Agus' posts with tag: keluarga

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag keluarga
Photo AlbumAzka in Action (14 photos)Mar 28, '08 3:50 AM
for everyone
Waktu liburan keluarga kemarin

Blog EntryNostalgia menjadi 'Lajang' Jul 1, '07 10:16 PM
for everyone
Agus Menjadi lajang?

Yap, anda benar. Seminggu ini aku kan menjadi lajang. Mengulangi kebiasaan - kebiasaan lajangku sebelumnya. Makan sendiri harus cari sendiri, Tidur Sendiri, Siapin baju sendiri, Berangkat kerja tak ada yang melepas dengan naik motor dulu keliling gang kalo gak dia ngambek dan pas pulang tak ada panggilan mesra ' abiiii ' dari azka yang menggemaskan.

Berarti Agus dan istri......?

Eit, tunggu dulu. Jangan berspekulasi dulu. Jangan berpikiran yang bukan - bukan. Tenang - tenang.
Baiklah, jika semua sudah tenang saya kan memulai konfrensi persnya. Kepada rekan - rekan yang suka mencari kabar dalam blog ini maka saya dengan ini memberitahukan bahwa saya dan keluarga insyAllah baik - baik saja. Dan tidak ada perceraian (na'udzubillah) sehingga saya menjadi lajang kembali.
Kepada rekan - rekan infotainment, tolong tuliskan dan kabarkan bahwa memang semua dalam keadaan yang bahagia, tolong jangan dipelintir atau di gosok - gosok sehingga keluarga yang sedang dalam taraf menuju sakinah ini akhirnya retak seperti rekan - rekan saya yang lain (lagi sok selebritis)
Jadi, begini kronologisnya. Dalam rangka mempererat silaturahim, mendekatkan hati dan menjernihkan pikiran diantara rutinitas selama setahun ini maka saya mem'persona non gratakan' istri saya ke orang tua saya.
Hal ini juga dilatar belakangi oleh masa liburan sekolah, dan keadaan orang tua saya yang sudah sepuh untuk melakukan perjalanan jauh ke Tangerang. Sehingga keharusan bagi kami lah untuk sungkem dan mohon restu kepada mereka di Gombong sana.
Nah jadilah, hari Ahad kemarin kuantar mereka (Anak Istri dan Mertua Juga) ke Gombong. Dan sorenya saya harus kembali sendirian ke Jakarta untuk masuk kerja Senin paginya.. (sedihnya belum punya cuti ...)
Dan mereka baru kembali malam sabtu ini insyaAllah.... (hiks hiks..)

Jadi kalo di iklan ada orang tua yang nengok cucu ....
Maka kamilah 'cucu' -azka- yang nengok orang tua . . . (habis bebek gorengnya sedaaaap)
Sehingga tadi pagi sampe ke jakarta, langsung ke kantor, mandi trus ganti seragam yang sengaja kutinggal jum'at kemarin....

So, karena saya menjadi lajang . . .
Siapa siap menemani ?

(jangan piktor ya, menemani untuk menyibukkan diri maksudnya....)

Blog Entry6 Langkah Menuju Keluarga SakinahJun 4, '07 5:20 AM
for everyone

Sahabat! Pernahkah anda ikut penataran pranikah di KUA? Bagi yang sudah menikah pasti banyak yang mengatakan pernah, tapi ada juga yang mengatakan :” saya gak datang, saya titip saja sama pak petugas”. (Titip apaan, wong yang mau nikah kita kok yang penataran petugasnya?). Nah bagi yang belum menikah paling – paling bilang belum pernah. (Walau dalam hati mengatakan entah berapa buku tentang nikah yang sekarang teronggok dilemari bukunya, atau berapa banyak kajian, seminar, dialog tentang pernikahan yang telah didatanginya…. yang isinya sama …. Tapi kan tidak di KUA .. STOPS)

Dari sekian banyak pasangan yang akan menikah, bahkan yang sudah pacaran beberapa tahun ketika ditanya apa visi pernikahan anda? Tidak sedikit yang menjawab” ya mengalir aja”, walau beberapa pasangan akan mengatakan “ingin membentuk keluarga sakinah”.

Uniknya yang mengatakan ingin membentuk keluarga sakinah, banyak yang tidak bisa merinci bagaimana sich keluarga sakinah itu, atau minimal punya langkah – langkah untuk mencapainya. Jadi apa gara – gara di undangannya ada nukilan QS Ar Ruum yang ada kata sakinah’nya, sehingga jawabanya ingin sakinah? (Pasti ada yang nyeletuk dalam hati … aku gak termasuk lho …)

Hmmm. Pantas di media massa saat ini banyak kita lihat perceraian terjadi disana – sini dan parahnya dipelopori para artis sebagai public figure. Alasannya bermacam – macam, dari sekedar tidak cocok, selingkuh, berzina, ekonomi, dijodohkan (orang tua atau murrobbi) dan lain sebagainya. Bahkan ada yang beralasan tidak ada cinta sejak pernikahan, padahal anaknya sekarang sudah belasan. (Tidak ada cinta …. Ck ck ck). Tanya kenapa ….?

Dan data dari KUA Kota Palembang mengatakan bahwa dari 100% perceraian yang terjadi itu nggak ada 10% yang disebabkan oleh poligami atau dengan kata lain suaminya kawin lagi. So… bagi aktivis anti poligami (baca: agama) yang mengatakan poligami penyebab utama perceraian bisa mencermati data ini.

Menurut penulis sich … semua perceraian itu terjadi karena tidak memiliki visi keluarga sakinah dan tidak tahu atau tidak komitmen dengan langkah untuk menggapainya. Dan ini tidak hanya dilakukan oleh orang yang pemahaman agamanya sedikit, tapi juga menghinggapi para aktivis dakwah dan harokah. Hmmm …. Sedihnya

Nah, dari hasil MABIT di Masjid Al Hakim PT Sucofindo beberapa waktu yang lalu, dari beberapa pemateri malam itu maka saya ingin sekedar berbagi kepada sesama rangkuman dari materi – materi yang ada. Sebenarnya lebih lengkap dan lebih seru kalo mendengarkannya langsung. Tapi gak papa lah, yang gak hadir tetap dapat ilmunya walau sidah difilter oleh keterbatasan memory otak saya … maaf ya.

1.      Kupilih potret keluarga Rosulullah

Swear guys! Al Qur’an memang lengkap dan gak perlu ditambah – tambah lagi. Cari apa saja ada dech! Asal kita tidak lupa baca tafsirnya dan hadits – hadist yang berkaitan dengannya. (Makanya ngaji yuuu…uk)

Nah dalam Al Qur’an itu sudah digambarkan potret – potret keluarga yang akan selalu hadir sampai bumi ini Qiyamat (Silahkan buka QS Al Lahab dan QS At Tahrim sebagai rujukannya). Apa saja potretnnya :

a.       Potret Suami dan Istri yang kompak ingkarnya. Suami kafir dan istri juga kafir. ( bukan karena pepatah jawa Surgo Melu neroko Katut). Diantara banyak nominasi yang ada, potret ini di menangkan oleh keluarga Abu Lahab dan Istrinya. Padahal hidup semasa dengan Nabi Muhammad, bahkan pamannya lagi. Berapa banyak mukjizat yang ia saksikan tapi tetap tidak membuatnya beriman. Bahkan lebih giat mengumpulkan kayu bakar buat di neraka.

b.      Potret suami yang sholeh dan istri yang salah (ingkar). Bahkan bukan hanya istrinya saja, tetapi anak – anaknya juga kafir dan ingkar terhadap seruan fitrah islam. Potret ini akan kita temui pada sosok keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth. Bagaimana istri dan putranya Kan’an telah dijak masuk ke dalam kapal tapi menolak dengan alasan akan selamat di puncak gunung yang akhirnya tenggelam juga bersama kekafiran mereka. Pun istri Nabi Luth yang mengumpankan tamu – tamunya (malaikat) kepada masyarakat Homo di lingkungannya.

c.       Potret istri yang sholehah dan suami yang salah (ingkar). Ingatlah akan kisah Nabi Musa as. Akan kita temui potret Fir’aun yang ingkar beristrikan Aisiyah yang dalam do’anya kepada Allah meminta dibuatkan rumah di Syurga. Dialah Aisiyah ibunda angkat Nabi Musa as, yang menarik keranjang bayi dari sungai Nil dan memohon kepada Fir’aun agar bayi laki – laki ini tidak dibunuh. Potret keluarga seperti ini banyak kita temui dewasa ini disekitar kita. Istri yang taat, beribadahnya bagus bahkan berjilbab lebar tapi bersuamikan lelaki yang muslim tapi malas sholat, bahkan kadang berjudi atau minum minuman keras (Premankah …).

d.      Potret keluarga single parents. Keluarga yang hanya diisi oleh istri saja. Potret ini diwakili oleh Maryam ibunda Nabi Isa. Hal ini diakibatkan oleh ketentuan Allah, entah karena mukjizat seperti Maryam atau karena ditinggal mati suaminya. Dan sekali lagi bukan karena si wanita ini doyan berzina dengan satu atau banyak lelaki, kemudian tidak ada lelaki yang mau bertanggungjawab sebagai ayah si bayi kemudian ia membesarkan anaknya sendiri seperti para artis – artis mesum itu. Namun fenomena ini sekarang menyebar ke masyarakat umum akibat wabah pergaulan bebas muda – mudi dan remaja.

e.       Potret keluarga ideal, keluarga sakinah, keluarga dakwah. Potret ini ada pada diri suri tauladan kita yang terbaik yaitu Rosulullah dengan Khadijah. Sang suami sholeh, sang istri juga sholeh. Saling mengisi dalam kebahagiaan dan penderitaan kehidupan dakwah Islam.

Nah, jika ingin keluarga kita sakinah maka ambilah potret keluarga yang kelima yaitu keluarga Rosulullah sebagai contoh untuk diikuti. Tentunya harus kaffah dalam mencontohnya, sehingga ketika kemaslahatan dakwah dan ummat mengharuskan suaminya berpoligami ya jangan terus istri pertama minta cerai … (Ingat bukan karena nafsu ya mas…)

2.      Kulangkahkan kaki ini dengan basmallah

Setelah diketahui model keluarga sakinah yang diinginkan, maka saatnya kita untuk melangkah. Ya kalo diem saja kapan jalannya …

Maka mulailah melangkah. Prosedurnya adalah langkah pertama kita harus dengan Bismillah… karena nikah itu kan ibadah, dan amalan ibadah hanya akan diterima jika niatan kita untuk menggapai ridlo Allah, bukan yang lain (Ingat hadits tentang niat..).

Konsekuensinya adalah kita harus memilih pasangan kita yang bagus agamanya sebagai prioritas. Ya kalo ternyata sudah sholeh trus cantik/ganteng, trus kaya, trus pejabat terhormat de el el, maka anggap itu hanya ekses saja (Dalam hati syukurnya setengah mati . . .)

Sehingga ketika pasangan kita sudah mulai keriput tidak indah lagi ya gak papa wong masih sholeh/ah. Trus andai pasangan kita sekarang jadi miskin yo gak papa yang penting masih sholeh/ah. Atau ternyata ketika pasangan  kita sudah jadi orang biasa ya juga ngak perlu risau wong dia masih sholeh/ah, gitu …

3.      Kupinang engkau dengan hamdallah

Setelah niatan kita perbaiki, maka selanjutnya ketuk pintu si doi. Temua Camer (calon mertua), ungkapkan isi hati untuk mempersunting sang putri … deu …

Tafsiran kupinang engkau dengan hamdalah adalah kita  harus siap dengan kekurangan dan kelebihan pasangan kita masing – masing. Ya kalo pas ta’aruf belum tahu kalo tidurnya ngorok (sekalian ngiler) trus nanti kalo dah seranjang seperti tidur dengan kereta ya harus ikhlas. Atau dulu pas belum nikah sering bikin tulisan atawa acara romantis (yang ternyata EO nya temenya sendiri) trus habis akad ternyata kaku dan jutek maka juga harus ikhlas. Intinya apapun kekurangan pasangan kita kita harus sabar.

Ingat, kisah seorang istri yang cantik dan masih mdua  bersuamikan lelaki yang jelek, ketus, kasar dan tua. Si istri selalu berkata dalam hatinya bahwa pernikahannya dengan lelaki itu adalah tiketnya masuk syurga. Hal ini atas kesabaran yang di lakukan. Bayangin aja gimana gak sabar, punya suami jelek, kasar, ketus… tua lagi. Nah begitupun sang suami. Pernikahannya itu dia jadikan pula sebagai tiket masuk syurga. Hal ini karena kesyukuran yang selalu dia panjatkan. Bagaimana gak syukur, punya istri muda, cantik, sholeh, nrimo lagi. Nah ternyata KESABARAN dan KESYUKURAN dalam kisah tadilah implikasi dari hamdallah itu …

Kemudian konsekuensi dari hamdalah itu juga adalah kita tidak boleh mengharapkan balasan atas apa yang kita kerjakan. Jangan sekali kali sang suami mengatakan saya sudah capek banting tulang, peras keringat cari nafkah untuk istrinya trus pulang kerja kok gak dibikinin kopi. Atau sang istri pun mengatakan sudah capek nyuci, masak dan ngurusin anak kayak pembantu masak minta baju baru buat lebaran saja gak dikasih sich. So, janganlah apa yang telah kita lakukan kita ungkit – ungkit pas kita meminta sesuatu. Cobalah memusyawarahkan segala keperluan rumah tangga dengan baik tanpa mengungkit – ungkit pemberian. Bisa kan !!

4.      Kusahkan ikatan ini dengan Akad Nikah

Ingat, sahnya akad nikah jika semua rukun nikahnya terpenuhi. Apa saja? Mempelai pria, mempelai wanita, wali, mahar, saksi dan ijab qobul. Ah… anda memang pintar!

Tentunya kalo salah satu rukun itu gak ada pasti gak sah. Nah, yang sering terjadi adalah permasalahan pada wali. Karena kedua mempelai sudah kadung cinta katanya, tetapi ayah si wanita gak setuju maka jadilah istilah kawin lari (pake wali hakim). Hati – hati, jika ayahnya muslim, waras, dan masih hidup jangan coba – coba untuk memakai wali hakim saat beliau gak setuju dengan pernikahan kita. Implikasinya adalah nikah kita tidak sah yang artinya kita berzina seumur hidup, iiih ngeriii…

Kemudian jangan kesampingkan pencatatan di KUA. Nikah sirri memang sah secara agama tapi banyak kejadian keluarga akan kesulitan untuk mengurus hal administratif di kelurahan atau sekolah. Nah yang paling banyak dirugikan adalah pihak mempelai wanita dan anak – anak tentunya. Jangan sampai pas mendaftar sekolah, trus dimintai akte kelahiran kita jadi kelabakan. Karena untuk membuat akte kelahiran harus menyertakan fotokopi surat nikah. Tanpa surat nikah maka pada akte akan tertulis anak lahir di luar nikah, tanpa nama ayah disana (Siapa yang mau kalo anak kita dibilang masyarakat sebagai anak haram hayo… walau sebenarnya semua anak itu terlahir suci)

5.      Kulalui hari – hari pernikahan dengan laa haula wala quwwata ila billah

Sahabat. Bukalah mushofmu dan bacalah 2 ayat terakhir surat Al Baqoroh. Bahwasanya kita tidak akan dibebani dengan sesuatu yang kita tidak mampu. Jadi sepahit apapun derita yang saat ini kita lalui, maka Allah telah tetapkan bahwa kita pasti mampu untuk melaluinya. Maka ketika musibah datang kepada kita, maka kesabaranlah yang akan menjadi perisai kita untuk melaluinya. Jika ingin berkeluh kesah, maka bukan kepada teman, sahabat, orang tua, tetangga atau manusia manapun. Tapi kepada Allahlah engkau utarakan semuanya, curhatlah engkau pada-Nya. Tahajudlah sahabat …

Kemudian jika kebahagian, kemakmuran atau kegembiraan yang datang kepada kita. Maka ingatlah bahwa tanpa ijin dari Allah kita tidak akan dapat mendapatkannya. Sehingga tidak akan terlintas sedikitpun dalam dada kita ketakaburan, kesombongan dan ujub atas kesuksesan yang kita raih. Karena pada dasarnya kita hanya berusaha, dan Allah yang mengijabah do’a kita. Kita tak ada apa – apanya tanpa kehendak-Nya.

Sehingga disinilah nada kepasrahan kita dengungkan. Tiang tawakal kita tancapkan. Keikhlasan atas segala keputusan-Nya adalah pondasi atas apapun yang akan menimpa biduk rumah tangga kita kelak. Maka selalu ingatlah, tiada daya upaya tanpa ridlo dari Yang Maha Kuasa . . .

6.      Kubimbing keluargaku dengan laa ilaa ha illallah

Terakhir sahabat. Ada tugas yang harus dipikul tiap keluarga. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya, maka dia akan diminta pertangungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin bagi rumah tangganya, maka tiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Maka ajarkanlah keluargamu mengenal Allah. Bimbinglah mereka kepada fitrah manusia yaitu fitrah Islam.

Jika anak – anakmu lahir kelak. Hal pertama yang harus kau ajarkan adalah mengenal Allah. Yaa.. Ma’rifatullah. Bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah. Dialah Dzat yang pantas untuk di sembah. Kepada-Nyalah bergantung segala sesuatu. Sehingga anak – anak kita kelak tidak akan takut dengan manusia – penguasa yang dzolim misalnya. Tidak akan terseret pada arus duniawi, kebebasan yang tanpa batas yang merusak dan fitnah – fitnah dunia lainnya.

Selanjutnya, jadikanlah keluargamu itu majelis ilmu. Utamakan ilmu agama terlebih dahulu baru ilmu dunia. Agar kita tidak menjadi orang pinter yang keblinger. Agar kita cerdas membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

InsyaAllah keluarga ini sakinah dan  kelak akan masuk Jannah

Nah, jika keenam langkah itu kita lakukan. Maka dengan keijinan-Nya keluarga kita akan sakinah. Dan jika keluarga kita sakinah maka insyaAllah syurga adalah pelabuhan terakhir.

Bagi yang belum menikah, semoga langkah – langkah ini bermanfaat sebagai mainframe (panduan) rumah tanggamu kelak. Bagi yang sudah menikah, tidak perlu engkau mengulanginya dari awal (Masak suruh ta’aruf lagi, trus akad lagi). Cukup engkau instropeksi diri beberapa langkah yang telah lalu. Jika telah benar maka kuatkanlah. Jika belum maka perbaikilah.

Akhirnya, semoga rangkuman dari MABIT beberapa hari yang lalu bermanfaat bagi diri saya dan keluarga saya. Dan bermanfaat bagi para saudaraku sekalian. Wallahu ‘alam bish showwab.

Blog EntryKeluarga Makmur, Buka Cabang ….?May 9, '07 5:26 AM
for everyone

……

X: mbak, perusahaan kita makmur gak?

Y: ya dong

X: buktinya apa?

Y: pertama, keuntungan akhir tahun kemarin tinggi

X: itu dah pasti

Y: kedua, gaji karyawannya naik cukup signifikan

X: eh, iya juga

Y: ketiga, banyak cabangnya.

……….

Itu sedikit percakapan diantara rekan kerjaku via messenger yang iseng kulihat saat melangkah ke masjid untuk sholat ashar sore ini. Sebenarnya tidak seperti itu detail kata – katanya, tapi minimal mewakili inti dari pembicaraan diatara mereka.

Intinya adalah, sebuah perusahaan yang makmur atau maju memiliki beberapa parameter yang sebenarnya kita ketahui. Diantaranya tingginya keuntungan yang artinya jumlah deviden yang diberikan kepada para stakeholder besar, lalu kesejahteraan karyawan meningkat ditandai kenaikan salary dan tunjangan, dan kebanyakan memiliki cabang atau anak perusahaan di daerah lain dengan jenis usaha yang sama atau bisa juga diversifikasi.

Sebenarnya tema ini bukanlah hal yang istimewa, tetapi ….. hmmmmm

Ternyata muncul pemikiran iseng di otak ini dari hal tersebut. Jangan – jangan pikiran iseng ini terus membayangi pas sholat … waduh. Do’ain gak ya ….

Bayangan perusahaan ini kualihkan kepada figure keluarga …. nah lo …

Meaning, sebuah keluarga yang makmur bin sejahtera ditandai oleh tingginya tabungan atau nilai investasi yang dimiliki. Kemudian naiknya uang belanja beserta kebutuhan – kebutuhan tersier terpenuhi. Nah tahap selanjutnya adalah keluarga itu akan buka cabang di daerah lain …. Apa? Buka cabang? Artinya …..

Betul mas, mbak, kang, dek. Buka cabang berarti sang pimpinan perusahaan – eh direktur rumah tangga memutuskan untuk membuat cabang keluarga baru di daerah lain dengan dia tetap sebagai direkturnya. Tentunya semua dilakukan atas sepengetahuan para stakeholdernya.

Buktinya bisa dilihat pada sosok Puspo Wardoyo dan Aa Gym. Mereka memiliki cabang dengan keridloan istrinya masing – masing.

Wah, para istri yang gak setuju dengan pembukaan cabang baru jadinya berkomentar. Kalo begitu aku akan berdo’a agar ekonomi keluarga tengah – tengah saja. Sehingga masnya gak akan buka cabang. Deu ….

Buat para keluarga yang sudah makmur, akankah anda membuat cabang baru …?

(Maaf bukan profokasi, hanya posting pikiran iseng. Tolong jangan jadi ajang debat ya … hanya iseng nih, plis….)

Cinta adalah sebuah kata yang paling menghebohkan di abad ini. Coba saja tengok tema sinetron – sinetron sampai telenovela, ketoprak humor sampai film – film laga, lagu – lagu nasional sampai internasional dari campur sari, dangdut, pop sampai R & B, dan puisi – puisi kacangan khas pinggiran jalan. Tak luput pula slogan – slogan politik, dari Cinta produksi dalam negri, kami cinta indonesia, cinta tanah air dan bangsa, dan slogan – slogan lainnya.

Cinta mendapat muaranya sendiri dari anak balita, remaja, pemuda sampai dewasa. Seolah – olah adalah benar ungkapan “Live Without Love As a Sky without Star”, hidup tanpa cinta adalah bagaikan malam tanpa bintang. Duh betapa gelap dan suramnya malam itu.

Atau bagi pecinta makanan akan berkata hidup tanpa cinta adalah bagikan sayur asam tanpa garam. Walau sebenarnya yang namanya sayur asam kan yang penting asam bukan asin, kalau asin namanya asinan sayur, tul gak?

Jadi adalah lumrah – kata para pecinta – kalau ada muda mudi yang memadu cinta walau masih SMP kelas dua bahkan mungkin walau belum lulus Te Ka. Jalan kemana – mana berdua, mau makan ingat dia, atau SMS – an pakai Handphone papa (wah ketahuan dong).

Nah, gaswatnya. Eh, gawatnya. Fenomena ini mulai merambah kelompok yang dulu punya slogan “ Takut Mencintai, Takut Dicintai dan Takut Jatuh Cinta”. Mereka sudah mulai mencoba – coba (anggap oknum saja) untuk mengungkapkan apa yang menjadi isi hatinya. Ukhti atau Akhi, ana uhibbuka fillah.

Kalau lihat konteks kalimatnya dan riwayat haditsnya mungkin akan terkesan biasa – biasa saja. Karena ungkapan itu kan artinya kita mencintai saudara semuslim kita karena Allah. Tapi kalau ucapan itu didasari oleh niat agar ada hubungan lebih diantara dua insan yang berlainan jenis, dan ucapan itu hanya diungkapkan pada si dia, lewat SMS bersyair cinta atau lewat surat merah jambu bergambar bunga maka tentu akan lain maknanya.

Sehingga ketika fenomena penyebaran virus itu terlihat pada para anggota remaja masjid maka jadilah sebuah istilah baru “Masjid Biru”, atau ketika menyerang para aktivis Lembaga Dakwah Kampus maka jadilah ia “Kampus Biru” (mohon maaf buat kampus yang dikenal sebagai kampus biru), atau ketika virus itu menerpa para aktivis partai dakwah di DPRa dan DPC maka keluarlah istilah “Partai Biru”.

Apakah karena sekarang dakwah telah terbuka, dimana pertemuan – pertemuan yang berbaur walau terpisah maka jadi benarlah pepatah jawa “ Tresno Mergo Soko Kulino”, cinta bermuara karena sering bersama. Bersama dalam satu tempat kegiatan, bersama karena sering berinteraksi lewat SMS, atau bersama dalam alam hayalan ketika umur sudah selayaknya menikah sehingga seolah – olah mengkapling – kapling seseorang untuk kita bayangkan sebagai pendamping hidup. Dan akhirnya lama – lama mekarlah benih cinta yang disuburkan oleh “kebersamaan” tersebut.

Saudaraku yang telah berikrar di jalan dakwah, marilah kita mengkoreksi kembali niatan kita berada di jalan dakwah ini. Untuk mencari ridlo Allah kah atau untuk mencari pendamping hidup kitakah? Kalau awalnya kita ingin mencari ridlo Allah, terus kemudian melenceng. Maka mari kita luruskan niat kita kembali. Kalau dari awal niatan kita untuk mencari pendamping hidup. Ingatlah bahwa hidup kita sementara. Masih ada kampung akhirat yang lebih kekal menanti. Dekatkan diri kita pada Allah dan mintalah kepada-Nya yang terbaik.

Jika anda adalah akhwat, dan anda melakukan ini karena tuntutan umur dan tuntutan orang tua yang ingin cepat mendapatkan menantu. Dan anda melihat realita ummat lebih banyak aktivis dakwah dari kalangan akhwat dibanding ikhwan, dan anda takut tidak kebagian. Maka ingatlah bahwa Allah adalah pengatur hidup kita. Ingatlah bahwa tinta telah kering dan lembaran telah ditutup. Apa yang telah ditulis di Lauh Mahfudz tak akan berubah kecuali dengan Irodah-Nya. Maka dekatkan diri anda kepada Dzat yang memiliki dan menguasai Catatan Kehidupan itu. Dan jika anda ingin mendapatkan seorang suami seperti Sayidina Ali, maka tingkatkanlah kualitas anda untuk menyamai Fatimah Az Zahra.

Jika anda adalah ikhwan, yang melakukan ini karena tidak yakin akan mendapatkan seseorang pendamping yang sesuai harapan lewat Murobi anda. Mungkin kurang cantik, mungkin terlalu tua, mungkin kurang tinggi atau beribu kemungkinan lainnya. Maka mari kita renungi hadits Rosulullah tentang rambu – rambu mencari istri yaitu yang baik agamanya. Boleh saja anda mencari yang kaya, tapi kaya akan ilmu, kaya pengalaman, kaya kesabaran, kaya penerimaan, kaya pengertian, kaya perasaan dan kaya keikhlasan. Bisa saja anda mencari seorang yang bernasab baik, bukannya keturunan jendral, bukan keturunan bangsawan atau lainnya, tapi keturunan orang yang komit dengan islam. Bisa saja anda mencari seorang yang cantik, yaitu cantik ruhiyahnya, cantik hatinya, cantik perasaanya, dan cantik keimanannya.

Jadi, mari kita luruskan niat kita kembali karena “ Innamal amalu bin niyat … “

Kembalilah ke konsep ta’aruf

Saudaraku, para asatid telah merumuskan suatu konsep pencarian pendamping hidup yang telah diterapkan selama ini untuk tetap mengkokohkan dakwah dan memagari amal kita agar tetap lurus. Ada tiga konsep model ta’aruf yang dikenal luas ditengah para aktivis dakwah.

Pertama, tukar biodata lewat murobi atau ustadz. Seorang ikhwan yang siap menikah mengajukan biodatanya kepada ustadz. Kemudian dia diberi biodata akhwat yang minimal sesuai dengan apa yang diharapkannya. Tentunya kriteria yang dia buat bisa ideal, tapi untuk mendapatkan yang ideal adalah susah, maka paling tidak yang mendekati ideal. Jika tidak sesuai maka biodata dikembalikan dan diganti dengan biodata yang lain. Disini perlunya para ikhwan tidak mematok kriteria yang susah diminta, misalnya umur baru 17 tahun, sudah tarbiyah, keibuan, dll yang memang bagai mencari jarum dalam jerami. Selanjutnya ketika ikhwannya setuju barulah biodata ikhwan tersebut diberikan kepada akhwat pilihan ikhwan tersebut. Jika akhwatnya setuju maka selanjutnya diadakan ta’aruf dirumah akhwat didampingi oleh murobi masing – masing. Selanjutnya, Sebelum memutuskan berlanjut ke khitbah baik ikhwan maupun akhwat dapat melakukan investigasi pada calon pasangannya masing – masing dan tidak dilupakan sholat istikhoroh – minta dipilihkan yang terbaik. Jika jalannya mulus maka berlanjut ke tahap selanjutnya yaitu khitbah dan nikah.

Kedua, tukar biodata lewat rekan dakwah. Untuk proses yang satu ini peran murobi atau ustadz digantikan oleh rekan dakwah si ikhwan tersebut dengan proses tukar biodata yang sama dengan proses pertama.

Ketiga, mencari seorang lelaki yang hanif. Konsep ini hanya berlaku bagi akhwat. Hal ini didasari oleh jumlah akhwat yang lebih besar dari jumlah ikhwan. Dimana konsep poligami belum dipandang sebagai solusi karena banyak ikhwan maupun akhwat yang tidak mau atau tidak bisa berbagi dengan yang lain. Prosesnya adalah, jika ada seorang lelaki yang hanif disekitar kita, kemudian ada pula akhwat yang belum menikah kemudian terserah siapa yang dulu mengajukan apakah lelaki tersebut yang melakukan khitbah, atau ikhwan yang menawarkan biodata akhwat kepada lelaki tersebut.

Untuk menentukan seseorang itu hanif bukan hanya karena ia baru seminggu sholat jama’ah di masjid, atau kelihatan alim dan tingkahnya sopan. Sehingga diperlukan penyelidikan yang intensif dan wawancara yang dilakukan oleh aktivis dakwah atau bahkan oleh para murobi sendiri. Jika memang hanif dan bisa diajak untuk lebih giat berdakwah, maka proses diserahkan kepada lelaki dan akhwat tersebut untuk berlanjut ke tahap pernikahan atau tidak.

Saudaraku, pencarian pendamping hidup adalah satu tahapan penting dalam perjalanan hidup kita. Kehati – hatian adalah hal yang perlu kita miliki karena jangan sampai gara – gara salah memilih pendamping hidup, kita futur dari jalan dakwah. Dan berdasarkan pengalaman, banyak bagi mereka yang salah mengambil pendamping karena memilih sendiri didasari oleh virus merah jambu walapun tidak ketemu di mall tapi dalam aktivitas dakwah yang futur karena malu atau minder dengan rekan dakwah yang lain yang lebih “lurus” dalam proses pencarian pendamping hidupnya.

Akhirnya, kita kembalikan kepada Allah sebagai Dzat yang mengatur urusan kita. Semoga kita semua dikaruniai pendamping yang siap menjadi partner dakwah dalam suka dan duka, pendorong dikala lemah, pengingat dikala salah dan penceria dikala berhasil. Wallahu alam bish showab.


Blog EntryTernyata sudah 2 tahun …Apr 18, '07 4:04 AM
for everyone
Revava … Revava … Revava ….
10 April Menjadi Saksi
Revava … Revava … Revava …
Kala Al Aqso Kan Kau Ganti
Dengan Kuil Sulaiman Dari Alam Mimpi
………

Ingat gak Dik, 10 April 2005 kala Sekte Yahudi Revava kembali secara besar – besaran mencoba untuk merobohkan Masjid Suci Al Aqso di Palestina. Di sana, saudara – saudara semuslim kita sedang berjuang untuk menghadang barisan Yahudi ekstrimis ini.

Dan hari itu adalah hari besejarah bagi kita. Ketika kita berikrar untuk menggenapkan separuh dien ini. Ketika kita berazam untuk memperbanyak Kafilah Muhammad di Indonesia dan membuat bangga Rosul di Akhirat kelak.

Dan waktu itu dengan PeDe-nya kita katakan : “Semoga Allah ijinkan keturunan kita sebagai penebus bebasnya Al Aqso dari Yahudi Terlaknat….. Allahu Akbar.” (Semoga Allah merihoi)

***

Tanpa terasa sudah 2 tahun kita menikah. Yach… waktu memang berjalan begitu cepat. Berarti benar ya dik kata simbah,: “Urip ning ndunyo iku ibarat wong mampir ngombe”. Sebentar …. Ya emang sebentar sekali. Bayangin saja kalau hidup itu diibaratkan hanya selama kita minum, sa’ clegukan ….

Ruginya kalo hidup yang sebentar ini tidak kita maksimalkan hidup kita. Maksudnya, tidak kita genapkan dien kita gitu….. Karena ternyata benar kata Rosul, bahwa menikah itu menggenapkan separoh dien, dimana banyak amalan yang ‘wajib’ kita lakukan hanya bila kita sudah menikah.

Hanya karena pernikahan, kita jadi tahu ‘serunya’ amalan – amalan rahasia pasutri, yang hanya wajib dan halal dilakukan oleh dua jenis manusia setelah menikah. Nah kalo belum menikah, ya gak sah dan berarti zina. Udah gak tenang ‘operasinya’, belum kalo MBA, mempermalukan keluarga, dah gitu diundang Neraka untuk tamasya di tamannya ….

Hanya karena pernikahan, kita ‘diharuskan’ untuk bermuamalah dengan mertua dan keluarga besarnya. Nah disini ternyata kita diuji untuk banyak – banyak salamatus sadr (ngelus dada). Bukan hanya karena budaya, adat dan kebiasaan yang berbeda, atau visi misi tentang kehidupan yang tidak sama dan bahkan planning masa depan yang saling berbenturan karenanya. Apalagi kita kan hidup dengan mereka dibawah satu atap yang sama.

Hanya karena pernikahan, saya (suami) harus mendidik, memberi nafkah dan bertanggungjawab penuh akan kehidupan anak isteri di dunia dan akhirat. Lho kok dunia akhirat? Lha iya, kalo di dunia jelas. Nah kalo anak istri masuk neraka gara – gara suami cuek gak ndidik mereka sesuai tuntunan islam yang kaffah maka suami sebanyak apapun pahalanya tetap harus menemani anak isterinya masuk neraka.

Nah ndidik isteri itu gak gampang. Wejangan belum selesai yang ada nangis dan ngambek dan endingnya salah sangka. Apa karena tulang rusuknya kebanyakan zat kapur sehingga keras susah diluruskan. Ah … mungkin harus pelan – pelan.

Hanya karena pernikahan, adik (isteri) harus menjaga rumah tangga, melayani suami, meminta ijin jika ingin keluar rumah, meminta ijin untuk membelanjakan harta suami kepada keluarganya dan lain sebagainya. Ingat dik, ridlo Allah tergantung ridlo suami. Artinya don’t let me cry again. Jadilah isteri yang sholehah yang menyejukkan hati dan indah dipandangan mata. Padahal aku ini wong jowo yang sudah digembleng untuk nrimo, sabar, ngalah dan stereotype lainnya. Nggak susah sebenarnya jadi isteriku…

Hanya karena pernikahan, kita sudah punya satu amanah jundiyah yaitu Aisyah ‘Aina Azka yang harus kita didik, kita arahkan, kita bina sesuai azam kita di hari kita menikah. Menjadi generasi pembebas Al Aqso …..

Setahun ini kita harus ekstra menjaga buah hati setelah 9 bulan engkau mengandungnya dengan susah payah. Kurang tidur, cemas kala sakit, sebel kala gak mau makan dan lainnya. Cuma Allah juga adil dengan kelucuan dan kepolosannya yang menghibur kita.

Jadi, amalan rahasia, muamalah dengan mertua, muamalah dengan ipar, hak dan kewajiban suami isteri mencari nafkah, halal dan haram, mendidik anak dan masih banyak hal lainnya yang merupakan ‘separuh dien’ yang hanya dimiliki oleh insan yang telah menikah.

***

Dik, ternyata telah dua tahun engkau ‘siaga’ memberikan pelayanan yang prima. Rutinitas pagi dari menyiapkan baju, makan sampai melepas kepergian dari luar gerbang dengan ciuman sayang di tangan dan ucapan : Hati – hati , Mas”. Segelas teh manis hangat setiap pulang, pijatan – pijatan lembut saat badan ini pegal – pegal dan berbagai pelayanan lainnya yang sungguh tak dapat kulupakan. Walaupun ku tahu betapa penat dan lelahnya dirimu setelah mengajar seharian.

Dik, marilah di milad kita yang kedua kita saling instropeksi diri akan kekurangan dan kelebihan kita masing – masing. Moga nanti hasilnya bisa untuk saling melengkapi diantara kita. Kemudian mari kita rumuskan agenda kita kedepan, kalau perlu raker yach … sekalian rihlah (kayak pengurus Parpol aja).

Sebagai penutup, maafkan mas yang masih belum menjadi suami yang ideal. Masih kadang membuatmu menitikkan air mata. Masih harus meninggalkanmu berjalan sendirian disetiap acara – acara. Masih harus sering meninggalkanmu beberapa hari untuk mukhoyam. Semoga keridloanmu menjadi istri mas, mendapat keberkahan dan rahmat dari Allah SWT. Amin.

Tangerang 10 April 2007

*) Untuk Euis Sulistyo Rinie… Met Milad Pernikahan yang ke –2. Moga Keberkahan-Nya selalu melingkupi keluarga kita sampai Allah memanggil kita ke Jannah-Nya. Amien

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.