Blog EntryUstadz, Ijinkan Aku Insilah ….May 7, '07 11:43 PM
for everyone

“Maaf Ustadz, Tidak adanya diriku tidak akan berpengaruh pada dakwah ini. Maka ijinkanlah aku insilah. Ijinkanlah aku tidak aktif lagi untuk beraktivitas bersama kalian. Ijinkanlah aku tuk tak lagi menjadi da’I (penyebar)….. "

Untuk engkau tahu ustadz, aku malu disebut da’I dan bahkan beberapa orang memanggilku ustadz karena kesenioranku …. Karena aku lebih tua dari mereka … Karena aku lebih dulu menjadi aktivis dibanding mereka …

Namun tetap saja, "...ana basyaru mitslukum yuha ilayya …."

Aku tetap manusia yang fana … yang tidak sempurna … yang memiliki berjuta kelemahan … yang kadang dikalahkan nafsu dan syahwat …. yang kadang terpukau oleh godaan dunia … yang kadang mengejar materi sampai kaki ini tersandung sandung …. Dan masih banyak lainnya, yang intinya … aku tetap manusia biasa….

Sebagai seorang yang katanya da’I, yang katanya tiap mukmin sejatinya adalah da’I, tiap jiwa yang mengaku islam adalah da’I, maka lihatlah ruhiyahku sungguh amburadul…. tilawahku tak seberapa, tergantikan canda tawaku dengan keluarga dan teman sahabat …. sholat malamku terlewat tergantikan dengan tidurku yang pulas terlena … puasa sunnahku ku reshufel dengan makan yang yang mengenyangkan hanya karena takut sakit magh … belum sholat wajibku yang kudirikan dengan kemalasan dan kulakukan diakhir waktu ….

Sebagai orang yang katanya da’I, aku malas belajar… aku malas menghapalkan ayat – ayat Al Qur’an…. Aku malas menyimak tausiyah – tausiyah para ulama. Buku – buku hanyalah penghias di rak – rak lemariku, acara kajian adalah ajang ngrumpiku ….

Sebagai seorang yang katanya da’I, berat rasanya aku beramal. Berat rasanya aku mengeluarkan 2,5% penghasilanku untuk zakatku, apalagi jika aku harus mengeluarkannya untuk infaq dan sedekah … berat … berat … apalagi untuk berjihad dengan jiwa …

Sebagai seorang yang katanya da’I, sedikit sekali aku menyisihkan waktuku untuk menyeru… karena aku takut akan menjadi orang yang dibenci Allah : “ Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan “. (Ash Shoff 2 – 3)

Sungguh aku malu ustadz, sampai – sampai ada saudaraku yang mengingatkanku dengan menuliskan dipintunya sebuah kalimat : “Katanya Ikhwan ….”

Kemudian ustadz, materi – materi yang telah engkau berikan, dan materi – materi yang telah para murobbi berikan… dengan kefahaman yang kusimpan di dalam dada, masih tak mampu untuk bergerak, untuk beramar ma’ruf, apalagi untuk nahi mungkar ….

Lidah ini masih kelu untuk mengajak orang lain mendalami islam yang katanya Indah…. Dan bahkan dulu sekali sempat kucoba untuk mengajak, kemudian mereka menyambut seruan ini…. Tapi sekarang mereka telah jauh sebagai akibat atas pilihan untuk masuk ke dalam dakwah ini… tapi apa yang kulakukan …. Tak ada …. Ampuni hambamu ini ya Allah…. yang telah mengajak mereka berjama’ah tapi kemudian kutinggalkan setelah musibah mereka terima …. Tangan ini begitu lemah untuk berbuat, lidah ini telah kaku untuk mengingatkan para junud dan qiyadah untuk menolong mereka … maka kepada-Mu lah aku berharap untuk menolong mereka …

Maka akal ini berkata untuk apa menyeru, untuk apa merekrut, jika setelah itu aku telantarkan… tanpa kuperhatikan kebutuhannya, tanpa ku obati kejenuhannya, tanpa kusinari ruhiyahnya ….

Sungguh aku takut disebut tidak beriman karena tidak memperdulikan saudaraku yang lain yang tertimpa musibah. Sungguh aku takut disebut tidak beriman karena seharusnya aku mencintai mereka seperti mencintai diriki sendiri …. Sesuai materi – materi itu ….

Maafkan aku ustadz, aku menganggap rumah ini tak lagi nyaman untuk di huni… tak lagi indah untuk dipandang … tak lagi bersih untuk dibanggakan … dan tak lagi ikhlas dalam kepedulian …. Atapnya telah bocor disana – sini dan tiang serta dindingnya makin rapuh.

Kulihat ada hukum – hukum yang sudah pasti hitam putihnya, sekarang telah dibuat menjadi remang – remang dengan alasan fiqih realitas. Tapi memang siapakah diriku, aku bukan ustadz, apalagi tidak memiliki kafaah syar’I untuk menelaah hukum

Kulihat juga kita mencoba – coba untuk melegalisasi kebatilan dalam dakwah kita, goyangan wanita tlah kita undang dalam pengajian kita … bukankah “…wala talbisul haqqo bil bathil …”

Kemudian pertemuan – pertemuan ilmiyah ruhiyah kini pun telah tergantikan dengan syuro – syuro hizbiyah yang sebenarnya telah memiliki perangkat dan waktunya sendiri. Mengapa tidak manajemen waktu, mengapa tidak tawazun dalam kegiatan … bukankah kita ummat pertengahan yang tidak condong ke salah satu sisi…. Bukankah jasad, ruh dan akal memerlukan porsinya masing – masing … seperti kata murobbi dulu ….

Selanjutnya, apakah sholat ini tidak begitu membekas sehingga kita selalu terlambat datang dalam pertemuan. Bukankah sholat itu mengajarkan kita untuk disiplin dan tepat waktu. Namun mengapa hampir semua kegiatan kita selalu terlambat setengah sampai satu jam dari jadwal semula ….

Yah, memang benar kita adalah manusia biasa. Yang tidak sempurna, yang memiliki kealpaan, yang membutuhkan orang lain untuk mengingatkan. Namun bagaimana jika hati ini telah begitu mengeras membatu ….

Yaa Allah…. Ayat pertama yang kau turunkan adalah perintah untuk mentarbiyah diri “Iqro… kata-Mu”. Seolah Engkau mengatakan jika aku muslim maka aku harus Tarbiyah. Namun hati ini telah begitu berat dan ingin Insilah, maka jika aku keluar dari Tarbiyah…. Apakah tidak diartikan aku keluar dari Islam karena Islam harus Tarbiyah ….

Dan benar, jika aku keluar dari Tarbiyah yang secara nggak langsung dianggap keluar dari Islam, maka dakwah ini tak kan goyah, islam ini tetap tinggi, karena seperti kata-Mu yaa Allah : ”Hai orang - orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Al Maidah 54)

Jadi masih mungkinkah aku untuk insilah (keluar) ya ustadz …..


16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
pidonesta wrote on May 28, '07
Allahu Akbar ... yaa muqallibal qulub tsabbit qalbi ala dinik .... teguhkan untuk terus istiqomah
agussur wrote on May 29, '07
Amin.... Jazakillah
pidonesta wrote on May 29, '07
mo ijin buat ... ngopi file ini buat temen-temen "Lingkaran Qecil"ku boleh gak ???
agussur wrote on May 29, '07
ijin buat ... ngopi file
Silahkan mbak... moga bermanfaat
pidonesta wrote on Jun 6, '07
jazakumullah khairan katsiran ....
mridho wrote on Jun 6, '07
Afwan, bukan insilah tapi islah akhi :)
ber-islah, melakukan perbaikan semampu yang antum lakukan, baik diri, klrga, lingkungan atau jama'ah.
mengenai hasilnya serahkan kpd Allah
Syayidina Ali RA pernah berkata,"Keruhnya berjama'ah masih lebih baik dari bersihnya sendirian"
so... tsummastaqoomu....
salam kenal
ridho
http://mata-mata.blogspot.com/
agussur wrote on Jun 7, '07
mridho said
insilah tapi islah akhi :)
Maaf, kadang orang akan care dengan perbaikan yang kita ajukan kalo kita mengajukan hal yang radikal, setelah sindiran, kritikan halus sampe yang kasar tidak berhasil....
alfurqoni wrote on Jun 24, '07
Disatu sisi kadang kita malu, kita aja masih begini tapi berani beraninya berdakwah. disisi lain meinggalkan dakwah adalah kesalahan dan kemaksiatan, karena wajibnya dakwah sama dengan wajibnya mencari dan mengamalkan ilmu.
Semoga kita diberi hidayah dan dimudahkan untuk mencari, mengamalkan dan mendakwahkan ilmu. Allohumma yassir 'alaina umurona umuroddunya wal wal akhiroh
agussur wrote on Jun 25, '07
Trimakasih pak Furqon...., saya sedang mencoba untuk memperbaiki diri ... tak tergantung pada orang lain . . .
thereal8 wrote on Nov 14, '07
salam kenal...
fenomena..realita..pahit katakanlah manis..
maka semangat itu insAllah akan menguatkan...
JIKA YANG BERPIKIR HANYA SATU...TAPI BAGAIMANA JIKA SEPULUH...? SERATUS..BAHKAN...NAUDZUBILLAH MIN DZALIK...SEMUA.....\????!!!!!1
akhmadsekhu wrote on Nov 22, '07
Salam Kenal....
ehenmaru wrote on Jun 2
Allahu Yaa Kariim...
dalam Islam, memang hanya ada dua pilihan....
Hitam atau Putih...
Haq atau Bathil...
Iman atau Fujur...
tidak ada yang namanya abu-abu...
sehingga ketika kita tahu, bahwa yang haq itu akan tetap haq dan yang bathil itu bathil, maka jelaslah sudah ada dipihak mana orang-orang yang beriman...
kita memang kudu berhusnudzhon lebih... sejalan dengan besarnya dakwah ini... dulu, kita masih akrab dengan iqab-iqab karena amal yaumiyah tidak sesuai standar... namun sekarang...
kita sudah meringankan hal-hal yang jelas-jelas haram, syubhat tidak terlalu dihiraukan...
dan bahkan ga sempat lagi mikir iqab-iqab yang begituan...

jadi, untuk insilah jangan dulu lah akhi...
walaupun ana tidak pengen mengatakan "sabar ya akhi... sabar, sabar..."
tapi, hanya kata 'sabar' itulah yang bisa membuat kita disayang Allah...

ada atau tidak ada kita... dakwah ini akan tetap jalan...
tapi sungguh rugi, kalau nama kita tidak disebut Allah sebagai orang-orang yang berdakwah di Jalan Allah...
ketika Allah memberikan kemenangan yang nyata bagi kita....
Allahughayatuna...
Allahuyanshurkum...

TETAP SEMANGAT!!
ALLAHUAKBAR!!
agussur wrote on Jun 2
hanya kata 'sabar' itulah yang bisa membuat kita disayang Allah...
Amin. Syukron Jazakkallahu atas nasehatnya..
priyodjatmiko wrote on Jul 9
Akhi, jangan insilah, tapi bikinlah perbaikan di tubuh jamaah...

seandainya tiap orang yang kritis kemudian keluar, maka jamaah hanya akan diisi oleh orang-orang yang taqlid, jika kader yang punya kemampuan untuk melihat masalah keluar, maka jamaah tidak akan pernah sadar bahwa dirinya bermasalah... jika dakwah adalah perahu, penghuni bagian bawah melubangi dasar perahu agar lebih mudah mendapatkan air, kata Rasul, kalau penghuni bagian atas tidak menghentikan, perahu akan tenggelam, jika penghuni kapal bagian atas tidak sabar untuk memperingatkan penghuni kapal bagian atas, lalu memilih meloncat keluar, mereka mungkin selamat, seandainya menemukan kapal lain yang bergerak kearah yang sama, mereka mungkin selamat, seandainya cukup kuat untuk berenang sendirian ke tujuan, tapi saudara-saudaranya dan perahu yang dulu dia tumpangi, akan tenggelam...

Akhi, masalah dalam jamaah terjadi karena salah kita juga... jika jamaah semakin longgar dalam bersyariat, bukankah kita sebagai pribadi-pribadi juga yang memulai kelonggaran dalam syariat itu? kitalah yang pertama-tama suka mendengarkan musik dan meninggalkan Quran, kitalah yang mulai suka berinteraksi dengan lawan jenis, kitalah yang pertama-tama meninggalkan sholat berjamaah lalu meninggalkan sholat awal waktu, kitalah yang pertama-tama suka membolos halaqah, enggan datang ke majelis ilmu, kita yang awal bermasalah, dan merasa tenang karena toh jamaah masih memiliki qiyadah-qiyadah yang berilmu tinggi, berakhlaq tinggi, lalu kita bersikap meremehkan dosa-dosa kita karena merasa ada orang lain yang akan mengemban kapasitas ruhiyah jamaah... lalu -Laa haula wala quwwata illa billah- para qiyadah kita pun ikut terkena penyakit duniawi seperti kita dulu memulainya... Ya akhi, dimanakah tanggung jawab kita?

Akhi, mohonlah tetap berada dalam jamaah, peringatkanlah saudara-saudara kita, qiyadah-qiyadah kita, peringatkanlah dengan keras, lawanlah dengan teguh, tapi tunjukkanlah bahwa kita tetap mencintai jamaah, bahwa kita tetap bersama-sama jamaah, kita berkata keras karena kita cinta pada jamaah, karena jamaah memerlukan orang-orang seperti antum ya akhi...
agussur wrote on Jul 9
Akhi, mohonlah tetap berada dalam jamaah, peringatkanlah saudara-saudara kita, qiyadah-qiyadah kita, peringatkanlah dengan keras, lawanlah dengan teguh, tapi tunjukkanlah bahwa kita tetap mencintai jamaah, bahwa kita tetap bersama-sama jamaah, kita berkata keras karena kita cinta pada jamaah, karena jamaah memerlukan orang-orang seperti antum ya akhi...
Doakan ane ya
enamelku wrote on Jul 23
salam kenal...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.