itu kurang tepat maka dengan segera dia tersungkur memohon ampun dan kembali kepada-Nya

Alhasil, Jalut adalah simpul dari penguasa zalim di mana yang selalu mengendap dalam alam pikirannya tidak lebih adalah bagaimana kekuasannya itu dapat memuaskan hasrat-hasrat kebendaannya. Kekuasaan dijadikan sebagai tujuan itu sendiri. Maka bagi moralitas banal model Jalut tidak lagi dikenal etika. Malah yang jelas mereka selalu dibakar sebuah obsesi degil bagaimana agar kuasa itu bersifat kekal dan semakin besar tidak peduli di tingkat lapangan harus menelan korban dan menyengsarakan banyak orang.

Sebelum semua obsesi busuknya itu tergapai, sebelum korban-korban pembangunan semakin bertambah, ambisinya keburu dihentikan oleh sepasukan kecil yang merupakan representasi dari manusia-manusia yang masih memiliki kejernihan pikir, kebeningan akal budi, maju ke medan laga untuk menumbangkan penindasan semata atas nama panggilan jiwa yang luhur demi tegaknya nilai-nilai kebenaran.

Sudah menjadi sunatullah, orde sekuat apa pun apabila diatur dengan cara-cara menghinakan akal sehat pada akhirnya akan berujung dengan sangat nista. Dipermalukan oleh sepasukan kecil yang bergerak guna mengembalikan keadaan dan kemanusiaan ke habitat asalnya yang fitri. Dalam peralihan kekuasaan selalu ada sosok-sosok panutan yang dengan keberanian sempurna berada di garis terdepan. Daud adalah sosok terdepan dari pasukan pemberani itu, bahkan di tangannya sendiri Jalut menemui ajalnya.

Daud sebagai pahlawan yang rendah hati, tidak gila popularitas bahkan ketika takdir mengantarnya ke puncak kekuasaan, maka kekuasaan yang ada di tangannya benar-benar menjadi pipa yang menyalurkan berkah bagi orang banyak. Mudah-mudahan di tengah situasi kebangsaan yang begitu banyak orang berminat untuk menjadi penguasa, salah satunya diseleksi lewat pilkada langsung, dapat melahirkan Daud-Daud kecil yang dapat menyerap keinginan masyarakat dan mengejewantahkannya dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang memihak mereka. Wallahu a'lam.***  

Penulis, mengajar di Fakultas Syariah IAILM Suryalaya.

Dari : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0505/06/renungan_jumat.htm


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.