Agus' posts with tag: jama'ah
Ust Anis Matta,Lc "Saya rasa antum tidak perlu taujih, visi misi sudah jelas, kita hanya tinggal menunggu takdir baik kita di 2009". Takdir bukanlah sesuatu yang kita ciptakan, akan tetapi ia sesuatu yang kita 'ikut' ciptakan. Antara kehendak kita yang kita harapkan bertemu dengan kehendak Allah. 2009 adalah tahun keajaiban bagi banyak orang, banyak orang-orang diluar PKS mengatakan 20% terlalu besar untuk PKS. Ikhwah di DPP bilang: "hanya keajaiban yang buat kita bisa dapat 20%", saya bilang: "Maka keajaiban itu harus kita wujudkan 2009 nanti. Bahkan, kalau 20% itu keajaiban, maka kita ingin melampaui keajaiban itu. 20% adalah angka yang harus kita lampaui akhi." Kita adalah anak-anak muda. Anak-anak muda ada untuk menciptakan keajaiban, partai ini bertugas untuk ciptakan keajaiban. 20% adalah tugas sejarah untuk kita. Umar ibn Khotthob pernah mengatakan: "Setiap saya menghadapi masalah yang rumit, saya panggil anak muda" SBY pernah ditanya: "kenapa minta didukung PKS?" jawabnya: "saya butuh dukungan moril dari PKS" -beliau tahu, bahwa kita ini tidak bisa diharapkan untuk dukungan dana, karena PKS gak punya duit. Tahun '70-an Presiden Korsel Park Jung He ke aceh, dia lihat ayat Qur'an di sebelah Masjid Baiturrahman: "Innallaah laa yughoyyiru maa biqoumin, hatta yughoyyiru maa bi anfusihim" -beliau bertanya; "artinya apa?", "Tuhan tidak mengubah keadaan suatu kaum, sampai kaum itu yang mengubah keadaannya sendiri". Jadilah ayat itu dicatat, kemudian dibawa ke Korsel untuk dijadikan slogan resmi pemerintah; "Tuhan tidak mengubah keadaan Korea Selatan, sampai rakyat Korea yang mengubah keadaannya sendiri". Padahal hanya satu ayat tapi luar biasa hasilnya sekarang. Kalau kita karena kebanyakan ayat, ada 6666, jadi bingung mau mulai dari mana. Pendiri republik ini adalah anak muda, hanya saja pemuda yang memulai dan melaksanakan reformasi tidak memimpin reformasi. Ini yang salah. Ini menimbulkan ketidakpastian, maka inilah tanggungjawab kita untuk mengakhiri ketidakpastian. Mereka yang mengisi era pasca orba adalah orang yangmenghabiskan 30 tahun hidupnya di orde baru, ini dalam bahasa manajemen disebut dismatch/diskontinu. Karena Realitas Berubah, Tapi Pikiran Tidak Berubah. Gaya kepemimpinan yang ditawarkan PKS adalah egaliter, demokratis. Dalam politik Indonesia belakangan, parpol tidak tawarkan sesuatu yang baru bagi masyarakat, sehingga Soeharto bisa naik kembali menjadi presiden Indonesia yang paling dicintai rakyatnya diantara presiden-presiden republik ini yang pernah ada. Kami menyebut masa ini sebagai: kepemimpinan nasional yang disconnecting dengan bangsanya sendiri. Orde lama demokratis tetapi tidak sejahtera, sedangkan orde baru sejahtera, tapi tidak demokratis. Maka, kita ingin padukan itu. Demokratis dan Kesejahteraan dalam sebuah neraca yang seimbang. Maka Kami Tegaskan, Bahwa 20% ini Bukanlah Angka, Tetapi Simbol Dari Tekad. Ketika Hasan Al Banna memulai dakwahnya di Mesir, saat itu Mesir masih dijajah Inggris. Imam Syahid mengawali dengan 7 sasaran dakwah, dan poin ke-7 adalah Ustadziyatul 'Alam. Sebuah cita-cita besar yang jauh melampaui langkah kaki. Bangsa yang sedang dijajah ingin menjadi guru bagi peradaban manusia? Inimenghasilkan utopia, yang mana orang-orang bersahaja saat itu percaya bahwa halini bisa diwujudkan, meskipun tidak pada masa mereka. Hampir seratus tahun kemudian, 80 tahun sekarang, IM menjadi jama'ah yanglegendaris karena cita-citanya jauh mendahului langkah kakinya. Karena orang itu dipimpin bukan oleh seorang Al Banna, tetapi oleh ide-ide besar. Seorang guru pernah membawa mangkuk besar kemudian diisi batu-batu besar sambil bertanya pada murid-muridnya: "Apakah mangkuk ini sudah penuh?" -sudah, jawab muridnya. Kemudian sang guru mengisi mangkuk itu dengan pasir, dan pasir itu memenuhi sela antara batu-batu besar, kemudian sang guru kembali bertanya: "Sudah penuhkah mangkuk ini?" -kali ini murid terpecah menjadi dua; ada yang bilang sudah, ada yang bilang belum, meskipun tidak tahu dimana belumnya. Kemudian guru itu menyiramkan air ke dalam mangkuk, dan air itu pun membasahi pasir dan memenuhi mangkuk itu sekali lagi. Kemudian guru itu mengambil mangkuk yang baru, dan diisinya dengan pasir, sejenak kemudian ia berkata: "apakah mangkuk ini masih muat untuk batu-batu besar ini?"-spontan para murid mengatakan :"tidak", -"maka seperti itulah kepala kita, jika kita isi dengan hal-hal yang kecil, maka ia tidak akan pernah sanggup diisi oleh ide-ide besar. Fikirkanlah ide-ide besar, maka hal yang kecil akan termuat dengan sendirinya." Lalu Kenapa PKS Harus Diberi Kesempatan Memimpin Republik ini? Jawabannya tidak ada kecuali karena satu hal: "Keadilan" ; karena jika kita sudah melihat para pemimpin lain sudah pernah gagal, tolong beri satu kesempatan pada kader-kader PKS untuk memimpin bangsa ini dan ikut gagal bersamanya. Tapi jika kita bisa mengubah kegagalan itu? Kita tidak butuh terima kasih dari Indonesia. Islam dan keIndonesiaan harus menjadi satu, setiap jengkal wilayah territorial republik ini adalah lahan dakwah kita. Islam dan keIndonesiaan ibarat isi dan kulit, ibarat makna dan kata. Ini adalah cerita kita sekarang, cerita bagaimana kita mulai sejarah kemenangan dan menutupnya, cerita tentang bagaimana PKS menyiasati semua keterbatasannya. Memenangkan pemilu 2009 adalah tugas sejarah bagi PKS. Jika kita membayangkan layar komputer atau display HP di masa depan. Fitur apakah yang kita inginkan terpampang sebagai fitur utama? Jika Layar komputer dan display HP itu adalah Indonesia, maka kita ingin PKS menjadi fitur utamanya. PKS Adalah Fitur Masa Depan Indonesia. Hal ini dikarenakan 2 hal : Ide besar dan great performance. Semua ini ada di PKS. Dan partai apapun yang mampu tawarkan solusi bagi Indonesia akan memimpin republik ini. Banyak orang makan, sampah akan banyak, sampah adalah problem. Partai yang bisa memberikan solusi untuk sampah: adalah masa depan. 230 juta penduduk Indonesia dan terus bertambah, membutuhkan lapangan kerja, mengakibatkan pengangguran. Partai yang bisa memberikan solusi untuk pengangguran: adalah masa depan. PKS Adalah Simbol Dari Ide-ide Besar dan Kinerja-kinerja Besar. Soekarno mampu memimpin bangsa ini 20 tahun. Kenapa? Karena legendaris, berfikir tidak seperti orang lain berfikir, Soekarno memikirkan revolusi. Soeharto 32 tahun? Kenapa? Karena ide besar itu bernama pembangunan. Kenapa para Presiden republik ini yang menjabat setelah reformasi hanya bertahan 12-16 bulan? Karena mereka berfikiran pendek dan tak ada "narasi besar" dalam fikiran mereka. Penafsiran tunggal bahwa reformasi adalah antitesis dari orde baru adalah kesalahan. Orde lama dan baru memiliki kekurangan, sebagaimana mereka juga memiliki kebaikan. PKS adalah matchmaker, PKS mensintesa kebaikan-kebaikan periode sebelum reformasi. Kita mensintesa demokrasi dan kesejahteraan. Demokrasi orde lama yang mengeliminsai kesejahteraan, dan kesejahteraan orde baru yang mengeliminasi demokrasi. Jika PKS Bisa Mewujudkan Sintesa Ini, Maka Kita adalah Masa Depan PKS menggabungkan orde lama yang adil tapi tidak makmur, dan orde baru yang sejahtera tetapi tidak demokratis. Maka nama partai ini adalah Partai Keadilan Sejahtera. Jika sekarang kita membuat program "PKS mendengar", sudah saatnya kita memulai ujung dari program ini, yaitu "PKS bicara" Muhammad Iqbal dalam sebuah puisinya berkata: Tuhan, Ajarilah kami kembali ajaran tentang cinta. Biar kami bisa kumpulkan lidi-lidi yang berserakan ini menjadi satu Kita adalah Simbol Perekat yang Akan Memimpin Reformasi. Lidi kita adalah lidi yang bersih, tapi belum mampu bersihkan kotoran. Kita harus bersatu dengan lidi lain yang meskipun masih kotor tapi kita membentuk sapu lidi bersama. Itulah yang dituntut dari PKS sebenarnya, tidak hanya bersih, tetapi juga membersihkan. Kenapa reformasi jalan di tempat? Karena semua orang yang punya potensi tidak tahu dimana tempatnya. KPK anggarannya 78 M setahun, tapi uang yang dikembalikan ke pemerintah dari korupsi setahun 24 M. Kasus BI adalah uang 100 M, tetapi anggaran untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan menstabilkan pasar akibat skandal itu yang harus dikeluarkan BI adalah 5,5 M $. Padahal 100 M itu hanya 10 juta $ paling banyak. Ini cara membunuh yamuk dengan meriam. Kita selalu menjadi yang pertama di tempat bencana, tapi sendirian disana tidaklah cukup, kita harus menjadi unsur perekat yang membuat seluruh warga Indonesia peduli, itu baru cukup. Berkumpul tanpa dipimpin itu seperti kita hadir dalam sebuah dauroh atau acara seperti ini, tempat sudah penuh, tapi tidak ada yang membuka dan memimpin acara, tak ada yang dikerjakan bersama, semua hanya datang dan berbicara diantara mereka tentang kebaikan dan kerja bersama. Perkumpulan tersebut adalah sia-sia. Maka Matchmaker Ini Harus Dibarengi Dengan Satu Kemampuan Lain: Inovator Inovator adalah berfikir lebih cepat. Fikiran kita mendahului langkah kita dan langkah orang lain, bahkan langkah semua orang di republik ini. Seorang ulama dakwah menyatakan : "Jika satu jama'ah itu hanya dipenuhi oleh massa yang banyak, maka jama'ah itu akan punya jangkauan tangan dan kaki yang panjang tapi jangkauan mata yang pendek, sehingga sering tersandung dan jatuhlah jama'ah itu. Sebaliknya jika sebuah jama'ah itu hanya punya massa yang sedikit, meskipun banyak intelektual maka jama'ah itu akan memiliki jangkauan mata yang luas tetapi jangkauan tangan yang pendek, sehingga hanya bisa berangan-angan tapi kemudian bersedih" Maka Ibnu Qayyim mengatakan tidak boleh melihat akhwat, karena itu akan mewariskan kesedihan. Pandangan mata akan diikuti hasrat, tetapi hasrat diikuti ketidakberdayaan. Maka ia hanya akan mewariskan kesedihan. Kita memiliki semua yang dibutuhkan masyarakat; massa besar, tertib, santun, militansi, visi misi, kesetiaan, ketaatan, semua. Mengapa Zhilal itu legendaris? Karena ia mengembalikan makna wahyu, bahwa al-Qur'an diturunkan ayat demi ayat untuk menjawab setiap dimensi kemanusiaan yang terjadi dikalangan sahabat. Bahwa wahyu selalu mendahului langkah kaki para sahabat. Dua tahun sebelum fathu makkah, Allah sudah menurunkan ayat: "inna fatahna ..." -jika sampai masanya kalian akan masuk baitullah dengan aman. DR. Said Ramadhon al Buthi dalam Fiqhu Shirah menjelaskan bahwa pada saat ayat tersebut diturunkan, mayoritas sahabat tidak tahu apa arti dari ayat tersebut. Sampai mereka mengalaminya 2 tahun kemudian dan tersadar bahwa Al-Qur'an telah mendahului mereka. Perang Uhud sudah diramalkan 1 tahun sebelumnya pada surah Al-Anfaal, Allah sudah memperingatkan kaum muslimin agar tidak tergoda. Kenyataannya setelah perang itu benar-benar terjadi dan menyebabkan Hamzah bin Abdul Mutholib –paman nabi, Mush'ab bin Umair -sahabat yang sangat dicintai Nabi, dan 70 sahabat syahid. Allah tidak kemudian menghinakan, tetapi turun ayat "laa khoufu, walaa tahzanu..." PKS akan menjadi inovator hingga nanti di republik ini masyarakat non-muslim akan mengatakan: "Perbedaan agama sudah tidak relevan sekarang", dan masyarakat Muslim akan mengatakan: "Memang andalah yang menampilkan Wajah Islam dengan benar" 7 Kata kunci strategi pemenangan pemilu 2009 tidak perlu dihafal sebagaimana antum hafalkan al-Fatihah. Hanya butuh keyakinan & senyuman, kemudian rasakan aura kemenangan dan sebarkan itu kepada para kader dakwah. Itulah yang dirasakan para sahabat yang berperang bersama Kholid bin Walid, mereka tidak pernah bertanya strategi, taktik, tahapan seperti apa. Berperang bersama akh Kholid saja itu sudah cukup. Begitulah semangat dengan keyakinan. Khalid bin Walid ketika membebaskan Palestina diajak berunding oleh para pendeta, pendeta itu tahu bahwa mengalahkan Khalid dalam peperangan adalah mustahil, maka mereka berniat meracun Khalid bin Walid. Khalid tahu persis itu yang para pendeta itu lakukan, akan tetapi Khalid tetap meminum air beracun itu untuk mengatakan pada musuh Allah itu: "Dengan izin Allah, racun ini tidak akan membunuhku", sambil membaca do'a yang setiap hari kita baca dalam ma'tsurat: "Bismillaahilladzii laa yadhurru ma'asmihi syai'un fil ardhi walaa fis samaa' wahuwas samii'ul 'aliim" Di Afrika, semua rusa bangun di pagi hari dengan satu kesadaran, bahwa jika mereka tidak berlari lebih kencang dari singa, maka mereka akan mati dimakan. Di Afrika, semua singa bangun di pagi hari dengan satu kesadaran, bahwa jika mereka tidak berlari lebih cepat dari rusa, maka mereka akan mati kelaparan. Di Indonesia, semua petinggi partai lain bangun di pagi hari dengan satu kesadaran, bahwa jika mereka tidak berlari lebih cepat dari PKS, maka konstituen mereka akan habis, dan PKS akan menang di 2009. Kita telah menyampaikan pesan pada mereka melalui ratusan pilkada di daerah, bahwa setiap kita menang, kita memperolehnya dengan sarana yang pas-pasan. Dan ketika mereka menang, mereka membayarnya dengan harga yang terlalu mahal. Pesan itu telah jelas di kepala mereka: "Pertarungan jangka panjang melawan PKS bukan suatu pekerjaan yang mudah". Dalam keadaan miskin saja mereka harus setengah mati kalahkan kita apalagi jika keadaan kita besok lebih baik daripada sekarang ini? Sekarang ini pesan-pesan ini telah sampai, pasca Mukernas (di Bali) bahkan orang partai lain sudah berfikir: "PKS sudah masuk kandang kita". Top ten media adalah Mukernas, 5 dari narasumber terbanyak yang dihubungi selama pekan ini oleh media adalah PKS. Dan Ini Semua Hanya 'Isyarat Pendahuluan'. Sejarah seperti apa yang ingin kita tulis? Mari berimajinasi, saat 20, 30, 40 tahun lagi guru SD IT bercerita tentang sejarah hari ini kepada cucu-cucu kita, "Dahulu kala.. ada sebuah partai..". Maka ending cerita ini jelas, bahwa 20% adalah tugas sejarah untuk kita. Sepanjang tahun saya selalu ditanya oleh Suara Pembaharuan dengan pertanyaan yang sama: "Apakah anda ingin membuat partai lagi jika PKS tidak lolos ET?", maka saya menjawab: "jika 1999 kemarin kita tidak lolos kemudian kita membentuk PKS, maka 2004 kami akan membentuk Partai Keadilan dan Sejahtera dan Kebahagiaan, dan jika 2009 kita masih tidak lolos juga, kami akan membentuk Partai Keadilan dan Sejahtera dan Kebahagiaan serta Kehormatan" Wa antum a'lamu inkuntum mukminiin, kemudian pertanyaan itu sekarang berubah: "Apakah PKS siap memimpin republik ini?"... kita menjawab: "20% adalah cerita yang kita buat hari ini"
Oleh: Iman Santoso, Lc Fitnah dunia telah sedemikian hebatnya mengganas, menyerang dan menguasai pikiran mayoritas umat manusia. Fitnah itu mengkristal menjadi ideologi yang banyak dianut manusia, yaitu materialisme. Rasulullah saw., pada 14 abad lalu telah memprediksinya dalam sebuah hadits yang terkenal disebut dengan hadits Wahn, ”Hampir saja bangsa-bangsa mengepung kalian, sebagaimana orang lapar mengepung tempat makanan. Berkata seorang sahabat, “ Apakah karena kita sedikit pada saat itu ? Rasul saw. bersabda,” Bahkan kalian pada saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih, seperti buih lautan. Allah akan mencabut dari hati musuh kalian rasa takut pada kalian. Dan Allah memasukkan ke dalam hati kalian Wahn. Berkata seorang sahabat,” Apakah Wahn itu wahai Rasulullah saw ? Rasul saw, bersabda, “Cinta dunia dan takut mati” (HR Abu Dawud) Dunia dengan segala isinya adalah fitnah yang banyak menipu manusia. Dan Rasulullah saw., telah memberikan peringatan kepada umatnya dalam berbagai kesempatan, beliau bersabda dalam haditsnya: Dari Abu Said Al-Khudri ra dari Nabi saw bersabda: ”Sesungguhnya dunia itu manis dan lezat, dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian melihat bagaimana kamu menggunakannya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israel disebabkan wanita”(HR Muslim) (At-Taghaabun 14-15). Macam-macam Fitnah Dunia Secara umum fitnah kehidupan dunia dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk, yaitu: wanita, harta dan kekuasaan. Fitnah Wanita Dahsyatnya fitnah wanita telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Bahkan surat ‘Ali Imran 14 menempatkan wanita sebagai urutan pertama yang banyak dicintai oleh manusia dan pada saat yang sama menjadi fitnah yang paling berbahaya untuk manusia. Rasulullah saw. bersabda, ” Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih besar bagi kaum lelaki melebihi fitnah wanita” (HR Bukhari dan Muslim). Fitnah wanita dapat menimpa siapa saja dari seluruh level tingkatan manusia baik dari kalangan pemimpin maupun rakyat biasa. Sejarah telah membuktikan kenyataan tersebut. Banyak para pemimpin dunia yang jatuh karena faktor fitnah wanita. Dan fitnah wanita juga dapat menimpa para dai dan pemimpin dai. Bahkan salah satu hadits yang paling terkenal dalam Islam, yaitu hadits niat, sebab keluarnya karena ada salah seorang yang hijrah ke Madinah untuk menikahi wanita yang bernama Ummu Qois. Maka dikenallah dengan sebutan Muhajir Ummu Qois. Banyak sekali bentuk fitnah wanita, jika wanita itu istri maka banyak para istri dapat memalingkan suaminya dari ibadah, dakwah dan amal shalih yang prioritas lainnya. Jika wanita itu wanita selain istrinya, maka fitnah dapat berbentuk perselingkuhan dan perzinahan. Fitnah inilah yang sangat dahsyat yang menimpa banyak umat Islam. Ada banyak cerita masa lalu baik yang terjadi di masa Bani Israil maupun di masa Rasululullah saw yang menyangkut wanita yang dijadikan obyek fitnah. Kisah seorang rahib yang membakar jari-jari tangannya untuk mengingatkan diri dari azab neraka ketika berhadapan dengan wanita yang sangat siap pakai, kisah penjual minyak wangi yang mengotori dirinya dengan kotoran dirinya agar wanita yang menggodanya lari, dan cerita nabi Yusuf a.s. yang diabadikan Al-Qur’an. Itu kisah-kisah mereka yang selamat dari fitnah wanita. Sedangkan kisah mereka yang menjadi korban fitnah wanita lebih banyak lagi. Kisah rahib yang mengobati wanita kemudian berzina sampai hamil dan membunuhnya, sampai akhirnya musyrik karena menyembah setan. Kisah raja Arab dari Bani Umayyah yang meninggal dalam pelukan wanita dan banyak lagi kisah-kisah lainnya. Fitnah Harta Fitnah dunia termasuk bentuk fitnah yang sangat dahsyat yang dikhawatirkan Rasulullah saw, “Dari Amru bin Auf al-Anshari ra bahwa Rasulullah saw. mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah ke al-Bahrain untuk mengambil jizyahnya. Kemudian Abu Ubaidah datang dari bahrain dengan membawa harta dan orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah. Mereka berkumpul untuk shalat Subuh dengan Nabi saw. tatkala selesai dan hendak pergi mereka mendatangi Rasul saw., dan beliau tersenyum ketika melihat mereka kemudian bersabda,”Saya yakin kalian mendengar bahwa Abu Ubaidah datang dari Bahrain dengan membawa sesuatu?” Mereka menjawab, ”Betul wahai Rasulullah”. Rasul saw. bersabda, ”Berikanlah kabar gembira dan harapan apa yang menyenangkan kalian, demi Allah bukanlah kefakiran yang paling aku takutkan padamu tetapi aku takut dibukanya dunia untukmu sebagaimana telah dibuka bagi orang-orang sebelummu dan kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan akan menghancurkanmu sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim). Pada saat dimana dakwah sudah memasuki wilayah negara, maka fitnah harta harus semakin diwaspadai. Karena pintu-pintu perbendaharaan harta sudah sedemikian rupa terbuka lebar. Dan fitnah harta, nampaknya sudah mulai menimpa sebagian aktifitas dakwah. Aromanya sudah sedemikian rupa tercium menyengat. Kegemaran main dan beraktivitas di hotel, berganti-ganti mobil dan membeli mobil mewah, berlomba-lomba membeli rumah yang mewah dan berlebih-lebihan dengan perabot rumah tangga, lebih asyik bertemu dengan teman yang memiliki level sama dan para pejabat lainnya adalah beberapa fenomena fitnah harta. Yang paling parah dari fitnah harta bagi para dai adalah menjadikan dakwah sebagai dagangan politik. Segala sesuatu mengatasnamakan dakwah. Berbuat untuk dakwah dengan berbuat atas nama dakwah bedanya sangat tipis. Menerima hadiah atas nama dakwah, menerima dana dan sumbangan musyarokah atas nama dakwah. Mendekat kepada penguasa dan menjilat pada mereka atas nama dakwah dan sebagainya. Dalam konteks ini Rasulullah saw. dan para sahabatnya pernah ditegur keras oleh Allah karena memilih mendapatkan ghonimah dan tawanan perang, padahal itu semua dengan pertimbangan dakwah dan bukan atas nama dakwah. Kejadian ini diabadikan Al-Qur’an surat Al-Anfaal (8): 67-68, “Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)…” Fitnah Kekuasaan Fitnah kekuasaan biasanya menimpa kalangan elit dan level tertentu dalam tubuh umat. Fitnah inilah yang menjadi pemicu fitnah kubra di masa sahabat, antara Ali r.a. dengan siti Aisyah r.a. dalam perang Jamal, antara Ali r.a. dengan Muawiyah r.a. dalam perang Siffin, antara Ali r.a. dengan kaum Khawarij. Fitnah kekuasaan ini juga dapat menimpa gerakan dakwah dan memang telah banyak menimpa gerakan dakwah. Para aktifis gerakan dakwah termasuk para pemimpin gerakan dakwah adalah manusia biasa yang tidak ma’shum dan tidak terbebas dari dosa dan fitnah. Yang terbebas dari fitnah dan kesalahan adalah manhaj Islam. Sehingga fitnah kekuasaan dapat menimpa mereka kecuali yang dirahmati Allah. Kecintaan untuk terus memimpin dan berkuasa baik dalam wilayah publik maupun struktur suatu organisasi adalah bagian dari fitnah kekuasaan. Fitnah kekuasaan yang paling dahsyat menimpa aktifis dakwah adalah perpecahan, saling menjatuhkan, saling memfitnah bahkan saling membunuh. Dan semua itu pernah terjadi dalam sejarah Islam. Semoga kita semua diselamatkan dari semua bentuk fitnah ini. Untuk mengantisipasi semua bentuk fitnah dunia ini, maka kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan berlindung dari keburukan fitnah dunia. Mengokohkan pribadi kita sehingga menjadi jiwa rabbani bukan jiwa maadi (materialis) dan juga bukan jiwa rahbani (jiwa pendeta yang suka kultus). Disamping itu kita harus mengokohkan pemahaman kita tentang hakekat dunia, risalah manusia dan keyakinan tentang hisab dan hari akhir. 1. Hakekat Harta dan Dunia · Dunia adalah permainan dan senda gurau. [QS. Al-Ankabuut (29): 64] · Kesenangan yang menipu. [QS. Ali Imran (3): 185] · Kesenangan yang terbatas dan sementara. [QS. Ali Imran (3): 196-197] · Jalan atau jembatan menuju akhirat, Rasulullah saw bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” (HR Bukhari dari Ibnu Umar) Manusia diciptakan Allah sebagai pemimpin yang harus memakmurkan bumi. Maka mereka harus menguasai dunia atau harta bukan dikuasai oleh harta. Sebagaimana doa yang diungkapkan oleh Abu Bakar r.a., ”Ya Allah jadikanlah dunia di tanganku, bukan masuk ke dalam hatiku.” Seperti itulah seharusnya seorang pemimpin. Memberi teladan tentang pengorbanan total dengan segala harta yang dimiliki, bukan malah mencontohkan kepada pengikutnya mengelus-elus mobil mewah dengan hati penuh harap bisa memiliki. 2. Meyakini hari Hisab dan Pembalasan. Manusia harus mengetahui dan sadar bahwa kekayaan yang mereka miliki akan dihisab dan dibalas di akhirat kelak. Bahkan semua yang dimiliki dan dinikmati manusia baik kecil maupun besar akan dicatat dan dipertanggungjawabkannya. Oleh karenanya mereka harus berhati-hati dalam mencari harta kekayaan dan dalam membelanjakannya. 3. Sadar dan menyakini bahwa kenikmatan di akhirat jauh lebih nikmat dan abadi. Rasulullah saw bersabda: ”Allah menjadikan rahmat 100 bagian, 99 bagian Allah tahan dan Allah turunkan ke bumi satu bagian. Satu bagian itulah yang menyebabkan sesama mahluk saling menyayangi sampai kuda mengangkat telapak kakinya dari anaknya khawatir mengenainya.” (Muttafaqun ‘alaihi) Begitulah, kenikmatan paling nikmat yang Allah berikan di dunia hanyalah satu bagian saja dari rahmat Allah swt sedangkan sisanya Allah tahan dan hanya akan diberikan kepada orang-orang beriman di surga. Dan kesimpulannya agar kita terbebas dari fitnah dunia, maka kita harus membentuk diri kita menjadi karaktersitik rabbaniyah bukan madiyah dan juga bukan rahbaniyah. Jiwa inilah yang selalu mendapat bimbingan Allah karena senantiasa berintraksi dengan Al-Qur’an baik dengan cara mempelajarinya maupun dengan cara mengajarkannya. Wallahu a’lam Sumber : Dakwatuna.com
Kepanduan DPD Kota Tangerang Bismillahirrohmanirrohim. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan ber-Islam dan berjama'ah bagi kita semua, yang telah memberikan kesempatan kepada kita melalui beberapa qiyadah kita untuk berkontribusi dalam penyelenggaraan negara, dan yang telah menurunkan Al Qur'an sebagai petunjuk dalam hubungan antara qiyadah wa jundiyah, antara pemimpin dan yang dipimpinnya. Ikhwah fillah, betapa nasehat Allah SWT begitu jelas bahwa siapapun dia baik sang qiyadah maupun sang jundiyah tidak akan selamanya benar. Betapa indah teguran Allah SWT kepada Qiyadah waktu itu yaitu Muhammad SAW ketika mengambil tebusan atas tawanan perang Badar, padahal Umar ra sang sahabat Nabi mengusulkan hal yang selainnya. Dengan teguran itu Allah SWT menunjukkan bahwa yang benar adalah pendapat Umar ra. Rosulullah pun dengan tanpa malu dan takut hilang kehormatannya mengakui kesalahannya dihadapan Umar dan para sahabat. Bahkan itu menambah kemuliaanya. Begitu pula ketika terjadi perang Uhud, Allah SWT membenarkan pendapat Nabi -Nya diatas pendapat para sahabat. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rosulullah SAW, sang pengamal Al Qur'an sejati. Yang bukan hanya menyampaikan tanpa pengamalan. Yang telah memberikan tauladan atas hubungan pemimpin dan ummatnya. Yang seharusnyalah contoh itu menjadi referensi kita pada hari ini. Kemaksuman Rosulullah SAW bukan berarti ia tidak pernah salah. Namun Allah akan selalu menjaga Nabinya untuk sadar dengan kesalahannya dan kembali kepada jalan yang seharusnya. Dan atas kesalahan Beliau itulah kita mendapatkan pelajaran yang sangat mulia sebagai bekalan atas setiap permasalahan yang kita hadapi pada hari ini. Seolah - olah kesalahan itu memang disengaja untuk menunjukkan bahwa tidak ada seorangpun yang terjamin dari tidak berbuat salah. Ikhwah fillah, Ingatlah bagaimana Rosulullah SAW tidak pernah merasa selalu benar sendiri. Ia sebagai qiyadah seringkali membenarkan dan mengikuti pendapat para sahabatnya. Pada perang Badar Rosul menyetujui usul untuk berkemah dekat sebuah mata air dan menutup mata air lainnya. Pada perang Khondaq Ia menyetujui usul Salman Al Farisi untuk membuat parit mengelilingi Madinah. Dan diantara usul - usul para sahabat itu, Rosul-pun tidak segan untuk menunjukkan kebijaksanaan dan kecerdasannya. Ingatlah pejanjian Hudaibiyah yang fonumental itu, dimana banyak para sahabat mempertanyakan yang ternyata setelah itu terbukti ketepatan strategi sang Rosul mulia. Sholawat serta salam juga semoga tersampaikan kepada para sahabat Nabi yang diantaranya adalah para khulafaur rasyidin. Sang Peniru sejati, karena ia meniru apa - apa yang Rosulullah SAW sampaikan dan amalkan. Sungguh sangat luar biasa sikap seorang pemimpin yang tegas untuk siap diingatkan oleh masyarakatnya. Bagaimana Umar ra yang begitu bahagia ketika seorang sahabat mencabut pedang sebagai ungkapan siap meluruskan sang khalifah juka ia salah. Pun juga dengan sikap sahabat yang begitu taat dengan qiyadahnya. Suatu ketika seorang sahabat meminta Umar untuk berhenti bicara ketika ia sedang berkhutbah untuk mengklarifikasi sebuah masalah dan ia tidak akan taat sebelum masalah itu selesai. Sang sahabat menanyakan mengapa Umar mendapat jatah 2 potong pakaian sedangkan semua masyarakat hanya mendapat satu potong saja. Ia-pun mengatakan tidak akan taat kepata Umar sebelum masalah ini diselesaikan. Marahkah Umar? Ternyata ia begitu sabar, tetap tersenyum, dan tidak mengeluarkan kata - kata seolah yang bertanya adalah jundi yang bermasalah, jundi yang tidak taat kepada pemimpin, jundi yang perlu diberi uqubah atas kelancangannya. Umar pun dengan santai memanggil Abdullah untuk menjelaskan. Dan ternyata 2 potong pakaian khalifah itu, salah satunya adalah jatah Abdullah yang diberikan kepada Umar. Sang sahabat-pun segera menyambut klarifikasi itu dengan berkata saya taat kembali dan mempersilahkan Umar melanjutkan pembicaraannya. Ikhwah fillah, itulah sebaik - baik hubungan qiyadah wa jundiyah, hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin, hubungan antara komandan dan prajurit. Dan didalam hubungan itu terdapat fungsi kepanduan dalam jama'ah kita. Fungsi kepanduan yang memiliki beberapa misi yaitu : sebagai fungsi pembinaan, fungsi pengamanan dan fungsi pelayanan. FUNGSI PEMBINAAN Ikhfah fillah, berapa prosentase tingkat kehadiran liqoat kalian? 100% kah? Kemudian berapa banyak dari kita yang datang tepat waktu saat liqoat maupun syuro dan acara kepartaian, ataukah mayoritas dari kita bangga untuk datang terlambat. Lantas dimana kedisiplinan kita? Dan apakah uqubah selalu menjadi keseharian atas ketidakdisiplinan perilaku kita? Itulah mengapa perlunya kepanduan, untuk mendisiplinkan. Dimana salah satu puncak kegiatan pendisiplinan ini adalah mukhoyyam setiap tahunnya, yang oleh Iman Syahid dimasukkan sebagai salah satu perangkat Tarbiyah. Karena mukhoyyam adalah perangkat tarbiyah, maka seharusnyalah ia menjadi tanggung jawab Kaderisasi dimana pada ujungnya terdapat sosok murrobi. Sedangkan kepanduan hanyalah fasilitator - panitia pelaksana - untuk menyukseskan perangkat ini. Seharusnyalah Kaderisasi cemas ketika mukhoyam tidak jelas kabarnya. Seharusnyalah Kaderisasi yang memobilisasi kader untuk aktif dalam mukhoyyam. Dan seharusnya pula ada sistem uqubah yang jelas untuk mereka yang tidak melaksanakan mukhoyyam setiap tahunnya. Uqubah itu adalah salah satu sarana pendisiplinan. Uqubah pula adalah salah satu sarana jelasnya kesetaraan kedudukan. Karena jika uqubah tidak dilaksanakan, maka cepat atau lambat mukhoyyam sebagai perangkat mukhoyyam akan hilang. Ini berkaitan dengan masalah hati. Akan ada kecemburuan sosial dari sekelompok anggota jama'ah yang aktif mukhoyyam dengan menyisihkan cutinya disaat managernya menuntutnya untuk lembur, mengeluarkan biaya yang begitu besar disaat anak perlu tambahan susu, dan rasa capek dan penat yang sangat disaat bulan kemarin baru saja opname di rumah sakit. Pemberian uqubahpun harus sesuai tingkatan kesalahan, iqob kader yang terlambat apel siaga tentunya lebih kecil dari mereka yang tidak hadir, dan iqob yang tidak hadir apel siaga tentunya lebih kecil dari iqob mereka yang tidak ikut acara intinya. Sungguh bukan karena kebencian maka uqubah itu ada. Justru disanalah bukti cinta dari saudara. Saudara dalam suka dan duka. Saudara dalam dakwah kepada-Nya. Karena saudara itu adalah mereka yang menjaga agar kita tidak berbuat salah, agar kita tidak terperosok ke dalam lubang kejahiliahan, agar kita tidak keluar dari kumpulan para penyeru kebaikan. FUNGSI PENGAMANAN Ingat! Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat si pelaku, namun juga karena adanya kesempatan. Nah salah satu tugas fungsi kepanduan adalah meminimalisir kesempatan si pelaku untuk melaksanakan niatnya. Sehingga tercipta rasa aman dalam hati kita yang ujungnya adalah kita dapat melaksanakan segala aktifitas kita dengan maksimal untuk kesuksesan dakwah. Adalah wajar jika kita temui kepanduan menjadi 'tukang parkir' yang mengatur dan menjaga kendaraan kita, 'pak ogah' yang membantu kelancaran lalu lintas, 'satpam/security' yang berjaga di depan pintu atau malah mondar mandir di tengah massa, 'bodyguard' yang menjaga beberapa orang penting dalam jama'ah ini dan 'tim lost found' yang mengamankan orangtua yang hilang yang dicari anaknya. Serta sebagai puncaknya, kepanduan adalah prajurit jama'ah untuk terwujudnya izul Islam wal muslimin dengan tugas amar ma'ruf nahyi munkar dan berjihad di jalan-Nya. Sebagian tugas tersebut mungkin kelihatan remeh bagi kita, atau bahkan ada yang menganggapnya sebagai tugas 'rendah' yang tidak pantas dilakukan karena mungkin kita adalah pekerja kantoran, levelnya supervisor atau manager atau duduk sebagai pengurus harian dalam DPD atau DPC, atau kita adalah ustadz dalam jama'ah ini. Sesungguhnya tugas tersebut adalah sarana menundukkan kesombongan kita, mengembalikan kefitrahan kita bahwa kita semua adalah sama dihadapan-Nya, dan mengetes keikhlasan dan ketsiqohan kita sebagai anak panah yang siap dilepaskan dari busurnya untuk mengenai sasaran yang telah ditentukan. Namun bukan berarti jika sudah ada tukang parkir, pak ogah, security, bodyguard dan tim lost found maka kita bisa berbuat seenaknya. Bukankah mereka hanya meminimalisir? Maka adalah tugas kita pula untuk mengamankan diri kita sendiri, untuk tidak mengundang orang lain berbuat jahat kepada kita dan untuk selalu waspada disetiap waktu dan kesempatan. FUNGSI PELAYANAN Munas telah mengamanatkan kita agar kita menjadi jama'ah yang memimpin dan melayani ummat. Dengan kata lain kita adalah pemimpin disatu sisi dan pelayan disisi lain dimanapun kita berada, dimanapun posisi kita dalam susunan batu bata yang kokoh ini. Kepanduan - sebagai salah satu batu bata- juga memiliki tugas memimpin dan melayani. Melayani kader dan masyarakat kala mereka membutuhkan, saat bencana misalnya. Namun tugas pelayanan ini jangan sampai disalah artikan seolah - olah kepanduan adalah 'Superman' yang siap melanyani siapa saja yang menjadikan fungsi - fungsi lain dalam jama'ah ini menjadi mandul atau mati. Adalah pemahaman yang salah jika kepanduan 'mengambil' porsi fungsi lain misalnya tugas fungsi konsumsi, fungsi perlengkapan atau fungsi acara dalam sebuah kepanitiaan. Sehingga yang terjadi adalah kepanduan sibuk antar jemput konsumsi dan membagikannya kepada hadirin. Kepanduan sibuk mengatur meja, memasang bendera, memasang spanduk, mengangkat baliho dan sebagainya. Karena hal ini akan mengakibatkan peran fungsi tersebut mandul atau tidak maksimal. Seharusnyalah mereka bisa memobilisasi kader yang sudah sedemikian banyak untuk duduk dalam kepanitiaan sebagai staff fungsi tertentu. Andaikata kepanitiaan memang didesain 'mini' karena berbagai pertimbangan, maka strategi 'total football' harus dilakukan. Dimana fungsi - fungsi lain membantu sebuah fungsi menyelesaikan tugasnya. Hal ini akan terlihat kala ketua panitia, sekretaris, fungsi acara, fungsi konsumsi, atau fungsi dokumentasi bersemangat menyelesaikan tugas fungsi perlengkapan dengan membantunya memasang sepanduk dipertigaan jalan atau istilahnya kapten bisa menjadi striker atau gelandang jika dibutuhkan. Nah jika fungsi - fungsi itu sudah bekerja dengan maksimal yang mungkin dan masih membutuhkan bantuan, maka tidak salah jika mereka melibatkan kepanduan. Sehingga tidak berarti jika konsumsi tidak merata, spanduk belum terpasang maka itu adalah salah kepanduan, karena sebenarnya itu adalah tugas dari fungsi yang lain. Dan apabila suatu saat Kepanduan tidak bersedia ‘bekerja sama’ untuk masuk terlalu dalam pada tugas fungsi yang lain agar fungsi itu bekerja maksimal, adalah tidak dewasa jika kemudian Kepanduan dianggap tidak ‘IKHLAS’ melakukan pelayanannya selama ini. Karena pangkal masalahnya adalah ketidakprofesionalitasan suatu fungsi yang perlu dikritik dan didukung untuk terus memperbaiki diri. Bukankan kedepan kita harus BERSIH, PEDULI dan PROFESIONAL? KITA ( SEMUA ) KEPANDUAN Sejarah peradaban Islam telah membuktikan bagaimana Islam bisa berjaya, dan bagaimana Islam mengalami kemundurannya. Islam bisa berjaya karena qiyadah/pemimpin bisa melayani rakyatnya, karena mereka tidak merasa berbeda dengan ummatnya, karena keadilan yang diterima oleh siapapun apapun kedudukannya. Sedangkan kemunduran Islam terjadi karena pemimpin minta dilayani oleh ummatnya, karena apa yang dirasakan oleh ummat sangat berbeda dengan yang dirasakan oleh pemimpinnya sehingga timbulah kecemburuan yang berujung kepada ketidaktaatan. Adalah suri tauladan yang baik ketika Muhammad sang Rosul Allah adalah Muhammad yang turut mengeluarkan keringat membangun masjid Nabawi, Muhammad sang qiyadah adalah juga Muhammad yang menggali parit pada perang khondaq dan Muhammad sang komandan pasukan muslimin adalah juga Muhammad yang terluka tusukan pedang pada perang Uhud. Karena Ia tidak merasa kedudukannya sebagai Rosul, sebagai Qiyadah, dan sebagai Komandan menjadikannya merasa memiliki keistimewaan dan berbeda dari ummatnya. Begitupun para sahabat, sehingga betapa nyantai, nyaman dan amannya Umar sang Khalifah untuk tidur diatas tikar tanpa pengawalan yang mungkin pada era saat ini akan dibilang tidak pantas dialami oleh seorang yang berkedudukan sebagai kepala negara. Maka dengan suri tauladan itu adalah sangat tidak 'nyunnah' jika kita sebagai kader dakwah yang mencoba mengikuti manhaj Rosulullah bertindak sebaliknya. Yaitu tindakan berupa penolakan ikut mukhoyyam, menolak memberikan uqubah kepada mereka yang malas mukhoyam, merasa gengsi untuk menjadi tukang parkir, pak ogah dan tugas kepanduan lainnya dengan alasan kita lebih 'senior', alasan kita itu ustadz, kita itu pengurus DPD, DSD, atau DPC, atau karena kita adalah anggota dewan yang terhormat. Bahkan mungkin perlu adanya 'magang' bagi kita dalam tugas - tugas kepanduan diantara kesibukan kita walau sesekali dan tidak harus fulltime. Sesekali mungkin perlu anggota dewan jaga parkir, atau seorang ustadz menjadi 'bodyguard' tokoh dari pusat pada acara – acara tertentu. Karena, Inna al akh sodiq la budda ayyakuna 'kepanduan', karena kita semua adalah kepanduan. Wallahu ‘alam bish showwab.
Hudzaifah Trisakti online - Jakarta, Sebuah keputusan syuro akan bisa dijalankan dengan baik oleh sebuah komunitas, maka syuro yang dilaksanakan haruslah sebuah syuro yang bermutu. Ada beberapa nilai yang menentukan mutu sikap dan keputusan da'wah, yaitu: 1. Sejauh mana keputusan itu tepat dengan situasi, tempat, momentum, orang dan institusinya. Tidak hanya benar, tapi benar yang tepat, karena benar dan tepat adalah substansi sebuah keputusan. 2. Sejauh mana keputusan da'wah itu efektif dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai. Efektivitas sebagian terkait dengan kebenaran dan ketepatan, lainnya adalah pada pengekspresian. 3. Sejauh mana kita dapat mempertahankan konsistensi dalam penyikapan dan pengambilan keputusan. Konsistensi yang menentukan warna dasar dari karakter kita secara kolektif: apakah itu berupa kebenaran atau kepentingan, idealisme atau pragmatisme. Ketiga hal di atas terkait dengan dua sisi yang selalu melekat pada sikap dan keputusan da'wah. § Sisi pertama adalah muatan kebenaran syar'i § Sisi kedua adalah cara yang kita tempuh (proses) Muatan dan Proses Muatan di sini adalah muatan kebenaran (syar'i) yang ditentukan oleh referensi, metode yang kita gunakan. Metode berupa ijtihad, tidak lain adalah dengan menggabungkan dua pengetahuan sekaligus, yaitu : § Fiqhi wahyu : pegetahuan tentang sariat Islam yang mendalam § Fiqhi realitas : pengetahuan yang mendalam dan mendetil tentang realitas kehidupan dakwah yang kita hadapi. Yang dilakukan dalam ijtihad adalah bagaimana memberlakukan kebenaran-kebenaran wahyu Allah SWT dalam realitas kehidupan manusia. Secara substansi, ajaran syariat Islam berorientasi pada kebaikan dan kepentingan hidup manusia. Sebagaimana Ibnu Taimiyah: "...dimana ada kemashlahatan bagi manusia, di situ pasti terdapat syariat Alloh SWT". Dengan kata lain syariat Islam mengakomodasi segala hal yang menciptakan kemashlahatan sebanyak-banyaknya bagi manusia. Jadi asas penentuan sikap dan pengambilan keputusan adalah 'asumsi' mashlahat yang terdapat dalam perkara itu. Asumsi bersifat relatif, sedangkan yang digunakan dalam sebuah ijtihad adalah asumsi yang kuat (zhonn rajih). Yang terkait dengan proses adalah lembaga pengambilan keputusan atau apa yang disebut 'syuro'. Karena kemashlahatan itu didefinisikan melalui sejumlah asumsi dasar, dengan merujuk pada realitas, rasionalitas dan idealitas sudah tentu akal kolektif lebih baik dari akal individu. Karena itu keputusan bersama lebih baik daripada keputusan individu. Resiko Sebuah Keputusan Yang menjadi pertanyaan umum terkait dengan masalah syuro adalah apakah keputusan yang lahir dari syuro tidak mungkin salah? Prinsip ini (keunggulan akal kolektif atas akal individu) sering dipertentangkan dengan masalah pengendalian kolektif atas proses kreativitas individu. Adanya anggapan keputusan syuro selalu benar dapat menjadikan para pengambil keputusan abai terhadap antisipasi resiko. Hakikat yang perlu dipahami dalam syuro dan keputusannya adalah: 1. Para pengambil keputusan adalah manusia biasa, tidak makhsum. Yang dilakukan adalah ijtihad jama'i yang bersifat relatif, dalam arti ada resiko kesalahan; 2. Penentuan dan pendefinisian mashlahat ammah pada suatu masa dan situasi tertentu adalah ruang yang sangat dinamis terus berubah dan berkembang dalam tempo cepat. Bisa jadi mashlahat hari ini adalah mudhorot esok hari. Antisipasi resiko Produk syuro selalu mengandung resiko kesalahan atau setidaknya tempo kebenaran yang sangat pendek, dalam pendefinisian mashlahat ammah dan mudhorot yang bersifat asumtif. Kesalahan yang terjadi sebagai produk syuro, masih memberikan ruang perbaikan (perubahan keputusan) dan keuntungan dikarenakan 2 hal: 1. Secara kolektif telah diambil prosedur pengambilan keputusan yang benar. Sehingga dapat dengan mudah ditemukan letak kesalahan2nya , yaitu pada asumsi yang mendasari keputusan atau perkembangan baru yang tidak terduga sama sekali. Jika keputusan itu berasal dari individu maka kesalahannya terletak pada prosedur dan muatan keputusan sekaligus. 2. Ijtihad jama'i lebih bisa ditanggung resikonya secara bersama-sama. Meskipun bisa jadi keputusan syuro mungkin berasal dari gagasan seorang individu anggota majelis syuro. Distribusi beban tanggung jawab tersebar secara merata sehingga dapat memperkuat tingkat soliditas organisasi dan menjaga rasa saling percaya antara sesama anggota dan antara junud engan qiyadah (pimpinan). Ijtihad jama'i ini merupakan ruang yang sangat dinamis dan terus berubah. Optimalisasi Sebuah Syuro Hal yang berkaitan dengan antisipasi resiko adalah bagaimana menghasilkan sebuah keputusan syuro yang bermutu. Ini bisa diartikan dengan bagaimana mengoptimalkan syuro. Secara umum ada 2 fungsi syuro: § fungsi psikologis dan § fungsi instrumental Fungsi psikologis terlaksana jika: 1. Ada jaminan kemerdekaan dan kebebasan yang penuh bagi setiap peserta syuro untuk mengekspresikan pikiran2nya secara wajar dan apa adanya. Jika ruang ekspresi tidak terwadahi dengan baik akan terjadi konflik yang kontra produktif dalam syuro. Peserta syuro harus mempunyai kelapangan dada untuk menerima keunikan-keunikan individu lainnya. 2. Kemerdekaan dan kebebasan sebagai landasan menciptakan keterbukaan dan transparansi. Rasa aman dan bebas dari rasa takut, rasa nyaman karena diterima secara wajar, apa adanya akan menjadi suasana yang kondusif bagi terciptanya kreativitas dan keragaman yang produktif. Fungsi syuro yang sesungguhnya adalah mewadahi keragaman sebagai sumber kreativitas dan keunggulan kolektif. Tapi yang menjamin terciptanya keseimbangan yang optimal antara kebebasan berekspresi dan penerimaan yang wajar apa adanya adalah kekhlasan pertanggujawaban dan kelapanagn dada setaiap peserta syuro. Fungsi instrumental sebuah syuro jika mekanisme pengambilan keputusan berjalan dengan baik maka organisasi itu akan punya soliditas dan resisitensi yang tinggi terhadap berbagai bentuk goncangan yang bisa mengakhiri organisasi. Fungsi instrumental ini hanya terlaksana apabila beberapa syarat terpenuhi: 1. Sumber informasi yang cukup untuk menjamain bahwa keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Fakta yang akurat disertai analisis yang tepat akan memudahkan kita menyusun rencana keputusan baik dengan pendekatan syariat maupun pendekatan da'wah. Informasi akurat berkorelasi positif dan kuat (signifikan) dengan keputusan yang tepat. Kaidah ushul fiqh menyatakan hukum yang kita berlakukan atas sesuatu merupakan bagian dari persepsi kita tentang suatu itu. 2. Tingkat kedalaman ilmu pengetahuan yang relatif harus dimiliki setiap peserta syuro sangat menentukan mutu analisis pikiran dan gagasan yang dilontarkan. Faktor lain adalah dominasi akal atas emosi (rajahatul 'aql) serta sikap rasional yang konsisten. Sikap itu menjamin sikap emosional dan temperamental yang sebagian besar kontraproduktif, tidak terjadi dalam syuro. 3. Adanya tradisi ilmiah dalam perbedaan pendapat yang menjamin keragaman pendapat yang terjadi dalam syuro-syuro terkelola dengan baik (seleksi, penyaringan dan integrasi ilmiah). Pikiran-pikiran baru yang sulit dibayangkan lahir dari seorang individu. Tradisi ilmiah mengharuskan kita menghilangkan sikap apriori, merasa benar sendiri, mudah mencurigai niat orang lain, meremehkan pendapat orang lain, berbicara tanpa dasar informasi dan ilmu pengetahuan, mengklaim gagasan orang sebagai gagasan sendiri, kasar dan tidak beradab dalam majelis, ngotot yang tidak proporsional, ngambek dan bersikap kekanak-kanakan, mudah menuduh dan memojokkan orang lain dst. Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro Pengalaman keikhlasan yang penting adalah tunduk dan patuh pada sesuatu yang kita tidak setujui dan taat dalam keadaan terpaksa. Dalam kaitan ini sangat relevan muncul pertanyaan, bagaimana mengelola ketidaksetujuan terhadap hasil syuro? Sebelum sampai kepada jawaban pertanyaan tersebut ada baiknya kita lakukan langkah-langkah berikut, sebagaimana dalam tulisan Anis matta. 1. Bertanya pada diri sendiri, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu 'upaya ilmiah' seperti kajian, perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan kuat untuk mempertahankannya. Dalam kaitan ini harus dibedakan pendapat yang lahir dari proses sistematis dengan sekedar 'lintasan pikiran'. Seyogyanya kita mengindari pendapat hanya untuk sekedar berbicara (asbun). Karena itu adalah kebiasaan buruk, akan tetapi ngotot adalah kebiasaan yang lebih buruk lagi. Jika memang pendapat kita telah lahir dari proses yang sistemastis maka tawadhu adalah sikap yang lebih utama. Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka salah, tapi mungkin benar. 2. Apakah pendapat kita merupakan 'kebenaran obyektif 'atau 'obsesi jiwa' tertentu sehingga menjadi ngotot. Jika obsesi jiwa, maka tidak lain ini adalah salah satu bentuk hawa nafsu, maka segera bertobat karena ini adalah salah satu jebakan setan. Jika pendapat kita adalah kebenaran obyektif dan bukan berasal dari obsesi jiwa, yakinlah bahwa syuro pun membela hal yang sama. Sebagaimana salah satu sabda Rasululloh SAW: "ummatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan" . 3. Seandainya kita tetap percaya pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan salah, hendaklah kita percaya "mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaf jama'ah da'wah lebih utama dan penting dari sekedar memenangkan pendapat yang boleh jadi benar". Karena berkah dan pertolongan hanya turun kepada jama'ah yang bersatu padu dan utuh. Seandainya pilihan syuro itu terbukti salah, dengan keutuhan shaff da'wah, Alloh SWT akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu berupa misalnya: § Mengurangi tingkat resikonya atau mencipatakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. § Mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara logis. 4. dalam ketidaksetujuan itu kita belajar banyak makna imaniyah: § makna keikhlasan yang tidak terbatas, § makna tajarrud dari semua hawa nafsu, § makna ukhuwah dan persatuan, § makna tawadhu dan kerendahan hati § tentang menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah § tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, § makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapanagan dada yang tidak terbatas , § makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Alloh SWT yang tidak terbatas § makna tsiqoh kepada jama'ah Jangan pernah merasa lebih besar dari jama'ah atau lebih cerdas dari kebanyakan orang. Yang perlu diperkokoh adalah tradisi ilmiah kita, dalam bentuk: - memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam
- memperkuat daya tampung hati terhadap beban perbedaan,
- memperkokoh kelapangan dada dan kerendahan hati.
Semua ini akan menentukan apakah kita matang secara tarbawi atau tidak. Syubhat di Sekitar Sikap Kritis Sikap kritis diperlukan dalam jama'ah sebagai kontrol, pengendalian dan perbaikan yang berkesinambungan. Sikap kritis dan kultur introspeksi menjadi instrumen penting dalam proses penyempurnaan kehidupan berjamaah. Umar bin Khoththob mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang menghadiahkan 'aibnya' kepadanya. Al Mutarabbi (penyair Arab) :'...orang yang sempurna adalah yang 'aibnya dapat dihitung'....' Akan tetapi ada beberapa syubhat dari implementasi sikap kritis, terutama saat sikap kritis bertemu dengan suasana keterbukaan dan kebebasan menyampaikan pendapat. - Apabila sikap kritis itu bersumber dari kebencian bukan dari semangat untuk saling memperbaiki. Benci menjadikan kita bersikap kritis bahkan sangat kritis, sedangkan cinta bisa menjadikan kita bersikap longgar. Rasululloh SAW selalu berdoa untuk diberi kemampuan untuk diberi kemampuan bersikap adil ketika sedang suka dan ketika sedang benci.
- Apabila sikap kritis itu lahir dari keinginan untuk berbeda dengan orang lain dan dijadikan sarana untuk memperjelas identitas diri sendiri. Karena sikap kritis adalah citra yang baik.
- Apabila sikap kritis ini dijadikan cara untuk mendapatkan 'image' sebagai pemberani. Bahwa dirinya tidak takut pada siapa2 termasuk pada atasan, berani menanggung resiko dari sikap kritisnya.
- Apabila sikap kritis itu dijadikan kedok untuk merusak nama baik orang lain atau membuka aib sesama. MIsalnya mengkritik di depan umum, tidak dianjurkan dalam Islam.
- Apabila sikap kritis berkembang menjadi ghibah. Kritik meski bermuatan kkebenaran disampaikan tidak pada orang yang tepat akan tidak efektif.
Kritik akan efektif memperbaiki seseorang atau suatu keadaan apabila unsur2nya terpenuhi: 1. ada niat yang benar dari si pengkritik bahwa yang dilakukan sebagai kewajiban munashohah sesama muslim dan ia mengharapkan pahala dengan melaksanakan kewajiban, 2. ada kesalahan obyektif yang harus dikritik. Baik kesalahan personal maupun kesalahan kebijakan. 3. kritik disampaikan dengan cara yang benar dan tepat sesuai dengan adab-adab munshohah dalam Islam Menyikapi Orang Kreatif dan Kritis Sikap kritis umumnya merupakan indikator kesehatan hidup berjama'ah. Karena instrumen dan proses perbaikan berkesinambungan bekerja dengan baik. Suatu ketika Umar bin Khottob berkata, " Semoga Alloh SWT merahmati seseorang yang telah menghadiahkan aibku kepadaku". Yang perlu dikhawatirkan adalah sikap kritis berkembang secara tidak positif dan memicu konflik pribadi yang tidak sehat. Apa dan bagaimana seharusnya para pemimpin amal Islami menyikapi kritik dan kreativitas yang pasti selalu ditemui sepanjang kehidupan berjamaah. - Pemimpin harus bersikap dingin-sedingin2nya terhadap kritik yang ditujukan kepadanya atau kepada kebijakan2nya. Selama kritik itu merupakan indikator kesehatan jamaah tidak ada alasan untuk bereaksi secara berlebihan karena bisa mengarah kepada konflik pribadi yang kontra produktif.
- Pemimpin harus punya kerendahan hati yang memadai untuk mau mendengar berbagai kritik yang ditujukan kepadanya. Sikap dingin tidak sama dengan cuek, apatis, atau masa bodoh.
Sikap dingin adalah sikap mempertahankan kondisi emosional yang stabil sehingga tidak terganggu bekerja dalam lautan kritik. Karena mendengar adalah pekerjaan seorang pemimpin. Dengan menjadi pendengar yang baik seorang pemimpin telah menunjukkan kematangan pribadi. Ini hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki kerendahan hati, obyektivitas, kesediaan yang permanen untuk mengikuti kebenaran dari manapun. - Seorang pemimpin harus bersikap obyektif dalam menanggapi berbagai kritik yang ditujukan kepadanya. Kritik yang baik dan benar adalah hadiah terbaik yang harus disyukuri para pemimpin. Karena inilah Alloh melindungi pemimpin dari kesalahan yang mungkin terjadi seandainya kritik itu tidak disampaikan.
- Seorang pemimpin harus tetap mempertahankan prasangka baiknya terhadap semua pengkritiknya. Ada orang yang berniat baik tapi gagal berkomunikasi atau punya kultur karakter yang kasar, sehingga kritik yang baik dan benar tidak tersampaikan dengan cara yang tidak baik.
Prasangka baik adalah bagian dari sikap tasamuh dan kasih sayang yang diperlukan untuk hidup langgeng dalam berjamaah. Dibutuhkan pemimpin yang senantiasa menyisakan ruang dalam dirinya untuk berdamai saling memahami, bersepakat dan bekerja sama kembali. - Yang menentukan sikap seorang pemimpin adalah pemahamannya yang dalam tentang visi dan misi da'wah, marhalah dimana dia bekerja, strategi yang disusun dengan berbagai konsiderannya, kebijakan yang dia ambil serta berbagai pertimbangan dasarnya, langkah2 taktis tertentu yang ia lakukan dan mengapa ia melakukan itu.
Ia harus mandiri dan independen dalam berpendapat. Sikap inilah yang menjadi dasar untuk menentukan bagaimana sebuah kritik itu dikelola dan diakomodasi dalam kerangka kebijakan dasarnya atau sebaliknya ditolak atau ditunda masa akomodasinya. Keragaman yang Produktif Dalam konteks qiyadah-jundiyah yang juga tidak kalah pentingnya adalah bagaimana mengelola perbedaan pendapat dalam jamaah da'wah dan mengubahnya menjadi faktor produktif bagi da'wah? Beberapa tradisi yang kuat yang dengan sendirinya akan mengubah keragaman menjadi faktor produktif. 1. Tradisi ilmiah Da'wah bekerja pada domain yang sangat luas dan rumit, yang tidak mungkin dicerna, dianalisis dan disikapi tanpa penguasaan ilmu pengetahuan dan kemampuan berfikir sitematis dan obyektif. Ada tiga landasan utama tradisi ilmiah: - sistematika berpikir yang solid
- struktur pengetahuan yang kokoh
- kemampuan pembelajaran yang cepat
Dengan tradisi ilmiah kita mencegah setiap orang berbicara dari pikiran yang hampa dan hati yang kosong, dari kesembronoan dan kelatahan. Tradisi ilmiah mengajarkan makna pertanggungjawaban atas kata yang kita ucapkan. 2. Tradisi verbalitas - Tradisi ilmiah hanya bisa tumbuh dengan baik apabila diwadahi dengan keterbukaan yang wajar.
- Tradisi ini berkembang bila secara individual punya tradisi verbalitias yaitu kebiasaan mengungkapkan pikiran secara wajar, alami dan apa adanya.
- Dengan tradisi verbalitas kita mengajarkan makna keberanian yang natural dan kehormatan yang wajar.
3. Tradisi pembelajaran kolektif Baik individu maupun jama'ah berkembang melalui referensi normatif maupun pengalaman sejarah. Da'wah yang kita lakukan adalah mata rantai perjalanan manusiawi dan relatif . Walaupun Alloh sanggup membuat seluruh penduduk bumi beriman seketika, tapi Ia menghendaki itu terjadi melalui da'wah yang dilakukan manusia. Kemampuan kita untuk belajar secara kolektif hanya dapat ditingkatkan jika kita memiliki semangat dan kejujuran yang memadai untuk belajar, seperti: - kemauan untuk mendengar semua pendapat yang beragam,
- mencerna
- menganalisis
- memikir ulang pendapat2 orang lain
Dengan tradisi ini kita bisa mengakselarasi pertumbuhan kapasitas da'wah . 4. Tradisi toleransi Dengan tradisi ini kita harus membiasakan diri untuk memiliki: - kelapangan dada
- kerendahan hati
- membebaskan diri dari kepicikan
- prasangka buruk
- mengkondisikan diri untuk menghargai waktu
Karena sebuah gagasan terkadang harus diuji di lapangan dan perlu waktu. Tapi membuat seseorang mentoleransi orang lain adalah menunjukkan keluasan ilmu dan wawasannya. Itu yang membantunya memahami orang secara tepat. Memahami alasan-alasan yang mendorong seseorang memiliki sebuah sikap. Mengokohkan Tradisi Ilmiah Beberapa ciri tradisi ilmiah yang kokoh, yang dapat mengubah keragaman menjadi produktivitas kolektif: - berbicara dan bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan,
- tidak bersikap apriori dan tidak memberikan penilaian terhadap sesuatu sebelum mengetahuinya dengan akurat,
- selalu membandingkan pendapatnya dengan pendapat kedua dan ketiga sebelum menyimpulkan atau mengambil keputusan,
- mendengar lebih banyak daripada berbicara,
- gemar membaca dan secara sadar menyediakan waktu khusus untuk itu,
- lebih banyak diam dan menikmati saat-saat perenungan dan kesendirian,
- selalu mendekati permasalahan secara komprehensif, integral, obyektif dan proporsional,
- gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana, ide-ide tapi tidak suka berdebat kusir,
- berorientasi pada kebenaran dalam diskusi dan bukan pada kemenangan,
- berusaha mempertahankan sikap dingin dalam bereaksi terhadap sesuatu dan tidak bersikap emosional serta meledak-ledak,
- berfikir secara sistematis dan berbicara secara teratur,
- tidak pernah merasa berilmu secara permanen dan karenanya selalu ingin belajar,
- menyenangi hal-hal yang baru dan menikmati tantangan serta perubahan
- rendah hati dan bersedia menerma kesalahan,
- lapang dada dan toleran dalam perbedaan,
- memikirkan ulang gagasannya sendiri atau gagasan oang lain dan senantiasa menguji kebenarannya,
- selalu memikirkan gagasan-gagasan baru secara produktif .
· Tradisi ilmiah hanya bisa tumbuh dengan baik apabila diwadahi dengan keterbukaan yang wajar. · Tradisi ini berkembang bila secara individual punya tradisi verbalitias yaitu kebiasaan mengungkapkan pikiran secara wajar, alami dan apa adanya. · Dengan tradisi verbalitas kita mengajarkan makna keberanian yang natural dan kehormatan yang wajar.
 | Tauhid | Feb 18, '08 9:11 PM for everyone |
19 Peb 08 07:51 WIB Oleh Rizki Ridyasmara Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan seorang kawan yang sudah hampir dua tahun tidak pernah bersua. Dia seorang bapak dua anak. Penampilannya sekarang lebih rapi, dengan jenggot pendek di dagunya dan jidatnya yang kini menghitam, walau samar. Dia bercerita jika sekarang telah menjadi manusia bebas. Saya heran, “Lho, bukannya sedari dulu Antum sudah bebas?” Dengan tersenyum dia menggeleng. “Dahulu, saya masih menuhankan yang lain selain Allah SWT. Dahulu saya masih tergantung kepada banyak hal selain Allah SWT. Padahal dalam Islam bergantung hanya kepada Allah SWT itu sudah cukup, tidak lagi memerlukan apa-apa selain Dia…” Saya kembali bertanya dan paparannya membuka mata hati saya akan hal-hal yang sesungguhnya sangat sederhana. Sahabat saya yang sudah mengkaji Islam secara intensif dengan kawan-kawan pengajiannya sejak awal 1980-an ini bercerita banyak hal. “Akhi, ” katanya. “Alhamdulillah, Allah telah memberikan saya keinginan yang kuat untuk mempelajari agama ini. Kita tentu sudah sama-sama paham tentang dasar-dasar keimanan seorang Muslim, bahkan cabang-cabang keimanan dan juga pengetahuan tentang hal-hal lain terkait keIslaman, kita juga sudah mengerti.” Saya mengangguk. “Dan orang-orang seperti kita tentunya sangat mendukung dakwah Islam.” Saya kembali mengangguk, dia melanjutkan, “Namun tentunya dakwah Islam yang benar, yang berdasar pemahaman Islam yang lurus, bukan label atau bungkus belaka. Kita tentu harus mendukung dakwah Islam yang benar, bahkan hukumnya fardhu ain. Namun ketika dakwah itu sudah tidak benar, sudah melenceng dari nilai-nilai Islam, dari pondasi Islam, maka tentu kita pun wajib meninggalkannya. Kita cinta dan benci karena Allah SWT, bukan karena hal-hal yang lain.” Saya terus mendengarkan. “Salah satu syarat mutlak dalam dakwah Islam adalah benar sedari awal, yaitu niat yang benar dan lurus, usaha yang benar, upaya yang benar, dan hasilnya pun akan benar pula. Semua bentuk dakwah Islam harus demikian, termasuk dalam tataran dakwah kenegaraan.” “Yang terakhir ini bisa saya umpamakan dengan toko saya, ” ujarnya. Saya tahu sahabat saya ini punya usaha toko di Jakarta. “Saya membangun toko dengan niat yang lurus dan juga bersumber dari uang yang bersih dan halal. Tidak ada sedikit pun dana membangun toko saya ini yang bersumber dari dana yang tidak jelas. Sedikit demi sedikit saya terus mengembangkan toko dan juga strategi marketing saya. Tentunya dengan tetap menjaganya dari nilai-nilai keIslaman.” “Alhamdulillah, toko saya berkembang. Makin banyak pelanggan. Ketika toko saya sudah banyak pelanggan dan ramai, makin banyak salesman yang menawarkan barang-barangnya. Makin banyak pula orang yang ingin bermitra ikut menginvestasikan uangnya ke dalam usaha saya. Dalam bahasa lain ber-musyarokah. Sebagai manusia biasa saya tentu ingin sekali toko saya besar. Namun karena niat saya membuka toko demi dakwah Islam, maka saya tentunya harus selektif memilih barang dagangan dan mitra berbisnis saya. Saya tidak mau ada produk-produk haram seperti rokok dan bir di dalam toko saya. Saya juga tidak mau bermitra dengan orang-orang yang tidak jelas yang tentunya punya dana yang juga tidak jelas. Walau saya pribadi ingin usaha saya ini besar, berkembang pesat, dan omzetnya mencapai miliaran bahkan triliunan, namun dalam kacamata Islam itu semua bukan perimeter sebuah keberhasilan. Karena dalam Islam, yang penting adalah ikhtiar kita menjaga Islam itu sendiri, sedangkan hasil merupakan pemberian Allah SWT.” Saya merasa butuh penjelasan lebih lanjut darinya, “Mengapa dakwah dalam tataran negara diibaratkan dengan mengelola toko?” Sahabat saya tersenyum, “Ya sama saja. Dakwah dalam tataran yang lebih luas sama saja dengan mengelola dakwah dalam tataran yang mini ibaratnya toko. Kecil atau besar, tetap saja kita wajib memegang nilai-nilai dasar Islam. Kita tidak boleh sedikit pun bertoleransi terhadap kebathilan, walau itu dengan dalih demi perluasan dakwah. Dakwah yang benar tidak akan berhasil jika dibiayai oleh sumber dana yang tidak jelas, syubhat, apalagi dana haram. Dakwah yang benar tidak akan pernah bisa berhasil jika kita bermitra dengan para penyembah thaghut, terlebih posisi kita dalam bermitra itu lemah sedangkan posisi para penyembah thaghut itu kuat. Dakwah kita tidak akan berhasil jika melalui cara-cara yang tidak Islami seperti menggelar dangdutan, organ tunggal, dan sebagainya.” Sahabat saya melanjutkan, “Dakwah Islam yang bersih dan suci tidak bisa sedikitpun dicampur dengan hal-hal yang kotor seperti itu. Adalah terlalu murah harganya jika dakwah Islam harus berkompromi dengan hal-hal seperti itu. Rasulullah tidak pernah mengajarkan demikian. Dalam Perang Badar, tatkala menghadapi musuh yang sangat besar, Rasulullah tidak pernah menawarkan gencatan senjata, apalagi bertoleransi sedikit pun dalam beragama. Padahal saat itu bisa saja Rasulullah menawarkan sesuatu agar tidak terjadi peperangan yang sangat tidak imbang tersebut yang dalam nalar manusia biasa pasti umat Islam akan kalah. Tapi itu tidak. Rasulullah malah pergi ke dalam tenda dan berdoa kepada Allah agar memenangkan kaum Muslimin. Dan akhirnya pertolongan Allah itu datang dan berhasil memenangkan kaum Muslimin dengan menurunkan ribuan pasukan malaikat-Nya.” Saya tersenyum lagi. “Jika demikian, di dalam tataran politik yang sangat kompleks dan kotor seperti sekarang ini, mungkinkah cara-cara seperti yang Antum paparkan tadi bisa menuai keberhasilan?” Kini sahabat saya yang tersenyum, “Dalam Islam, manusia itu hanya diperintahkan untuk berikhtiar, untuk berusaha dengan baik dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Ini tidak bisa ditolerir. Sedangkan hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT. Islam tidak menghendaki kita menjadi penguasa jika harus melalui cara-cara di luar Islam atau apalagi harus berkompromi dengan para penyembah thaghut.” Saya bertanya lagi, “Jika demikian, untuk pemilu mendatang, Antum memilih siapa?” Sahabat saya kembali tersenyum. “Jika ada yang benar-benar berjuang untuk Islam, jiika ada yang benar-benar ingin menghidupi Islam, bukan memanfaatkan Islam untuk bertahan hidup, maka saya akan pilih itu. Partai saya sekarang Partai Allah, Hizbullah…Jika ada saya pilih, namun jika tidak ada, saya sudah memiliki Islam. Bagi saya Islam sudah sangat cukup.”
Fatamorgana (Gunung) Jama'ah Gunung. Siapa yang tidak suka gunung bagi para pemuda pecinta alam. Gunung yang dengan bebatuan terjal yang terasa pedih yang melingkupinya, hutan hijau yang melindunginya, bukit – bukit yang merupakan ujian bagi para pendaki untuk menuju puncaknya dan mata air bening yang menggoda untuk meminumnya. Sebagian menganggap gunung adalah keindahan, sebagian menganggap gunung adalah tantangan, sebagian menganggap gunung adalah kesegaran dan sebagain lagi menganggap gunung adalah penghilang dahaga kehausan. Sehingga gunung bagaikan magnet yang memiliki daya tarik untuk mendakinya, menikmati keindahannya, merengkuh pelukan kesegarannya, dan menghilangkan dahaga kehausan yang selama ini mendera. Namun ketika berjalannya waktu, entah akibat keserakahan manusia atau memang semakin banyaknya manusia yang membutuhkan manfaat (‘memanfaatkan’) dari gunung dan seisinya, atau juga karena memang sudah masanya terjadi, maka gunung itu sedikit demi sedikit melukiskan kerusakan – kerusakan yang dialaminya. Keindahan yang dulu nampak hasil perpaduan yang serasi antara bebatuan, bukit, hutan dan mata air, kini terlihat mulai gersang dimata. Seolah hanya bebatuan terjal saja yang tampak, pohon – pohon yang memberikan kesegaran telah bertumbangan disana – sini, mata airnyapun sebagian telah mulai mengering, sedangkan sebagiannya lagi telah sedikit airnya. Maka hanya ada dua pilihan bagi para pendaki itu, memperbaiki gunung dengan reboisasi ataukah mencari gunung yang lain yang sesuai dengan harapannya. Bayangkan andaikata jama’ah yang indah ini, kemudian menjadi gersang. Tidak menyenangkan bagi penghuninya, apalagi bagi orang yang hanya suka memandangnya. Bayangkan jika yang nampak hanyalah kejelekkanya yang terjal melukai setiap kaki, anggotanya yang dulu menyegarkan dengan ruhiyah yang prima kini bertumbangan dan pokok dahannya mulai mengering serta mata air keilmuan yang dulu menggoda siapapun untuk merasakannya, kini sebagiannya telah kering dan sebagiannya telah sedikit airnya. Haruskah beralih ke ‘gunung’ yang lain? Kaum pengganti Anak – anak TPA paling suka mendengarkan cerita. Salah satunya kisah Nabi – nabi. Entah bagian mana yang mereka sukai, tapi yang jelas anak – anak suka cerita. Satu hal yang sama yang bisa diambil dari kisah para Nabi adalah mereka diutus kepada suatu kaum untuk hanya menyembah Allah saja. Namun ketika sebagian besar mereka ingkar maka Allah binasakan dan hanya menyisakan sebagian yang sholeh. Ingatlah, bagaimana kaum Nuh yang hanya tersisa se-kapal, bagaimana kaum Luth yang hanya tersisa beberapa orang yang mau mengungsi dari desa, begitu pula kebanyakan nabi – nabi yang lain. Namun apa daya, manusia tetaplah manusia. Beberapa kurun waktu setelah nabinya wafat, kemudian orang tua – orang tua mereka wafat, maka mereka kembali durhaka kepada Allah. Seolah mereka memang menunggu – nunggu golongan pengganti dari kaumnya, dimana mereka yang durhaka kepada Allah akan kembali dibinasakan. Begitulah kisah nabi dari nabi yang satu ke nabi yang lain. Begitu juga jama’ah ini, jika suatu saat para anggotanya mulai meninggalkan sunnah dan berlari menuju harta, tahta, dan wanita. Apakah susah bagi Allah untuk menggantinya dengan golongan lain yang mereka mencintai Allah dan Allah mencintai mereka? Jadi bukan hanya jika salah satu anggotanya futur dan kemudian insilah, entah menuju dunia atau beralih ke jama’ah yang lain maka Allah akan gantikan dengan sosok yang bahkan lebih baik. Namun jika seluruh anggota jama’ah ini, baik sadar ataupun tidak telah terbawa menuju dunia atau menyamai jama’ah lain yang orientasinya bukan tauhid, maka Allah akan gantikan dengan jama’ah lain yang Allah ridlo dengannya dan mereka ridlo dengan Allah.
| |